Site icon Berita Kota Makassar

Ada Dermawan Beri Nasi Bungkus dan Uang

BULAN suci Ramadan dimanfaatkan sebagian orang untuk beramal dan mengais rezeki. Kesempatan itu, tak disia-siakan sejumlah pemulung atau payabo. Seperti yang dilakoni Dg Tia.

Laporan: JUNI SEWANG

Berdasarkan pantauan penulis, beberapa kawasan mulai dipenuhi oleh pemulung dan pengemis. Seperti yang terjadi di Jalan Hertasing, pusat pertokoan Mal Panakukang.
Mereka cukup terlihat saat siang hari, mendorong becak berisi kardus dan botol mineral. Dalam becak juga tidur bocah laki-laki dan perempuan beralaskan kardus bekas dan karung seadanya.
Dg Tia mengatakan, sudah setahun ini dirinya berada di Kota Makassar. Ia bersama suami dan anaknya mencoba nasibnya di kota daeng. Bila siang hari, suaminya pergi bekerja sebagai buruh bangunan sementara Dg Tia dan anaknya memulung sampah.
“Yah lumayan dek, buat makan besok pagi, dan tabungan untuk Lebaran nanti,” tuturnya.
Tak hanya keluarga Dg Tia, beberapa orang lainnya juga terlihat di Jalan Hertasing mencari rezeki dengan memulung.
Kondisi ekonomi ini dijadikan alasan mereka untuk memulung. Dg Tia mengaku tak malu dengan pekerjaan yang dilakoni.
Alasan mereka memilih Ramadan menjadi bulan favorit untuk mendulang rezeki ini, pasalnya mereka berkeyakinan jika momen bulan suci adalah bulan yang tepat untuk berbagi atau bersedekah.
Selama bulan Ramadan, dan memasuki minggu, Dg Tia tengah mengumpulkan penghasilannya, bila hari biasa penghasilan Dg Tia Rp20 sampai dengan Rp30 ribu, selama bulan Ramadan dirinya menghasilkan Rp30 sampai Rp50 ribu, dan tidak jarang berapa minggu terakhir menghasilkan hingga Rp100 ribu hasil dari pemberian dermawan.
“Alhamdulillah selama puasa orang banyak kasi kasi rezeki seperti makanan, kasiki baju, dikasiki juga uang. Saya kadang bawa pulang uang Rp100. Kalau makanan saya bawa pulang untuk sahur,” tuturnya.
Bukan hanya Dg Tia yang nampaknya menikmati bulan berkah, ini hampir seluruh pemulung sekitar rumahnya menuai rejeki bulan suci Ramadan.
“Biasa juga di rumah (kampung Savana) datang dermawan bagi bagi sembako kalau maumi lebaran,”kata Dg Tia.
Ia mengaku, awalnya ia berada di Makassar dari tempat asalnya di Kabupaten Jeneponto tahun 2017 lalu. Saat itu, ia mengikuti suaminya yang berprofesi sebagai buruh harian. lokasi tempat ia tinggal merupakan kawasan pemulung Jalan Hertasning baru (kampung savana/kampung pemulung), bila suami berangkat bekerja sebagai buruh bangunan, Dg Tia tidak memiliki kegiatan.
Melihat kegiatan keseharian para ibu-ibu pemulung mengumpulkan barang bekas dan menimbangnya, akhirnya Dg Tia tertarik untuk ikut mencoba memulung.
“ke Makassar ikuti suami berprofesi tukang batu. Kalau pergimi kerja tidak adami saya bikin. Mau jadi tukang cuci di rumahnya orang tidak ada yang panggil. Di rumah tidak ada dibikin,” ungkapnya.
Untuk menghilangkan kebosanan di rumah, ia ikut sama tetangga pergi yabo (mulung) pakai karung dan menggunakan fasilitas becak. Bahkan, ia membawa anaknya bersama-sama memulung, setelah anaknya diserahkan neneknya di Jeneponto.”Jadi di Makassar anak tidak sekolah, mereka ikut yabo sama saya,” kata Dg Tia.
Becak mereka peroleh setelah meminta suaminya untuk membuatkan gerobak becak untuk digunakan memulung.
“Ini becak dibuat suamiku. Becak ini kupake sama sama anakku yabo, tidak jalan kaki maki. Biasa kalau yabo sama sama banyak kudapat, biasa ada juga orang di jalan kasi makanan dan uang. Mungkin kasian karena diliat bawa anakku,” ungkapnya.
Demi mencari nafkah bagi keluarganya, Tia bekerja siang dan malam. Dari pagi sampai sore, dia mengumpul barang bekas di jalan maupun tempat sampah.
Menurutnya dalam sehari ia bisa mengumpulkan 3-4 karung sampah yang terdiri dari plastik botol minuman dan barang-barng lain. Sampah-sampah itu lantas mereka bawa pulang ke rumah untuk dipilah. Dari hasil memulung, ia bisa mendapatkan penghasilan Rp 30- 40 ribu. Uang itu mereka pergunakan untuk menghidupi keluarga dan anaknya. “Ya uangnya untuk kebutuhan belanja dan keperluan rumah tangga,” kata Dg Tia.(*)

Exit mobile version