Site icon Berita Kota Makassar

Meski Haus dan Lapar Ia Sabar Melayani Pembeli

BANYAK pengalaman yang dirasakan Sari dalam menjual dagangannya. Mulai dari menahan haus dan lapar saat puasa, sampai harus pula menahan letihnya menghadapi para pelanggan.

Laporan: NUGROHO

Maklum saja, karakter para pelanggan yang dihadapinya tentu berbeda-beda. Ada yang tenang, ada juga yang cerewet. Ada yang tak banyak bertanya langsung membeli, ada juga yang banyak bertanya namun tak jadi beli. Ia pun telah terbiasa dengan kondisi seperti itu.
Saat Ramadan, ia menambah barang dagangannya. Yang semula hanya menjual sepatu, kini ia menjual pula berbagai jenis sandal. Karena katanya, saat menjelang Idul Fitri tiba, para pelanggannya tidak hanya mencari sepatu, namun juga sandal.
“Kalau mau mi lebaran biasa orang ndak hanya cari sepatu, mereka cari sandal juga biasa. Jadi kalau Ramadhan begini, saya juga jual sandal. Tapi itu sandal saya jual malam pi,” katanya.
Para pelanggannya pun dikatakan Sari berasal dari berbagai kalangan. Ada yang hanya sekedar lewat terus singgah membeli, ada juga yang sudah menjadi langganannya. Bahkan beberapa orang dari daerah juga kerap menyempatkan diri ke stand miliknya untuk membeli sepatu.
Pelanggan yang komplain menjadi makanan sehari-harinya. Ia tak memungkiri jika dalam berdagang jelas ada saja para pelanggan yang coba mengkomplainnya, entah itu dari barangnya sendiri atau dari pelayanan yang diberikan. Namun selama ini, ia selalu bisa menghadapinya.
Selain itu banyak juga beberapa pelanggan yang menawar berlebihan. Sari mengatakan jika seringnya sepatu maupun sandal yang ia jual, ditawar dengan harga dibawah harga modal yang ia keluarkan.
“Sering ji itu biasa, biasa sudah na tanya semua mi ini barang, na coba semua mi, tidak jadi na ambil. Pernah juga sepatu harga Rp 185 ribu, padahal sudah saya kasih murah mi Rp 150 ribu, tapi masih na tawar lagi jadi Rp 100 ribu, tentu mi ndak sesuai modal,” jelas Sari.
Satu-satunya yang menjadi halangannya selama ini adalah rasa kantuk yang tiba-tiba menghinggapinya. Apalagi saat ia sedang berpuasa. Namun seringnya pelanggan menyinggahi standnya, membuatnya tersadar dari kantuk.
Walaupun keuntungan yang ia dapatkan selama Ramadhan melimpah ruah, namun Sari tetap masih memiiki harapan sendiri mengenai tampat dagangannya. Ia ingin sekali memiliki toko sepatu sendiri. Hingga saat ini pun dirinya masih terkendala soal biaya sewa toko jika ingin mengambil tempat di sekitar tepat jualannya sekarang.
Selain sepatu dan sandal, harapannya selanjutnya adalah memperbanyak lagi jenis dagangan yang ia jual. Sari punya keinginan berdagang tas dan pakaian. Hal ini supaya beberapa kebutuhan fashion menjelang Idul Fitri bisa dipenuhi ditempatnya.
Sari telah melakoni pekerjaannya ini sejak 2009 lalu. Sehari-harinya memang inilah kesibukannya, tak ada yang lain. Hanya saja setiap Ramadhan tiba, Sari selalu mengerahkan tenaganya lebih besar untuk menjual sepatu dagangannya. Faktor berpuasa dan meningkatnya pembeli saat ramadan, menjadi semangatnya sendiri.
Selama bertahun-tahun, Sari telah beberapa kali memindahkan standnya. Jika ditempatnya jarang ada pembeli, maka ia mengevaluasi lagi untuk pindah tempat mencari yang lebih baik. Di Jalan Hertasning saja, baru sekitar setahun ia disana.
Wanita 27 tahun ini tak bisa menutupi kesyukurannya ketika bulan ramadan tiba. Ia mengatakan, penjualan saat Ramadhan benar-benar meningkat signifikan. Hal ini pula lah yang menjadi motivasi dirinya untuk terus berjualan sepatu.
“Biasa dalam sehari Alhamdulillah saya dapat sekitar Rp 1 juta rupiah, kalau Ramadan lebih meningkat lagi, biasa dapat sekitar Rp2 juta,” kata ibu dari dua orang anak ini.
Saat ramadan tiba, orang yang mencari sepatu dikatakan Sari memang meningkat. Bahkan orang dari berbagai daerahpun singgah membeli sepatu-sepatunya. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri baginya untuk bisa terus melayani para pelanggannya itu.
Salah satu bentuk pelayanan yang ia berikan adalah membuka standnya seharian penuh, atau selama 24 jam selama sehari, atau tak pernah tutup. Karena Sari mengatakan, bukan hanya siang maupun sore hari saja orang yang datang mencari sepatu. Subuh dini haripun biasa masih ada orang yang sengaja singgah di standnya.
“Biasanya kan kalau hari biasa saya buka siang jam 2, tutup jam 12 malam. Kalau ini biasa subuh orang ada juga yang datang, pagi juga, jadi saya buka terus 24 jam,” katanya.
Saat ramadan ini pula ia membagi tugas dengan adiknya untuk menjaga stand. Selain itu ia juga mempekerjakan satu karyawan untuk membantu melayani para pembeli yang datang.
Bulan ramadan menjelang Idul Fitri merupakan saat dimana puncaknya penjualan sepatu milik Sari sedang tinggi-tingginya. Bahkan keuntungan yang diperolehpun bisa lebih dari saat ini.
“Sekarang ini masih terlihat belum sebesar tahun lalu. Puasa tahun lalu itu, apalagi menjelang lebaran, lebh banyak lagi keuntungan,” ucapnya.(*)

Exit mobile version