Site icon Berita Kota Makassar

Panas Terik tak Menghalangi untuk Berpuasa

TERIK mentari di kala berpuasa, tak membuat Dg Hendrik mengendurkan semangatnya untuk mencari nafkah. Malah menjadi pelecut baginya untuk mengais rezeki halal di bulan yang suci ini.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

MELEWATI Jalan Dg Tata, tepat di depan gerbang Perumahan Hartaco Indah, terlihat seseorang yang sedang mengatur lalulintas di sana. Dengan rompi oranye, pakaian lusuh, dan sandal jepit, ia dengan semangat mengatur laju setiap kendaraan yang lewat.
Padahal siang itu cuaca begitu amat panas. Kondisi seperti ini sudah kerap dirasakan Dg Hendrik yang bertindak selaku Pak Ogah. Tampak dari warna kulitnya yang hitam legam, sebagai akibat dari paparan sinar matahari.
Namun saat ditanya tentang hal itu, dengan santai ia menjawab bahwa panasnya cuaca sudah tak terasa baginya.
Di bulan ramadhan ini, dirinya tetap menjalankan ibadah puasa. Walaupun usianya telah menginjak 55 tahun, namun dirinya masih tetap bertenaga di tengah suasana kota yang panas dan berpolusi ini. Ia mengatakan, demi rezeki yang halal, dirinya siap bekerja apapun yang ia mampu.
Pria asal Malino ini tinggal di Jalan Dg Tata 1 bersama istri dan dua anaknya. Sejak setahun lalu, istrinya bekerja di salah satu tempat laundry untuk membantu ekonomi keluarga. Anak pertamanya bekerja sebagai buruh batubata.
Anak kedua Dg Hendrik masih sekolah di jenjang SMA. Walaupun hidupnya sulit, namun ia begitu memperhatikan pendidikan anak keduanya ini. Tiap hari ia bekerja keras untuk terus memenuhi kebutuhan sekolahnya, supaya kelak bisa mendapat pekerjaan yang layak.
Tiap pukul 09.00 Wita, Dg Hendrik sudah harus berjalan kaki dari rumahnya ke depan gerbang Perumahan Hartaco Indah. Seakan-akan kemacetan di area itu menjadi tanggungjawabnya. Ia mulai mengatur supaya masyarakat yang lewat tak mengalam macet berkepanjangan.
Penghasilannya pun tak seberapa. Ketika bisa membawa pulang uang sekitar Rp30 ribu, ia sudah amat bersyukur. Baginya, rezeki itulah yang menjadi hak untuk dirinya bisa menafkahi keluarga.
“Kadang kalau orang lewat kasihka Rp2.000. Kadang juga ndak dikasih. Ndak apa-apaji. Alhamdulillah, biasa ada dibawa uang Rp 30 ribu, senang sekalima,” tutur Dg Hendrik.
Tepat pukul 17.30 Wita, atau sebelum waktu buka puasa tiba, ia pulang ke rumah untuk berbuka bersama keluarganya. Beberapa orang kerap memberinya makanan berbuka. Itulah yang biasa ia bawa pulang untuk disantap bersama istri dan anaknya.
Sisa uang yang didapatkan Dg Hendrik dibelikannya berbagai makanan untuknya sahur. Nasi, ikan, dan sayur menjadi makanan sehari-harinya. Sahur maupun berbuka di ramadhan tahun ini, Dg Hendrik selalu menyempatkan bersama keluarga.
Hingga kini pun Dg Hendrik mengaku jika dirinya tak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah, walupun dirinya begitu mengharapkan. Namun untungnya, beberapa orang yang peduli dengan kehidupannya kerap memberi bantuan. Terutama saat ramadan tiba.
“Biasa dari orangji. Ada yang kasih sirup, sarung, beras. Tidak sering, tapi Alhamdulillah bisa sedikit nabantuka,” tutupnya. (*/rus/b)

Exit mobile version