Site icon Berita Kota Makassar

Gunung Bawakaraeng Bukan Untuk Tempat Upacara Agustusan dan Sumpah Pemuda

GOWA, BKM — 14 organisasi kemahasiswaan Politani Pangkep dan Forum Mahasiswa Maros yang tergabung dalam Forum Intelektual Selatan Sulawesi (FISS) menyatakan dukungannya terhadap status perlindungan heritage (warisan) yang akan dilakukan oleh Unesco.

Unesco atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization merupakan badan khusus PBB yang memiliki lima program utama yakni pendidikan, ilmu alam, ilmu sosial, dan manusia, budaya, serta komunikasi, dan informasi. Salah satu yang diwenangi Unesco itu adalah mengamankan warisan budaya dan alam.

Hal ini disampaikan oleh Koordinator Komunikasi FISS Wilayah Pangkep-Maros, Rizal dalam forum diskusi Menuju Gunung Bawakaraeng Heritage dengan tema ‘Warisan Leluhur yang Terabaikan’ yang berlangsung di auditorium kampus Politani Pangkep, Rabu (23/5/2018) kemarin.

Dalam forum diskusi itu, sekira 14 organisasi mahasiswa Politani Pangkep dan Forum Mahasiswa Maros yang dilibatkan dalam dialog dirangkai pementasan seni. Gabungan organisasi mahasiswa itupun sepakat membuat pernyataan mendukung penuh rencana Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan untuk menuju Gunung Bawakaraeng heritage.

“Kami sangat mendukung rencana pemerintah Kabupaten Gowa terhadap upaya mengheritagekan Gunung Bawakaraeng tersebut,” kata Rizal.

Dikatakannya, kegiatan dialog ini merupakan upaya untuk memperkuat pemahaman lintas generasi baik dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum untuk memperdalam pengetahuan tentang tanah warisan leluhur sehingga dapat dilestarikan dan dipertahankan seperti halnya keberadaan gunung Bawakaraeng tersebut.

Aqsa Syahril selaku Ketua Himpunan Pelajar Pemuda Mahasiswa Indonesia Maros mewakili organisasi pendukung dari Kabupaten Maros, berpendapat bahwa kerusakan yang terjadi di Gunung Bawakaraeng adalah pelajaran berharga yang seharusnya tidak boleh terjadi di tempat bersejarah lainnya.

“Rusaknya gunung Bawakaraeng akibat ulah manusia adalah pelajaran berharga bagi kita semua agar lebih menghargai tempat-tempat bersejarah lainnya. Mari segera kita lindungi dan jangan lagi sampai terjadi kerusakan di tempat lain,” ucapnya

Menurutnya, kerusakan gunung Bawakaraeng harus mendapat perhatian serius dari semua elemen masyarakat tanpa terkecuali khususnya masyarakat Sulawesi Selatan.

“Kalau kita lihat sejarah gunung Bawakaraeng dan segenap aktivitas adat (ajaran) Makassar yang berlangsung turun temurun di sana, itu dilakukan dari banyak wilayah bukan hanya Kabupaten Gowa termasuk dari Kabupaten Pangkep-Maros, sehingga demi kelestarian adat, maka sudah sepatutnya bagian-bagian yang terkait memiliki kesadaran untuk ikut memperjuangkannya,” kata Aqsa.

Sementara itu, Wakil Koordinator FISS, Aslam Azis menanggapi reaksi dari masyarakat umum terkait rencana Pemkab Gowa menutup aktivotas kunjungan di gunung Bawakaraeng Agustus mendatang.

Dikatakan Aslam, rencana tersebut adalah usulan utama yang diajukan FISS ke Pemkab Gowa untuk menyikapi aktivitas dan kunjungan yang terindikasi sangat merusak gunung Bawakaraeng seperti kegiatan pendakian massal pada 17 Agustus di puncak Bawakaraeng.

“Rencana itu adalah usulan yang diajukan berdasarkan hasil riset FISS yang telah disampaikan kepada bapak Bupati Gowa. Dan harapan FISS agar pemerintah setempat dapat segera menyikapi dengan tegas aktivitas kunjungan yang merusak dan tidak sesuai dengan fungsi dan kedudukan gunung Bawakaraeng seperti kegiatan 17 Agustus, pendakian dalam rangka sumpah pemuda dan kegiatan lainnya yang tidak sesuai dengan kedudukan gunung Bawakaraeng,” katanya.

Ditambahkannya, kerusakan gunung Bawakaraeng adalah liarnya perilaku pengunjung. Pengunjung atau pendaki kerap menyisakan sampah sehingga di gunung Bawakaraeng berserakan sampah sisa kemasan makanan dan minuman.

“Apalagi pada dasarnya memang tidak ada aturan yang jelas terkait etika kunjungan ke gunung Bawakaraeng yang sesuai dengan fungsi dan kedudukannya. Inilah yang harus segera dirumuskan bersama. Aturan atau etika kunjungan itu tentu saja bersandar dari fungsi dan kedudukan (sejarah) tempat itu, dan kegiatan seperti kegiatan 17 Agustus dan sejenisnya jelas sangat bertentangan,” kata Aslam pada dialog yang menghadirkan tiga pembicara dari FISS yakni Nevy Jamest, Dr Adi Tonggiroh dan Dr Andi Yaqub. (saribulan)

Exit mobile version