PASANGKAYU, BKM — Sejak memasuki bulan suci Ramadan, masyarakat di Kabupaten Pasangkayu kesulitan mendapatkan elpiji kemasan 3 kilogram (kg). Kelangkaan elpiji membuat harganya ditingkat eceran meningkat drastis.
Jika sebelum langka harganya sebesar Rp17.500 per tabung, tapi sejak mengalami kelangkaan, harganya menjadi Rp20.000 hingga Rp30.000. Kondisi ini tentu sangat menyulitkan masyarakat yang sangat membutuhkan elpiji 3 kg untuk memasak baik saat akan berbuka puasa maupun sahur.
Basri, salah seorang pemilik pangkalan elpiji di Pasangkayu, mengatakan, selama ini dirinya mendapat jatah dari Pertamina sekitar 300 sampai 500 tabung per minggu. Sehingga jumlah ini tentu tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang meningkat disaat bulan suci Ramadan ini.
Penjatahan pasokan dari Pertamina ini juga diakui, Wahidah, salah seorang pemilik pangkalan lainnya. Dikatakan, dengan jatah hanya 300 sampai 500 tabung per minggu, itu tidak akan mencukupi memenuhi kebutuhan masyarakat yang meningkat pada saat bulan puasa ini.
Menyikapi terjadinya kelangkaan ini, Pertamina bersama Disperindag dan Satpol PP melakukan operasi pasar elpiji 3 Kg di 12 titik kecamatan di seluruh Kabupaten Pasangkayu, Selasa (23/5).
Operasi pasar yang dilakukan secara bertahap ini diawali dengan 3 titik kecamatan di Kecamatan Bambalamotu, Bambaira dan Sarjo, dan dilanjutkan hingga Jumat, 25 Mei 2018 dengan alokasi masing-masing sebanyak 560 tabung elpiji 3 Kg.
Unit Manager Communication & CSR MOR VII, M Roby Hervindo, mengatakan, alokasi normal elpiji 3 Kg di Pasangkayu (Mamuju Utara) diberikan sebanyak 2.800 tabung per hari. ”Pada bulan Mei ini kami sudah menambah penyaluran elpiji 3 Kg sebanyak 7.280 tabung. Sehingga rata-rata penyaluran yang semula 2.800 tabung menjadi 3.248 tabung per hari. Khusus dalam operasi pasar ini, kami menyiapkan tambahan lagi sebanyak 6.720 tabung dengan alokasi per kecamatan masing-masing kecamatan 560 tabung,” ujarnya.
Dalam kegiatan operasi pasar ini, masyarakat di Kabupaten Pasangkayu dapat membeli elpiji 3 Kg sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) ditingkat pangkalan yakni Rp17.200 per tabung.
”Peningkatan konsumsi elpiji 3 Kg ini ditengarai terjadi akibat ‘rush buying’ atau masyarakat membeli dalam jumlah di atas normal. Karenanya dalam operasi pasar, untuk membeli elpiji 3 Kg setiap konsumen wajib menunjukkan Kartu Keluarga (KK) dan pemilik KK tidak dapat diwakili. Per KK maksimal hanya dapat membeli 1 sampai 2 tabung agar penyaluran elpiji subsidi kepada masyarakat miskin tepat sasaran dan merata,” jelas Roby.
Roby mengatakan, operasi pasar dilakukan sebagai upaya Pertamina bersama Pemda dalam menjaga dan memastikan kelancaran distribusi elpiji 3 Kg tepat sasaran bagi masyarakat miskin dan usaha mikro di Kabupaten Pasangkayu.
”Sebagai komitmen untuk kelancaran distribusi kepada masyarakat, Pertamina telah menyalurkan LPG 3 kg di Kabupaten Pasangkayu melalui 3 agen dan 58 pangkalan yang tersebar di berbagai kecamatan sesuai HET,” ujarnya.
Selain menggelar operasi pasar, untuk menertibkan penjualan elpiji yang tidak sesuai HET kepada konsumen, Pertamina bersama aparat setempat juga akan melakukan inspeksi ke agen dan pangkalan elpiji untuk memastikan elpiji yang ditujukan bagi rakyat miskin ini dijual sesuai HET.
”Jika ditemukan agen atau pangkalan yang menjual di atas HET maka kami tak akan segan langsung memberikan sanksi sesuai peraturan yang berlaku,” tandas Roby. Pertamina akan terus berkordinasi dengan Pemerintah Daerah, Disperindag serta pihak Kepolisian setempat dalam mengawasi distribusi LPG 3 Kg agar dapat tepat sasaran dalam pengunaannya. ”Untuk memeroleh LPG 3 Kg, kami mengimbau agar masyarakat membelinya di pangkalan ataupun SPBU dengan stok tersedia dan harga yang sesuai HET setempat. Adapun untuk pasokan dan harga elpiji di tingkat pengecer tidak dapat dikontrol Pertamina karena pengecer bukan lembaga penyalur resmi Pertamina,” ujar Roby. (ala/mir/c)
Elpiji 3 Kg Langka di Pasangkayu
