RAMADAN menjadi bulan yang paling ditunggu oleh umat muslim. Sebab, di bulan penuh berkah ini pintu rezeki terbuka. Setidaknya, hal ini juga dirasakan oleh kaum duafa.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
SALAH seorang yang menikmati indah berbagi di bulan ramadan adalah Abdul Mannang. Seorang tukang parkir yang melakoni pekerjaannya hanya ketika bulan ramadan tiba.
Di usianya yang telah menginjak 69 tahun, Abdul Mannang telah merasakan berbagai gejala penyakit. Mulai dari batuk-batuk hingga pusing berkepanjangan. Kondisi kesehatannya itulah yang membuatnya kini sulit bekerja berat.
Sebelum menjadi tukang parkir di bulan ramadan ini, Abdul Mannang tak memiliki pekerjaan tetap. Ia hanya biasa berkeliling pasar untuk mengharapkan bantuan dari para penjual di sana. Dirinya kadang diberikan sayuran untuknya makan.
“Keliling-keliling pasarja biasanya. Kan kalau ada penjual yang sisa jualannya, itumi yang nakasihka. Itumi yang biasa saya bawa pulang untuk makan anak-anakku,” tuturnya.
Mannang tinggal di Jalan Malengkeri 3 bersama anak-anaknya. Istri Mannang telah meninggal dunia. Kini ia hanya bersama dengan ketiga anaknya. Anak pertama dan anak ketiganya tak memiliki pekerjaan. Sedangkan anak keduanya hidup dari membantu pekerjaan orang lain.
“Anak keduaku itu kalau ada orang kerja, dia bantu-bantu. Begituji. Ituji nakerja. Semua putus sekolah, ndak mampuka biayai. Anak saya mampuji sekolah, tapi orang tuanya yang ndak mampu,” ucap Mannang.
Karenanya, hingga di usia senjanya kini, ia masih berusaha mencari sesuap nasi bagi keluarganya. Tak terkecuali saat ramadan seperti sekarang. Walapun berpuasa, Mannang tetap mencoba mengais nafkah. Semuanya dilakukan untuk mendapatkan rezeki yang halal.
Rumahnya terbuat dari beton yang cukup sederhana. Walaupun terbuat dari beton, namun semua bahannya bukan dari hasil ia beli sendiri. Melainkan dari bantuan para tetangga dan teman-temannya.
Saat ramadan seperti kini, Mannang menjadi tukang parkir di sebuah minimarket yang berada dekat rumahnya. Walaupun penghasilannya tak besar, ia tetap merasa bersyukur. Sebab uang yang ia dapatkan bisa digunakannya untuk sahur bersama keluarganya.
“Biasa dapatka, kalau bukan Rp15 ribu, Rp 30 ribu. Saya juga ndak bisami jaga seharian. Biasa kalau ndak enak perasaanku, terpaksa pulangka,” terang Mannang.
Uang itulah yang biasa ia belikan bahan makanan untuk sahur. Pria asal Galesong ini, mengatakan jika biasa ia makan sahur dengan ala kadarnya. Sayur bening dan nasi cukuplah baginya.
Ketika waktu berbuka puasa tiba, ada-ada saja yang memberinya makanan. Biasanya dari yang lewat di sekitar minimarket tempatnya menjaga parkiran.
Jika makanan yang diberikannya cukup, ia biasa membawanya pulang untuk dibagikan kepada anak-anaknya. Tak mengeluh, ia tetap bersyukur. (*/rus/b)
