SEBOTOL minyak gosok dan kayu alat pemijat selalu menjadi teman Muh Fajrin mencari rezeki di pelataran Masjid Al Markaz sebagai tukang jasa pijat.
Laporan: ARIF AL QADRY
Libur sekolah di bulan suci ramadan dimanfaatkan oleh Fajrin bersama teman-temannya mengais rezeki. Setiap hari mulai pukul 12:00 siang hingga menjelang buka puasa pukul 17:00. Anak pertama dari pasangan orang tua Herman dan Halisa selalu berada di lantai satu Masjid Al Markaz melayani pengunjung masjid yang membutuhkan jasa pijat refleksinya.
Saat penulis berkunjung di Masjid Al Markaz, anak yang lahir di Makassar, 13 Juni 2006 itu nampak begitu semangat memijat pelanggannya. Jari jemarinya cukup kuat mengurut bagian-bagian tubuh pengguna jasanya dimulai dari kepala hingga kaki. Sesekali minyak gosok di tuang ke telapak tangannya lalu mengoleskan ke bagian-bagian tubuh.
Tidak ada durasi waktu yang diberikan kepada pengguna jasa pijatnya, jika pengguna jasa pijat sudah merasakan puas dan cukup, barulah Fajrin berhenti dan memasukkan kembali alat pijatnya ke dalam tas kecil berwana hitam.
“Saya pijat orang sampai merasa puas dan cukup, kalau belum puas saya masih lanjut. Jadi tidak ada ji berapa lama saya pijat dan termasuk tarif pijatnya. Cukup saja keikhlasan berapa yang diberi itu yang saya terima,” sebut Fajrin.
Agar bisa membawa pulang uang, Fajrin bersama teman-temannya harus berkeliling di pelataran masjid mencari jamaah atau pengunjung masjid yang sedang istirahat untuk menawarkan jasa pijat refleksinya. Ditolak telah menjadi hal biasa, dan ia juga tidak pernah memaksa orang-orang untuk menggunakan jasa pijat refleksinya.
Kebanyakan kata Fajrin, pengguna jasa pijatnya adalah orang tua. Di mana menginginkan pijatan-pijatan bagian kepala dan telapak kaki. Dikalangan itu pula cenderung memberikan uang yang lebih sebesar Rp15.000 sampai Rp30.000.
“Tidak menentu berapa banyak uang setiap hari yang bisa saya bawa pulang. Kalau hari biasa bisa sampai Rp40.000 dan hari jumat bisa sampai Rp70.000. Ada biasa bertanya lebih dulu berapa tarif pijat, dan disitu baru saya buka harga sebesar Rp4.000 dan kalau puas ki saya diberikan lebih biasa Rp10.000 sampai Rp30.000,” katanya.
Fajrin mengatakan, bulan suci ramadan memang bulan penuh berkah. Di mana pengguna jasa pijat meningkat dibandingkan hari-hari di luar bulan suci ramadan ini. Olehnya itu, waktu liburan sekolahnya dimanfaatkan dengan menjadi tukang pijat di Masjid Al Markaz.
“Kalau bukan bulan puasa sepi, jadi bulan puasa pi saya turun jadi tukang pijat sekalian cari tambah-tambah uang beli baju lebaran. Kalau hari biasa saya fokus belajar ji di rumah dan main-main sama temanku,” lanjutnya. (arf)
