PEREMPUAN Asnah memulai berjualan songkok berawal dari dagangan orang. Saat itu ia hanya disuruh untuk menjaga dagangan milik orang lain yang mempekerjakannya. Namun karena telah memiliki cukup kemampuan untuk berdagang sendiri, akhirnya ia membuat stand sendiri.
Laporan: NUGROHO
Dari hasil pekerjaannya menjaga dagangan orang itu, sedikit demi sedikit ia kumpulkan untuk menjadi modal. Sampai pada akhirnya sekitar 16 tahun yang lalu, ia bisa memulai usaha penjualan songkoknya sendiri.“Alhamdulillah sekarang bisa menghidupi keluarga,” katanya.
Selama 16 tahun itu, Asnah memiliki banyak cerita dalam menjual songkok. Uniknya, selama ini hampir tak ada cerita yang tidak mengenakkan. Asnah mengatakan semuanya berjalan lancar-lancar saja. Bahkan justru banyak berkah yang ia dapat.
Asnah tak menampik bahwa sedekah adalah hal yang seharusnya dilakukan saat Ramadan ini. Seperti contohnya ia pernah membantu seseorang yang ingin sekali membeli songkok.
Saat itu, Asnah melihat seorang pria tua yang sedang melihat-lihat standnya. Setelah bertanya ternyata ia ingin membeli, namun uangnya tak cukup. Karena merasa iba, Asnah kemudian memberikan saja songkok itu kepada pria tua ini.
Hal tak terduga terjadi beberapa hari setelah itu. Pria tua itu kembali dan memberikan Asnah beberapa oleh-oleh dari kampungnya. Oleh-oleh itu berupa buah-buahan seperti pisang, mangga, dan sebagainya. Hal ini tentu menjadi sebuah kesyukuran baginya karena terjadi di Bulan Ramadhan.
“Saya lupa itu orang darimana, intinya itu hari hanya kasian saja liat dia mau beli songkok tapi uangnya kurang. Setelah itu dia datang lagi bawa buah. Alhamdulillah, mungkin ini berkah Ramadan,” ucapnya.
Waktu yang diberikan Asnah untuk membuka standnya hanya dua bulan saja. Pemerintah kelurahan setempat hanya memberikannya ijin sampai selama itu saja. Sampai takbiran berbunyi, Asnah barulah menutup standnya.
Sedikit harapan sebenarnya Asnah impikan, yaitu memiliki toko sendiri. Ia mengatakan jika dirinya sejak dulu ingin membuka toko permanen untuk songkok-songkoknya. Jadi ia bisa menjual tiap hari, bukan hanya saat Ramadhan saja.
Namun sampai saat ini ia mengatakan belum cukup biaya untuk itu. Karena ia merasa untuk menyewa toko, biayanya cukup tinggi.
“Ada itu tempat di Alauddin juga, tapi tinggi bayaranperbulannya, saya belum sanggup. Saya masih liat-liat dulu bagaimana penjualan songkok kalau bukan Ramadan,” ujarnya.
Asnah adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Jalan Salemba Makassar. Ia tak memiliki pekerjaan saat bulan-bulan biasanya. Namun saat ramadan tiba, ia mendadak menjadi seorang pedagang songkok bersama suaminya.
Ibu empat orang anak ini bersama suaminya Muh Asri berdagang songkok tiap tahunnya. Ia mengatakan telah melakukan aktivitas itu sejak 16 tahun lalu. Sedari pagi hingga malam hari ia setia menjaga kiosnya.
“Lama mi saya jualan begini, ini kan musiman, kalau hari biasanya jarang ada orang yang mau beli, puasa pi baru banyak pembeli. Untuk tahun ini dari bulan April saya sudah jualan memang mi, tutup kios lagi kalau takbiran mi,” jelasnya.
Di kios yang berukuran kurang lebih 12 meter persegi ini, ia berjualan ditemani pula oleh anak-anaknya. Para kemanakannya pun ikut membantunya, menjadi karyawan di kios itu.
Ada bermacam-macam songkok yang dijual di kios milik Asnah dengan harga yang bervariasi. Mulai dari harga termurah yakni Rp 10 ribu, sampai yang paling mahal seharga Rp 300 ribu. Semuanya diperjualkan di kios ini dengan harga yang pastinya bisa ditawar.
Para pembelinya juga ternyata dari berbagai daerah. Selain orang-orang yang melintasi Jalan Sultan Alauddin, ternyata banyak juga yang sengaja datang ke kiosnya dari berbagai penjuru wilayah. Bahkan diakatan Asnah, ada pembeli juga yang dari Bantaeng.
“Iya banyak pembeli, ternyata itu bukan dari orang lewat saja, pernah ada pembeli yang bilang sengaja memang datang kesini. Bahkan juga itu ada pengorderku itu dari bantaeng,” kata Asnah.(nug)
