MAKASSAR, BKM — Mantan Sekjen pertama The Macz Man yang kini menetap di Kota Palopo, Ishak ‘Anto’ Yswandi memprediksi jika dua besar di Pilgub Sulsel nanti akan menjadi pertarungan dua tokoh nasional.
Hal ini ia sampaikan, saat dijumpai di salah satu warkop di sudut Jalan Rambutan kota Palopo, Kamis (7/6/2018).
Anto, sapaan akrab pengamat yang pernah bekerja di Radio Bharata di Makassar ini mengatakan, bahwa berdasarkan hasil survei satu minggu terakhir ini menunjukkan jika dua tokoh nasional yakni Nurdin Abdullah dan Nurdin Halid sulit dibendung pergerakannya.
“Jujur saja saya katakan, jika di Pilgub Sulsel ini adalah pertarungan dua tokoh nasional versus dua tokoh daerah,” ucapnya tanpa merinci siapa tokoh daerah yang dimaksud.
Lanjut dia, dari rilis beberapa lembaga survei yang diekspos media, terlihat semakin mengerucut pada pertarungan dua tokoh nasional tersebut.
“Ada enam atau tujuh lembaga sudah merilis hasil surveinya, meski ini baru indikator awal, namun terbaca bagi kami jika antara Nurdin Halid dan Nurdin Abdullah selalu berada di jajaran dua besar alias top survei. Ini menandakan bahwa jaringan pemilih cerdas di Sulsel sudah terbentuk pada framing dimana hanya dua nama tersebut yang selalu muncul di layar kaca mereka, sehingga mindset publik sebenarnya sejak jauh jauh hari sudah terbentuk,” tandas founder program ‘PSM Mania Show’ di radio swasta di Kota Makassar itu.
Meski tersisa kurang lebih tiga minggu lagi hari H pencoblosan, namun agaknya, elektabilitas kandidat di Pilgub Sulsel cenderung stagnan, sehingga sulit bagi kandidat di posisi ke 3 dan 4 untuk merangsek naik, apalagi tak ada isu signifikan yang mampu mendongkrak elektabilitas dua tokoh lainnya untuk mencetak ‘poin’ meskipun isu negatif bahkan kampanye hitam selalu menerpa dua tokoh nasional yang berada di Top Survei tersebut.
“Praktis, sejauh ini, lewat isu-isu panas yang mendera dua tokoh nasional tadi, tidak serta merta mengangkat pamor dan elektabilitas kandidat lain, ini semacam anomali, masalahnya sangat kompleks mengapa bisa demikian, bisa jadi, tingkat kejenuhan masyarakat sudah mencapai puncaknya untuk memilih tokoh itu-itu saja, muncul kelompok kelompok anti dinasti, di samping kesalahan strategi yang dilakukan tim, bisa jadi juga karena faktor x, publik masih saja bersimpati pada kandidat yang terkesan ‘dizalimi’, sisa waktu yang ada ini harusnya jadi bahan evaluasi kandidat yang elektabilitasnya lemah,” kuncinya. (**)
