SIDRAP, BKM — Virus Rubella atau campak Jerman adalah infeksi virus yang ditandai dengan ruam merah pada kulit. Rubella umumnya menyerang anak-anak dan remaja.
Berdasarkan data WHO, pada tahun 2016 di Indonesia terdapat lebih dari 800 kasus rubella yang sudah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.
Meski di Sidrap belum ada data laporan Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait virus Rubella. Namun Dinas Kesehatan Sidrap terus melakukan antisipasi dengan cara sosialisasi kampanye measles rubella (MR).
Kadis Kesehatan dan Pengendalian Penduduk dan KB (Dinkes PP dan KB) Sidrap, Dr HA Irwansyah, M. Kes dalam sosialisasi kampanye MR yang melibatkan sejumlah stakholder terkait di Hotel Sidny, Sidrap, Selasa, (5/6).
Menurutnya MR adalah suatu kegiatan imunisasi secara massal sebagai upaya untuk memutuskan transmisi penularan virus rubella pada anak usia 9 bulan sampai dengan 15 tahun, tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya.
“Program ini bertujuan untuk memutus transmisi penularan virus rubella. Dan merupakan salah satu program yang masuk dalam proyek prioritas nasional kesehatan,” ungkapnya.
Tujuan imunisasi adalah menurunkan angka kesakitan, kematian, serta kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
“Yang bahaya adalah jika ibu hamil terserang campak rubella, maka itu sangat berbahaya bagi kesehatan bayi jika lahir,” ujar Irwansyah.
Menurutnya, walau sama-sama menyebabkan ruam kemerahan pada kulit, rubella berbeda dengan campak. Penyakit ini biasanya lebih ringan dibandingkan dengan campak.
Tapi jika menyerang wanita yang sedang hamil, terutama sebelum usia kehamilan lima bulan, rubella berpotensi tinggi untuk menyebabkan sindrom rubella kongenital atau bahkan kematian bayi dalam kandungan.
WHO memperkirakan tiap tahun terdapat sekitar 100.000 bayi di dunia yang terlahir dengan sindrom ini. Sindrom rubella kongenital dapat menyebabkan cacat lahir pada bayi, seperti tuli, katarak, penyakit jantung bawaan, kerusakan otak, organ hati, serta paru-paru.
Diabetes tipe 1, hipertiroidisme, hipotiroidisme, serta pembengkakan otak juga dapat berkembang pada anak yang terlahir dengan sindrom ini. (Ady/C)
Dinkes Sosialisasi Virus Rubella
