Site icon Berita Kota Makassar

Takut Penyakit, Pisahkan Baju Konsumen saat Dicuci

KADANGKALA ibu-ibu rumah tangga tak tertarik membawa pakaiannya ke laundry.Mereka lebih memilih mencuci sendiri meski badan terasa sakit.Apalagi, mereka takut saat dicuci di laundry pakaian mereka bercampur dengan pakaian orang lain yang memiliki penyakit kulit.

Laporan: JUNI SEWANG

Memang kita tidak mengetahui langsung, proses pencucian pakaiannya. Menggunakan air yang bersih atau tidak. Dicampur dengan pakaian orang lain atau tidak?.
Ketakutan itupun dijawab Erfina Salwati Alam, pemilik usaha laundry kiloan. Ibu rumah tangga yang memiliki satu orang anak ini, mengaku jika proses pencucian pakaian dalam mesin tetap dipisah dengan pkaian konsumen lainnya.Bahkan setiap pakaian milik konsumen diberikan label nama.
“Kalau ada yang datang, pakaiannya ditimbang, dan diberi label nama, pencuciannya terpisah, dan konsumen yang memiliki pakaian yang warnanya mudah luntur juga kami pisah dengan pakaian lain. Jadi pakaian diupayakan tidak ada yang tertukar,” ungkapnya.
Untuk pencuciannya sendiri Fina sapaan akrabnya mengaku menggunakan air sumur bor, yang dilengkapi alat penyaringan penjernih air.”Pakai sumur bor, kami pakai tabung penyaring, jadi hasil air jernih, tidak berbau,” tuturnya.
Sebelum meniti karier di usaha laundry, Fina sempat mengeyam pendidikan di Jurusan Kebidanan di Kampus Mega Rezky. Hanya saja, pendidikannya tidak sampai selesai dan mengurungkan niatnya untuk menjadi bidan.
Ia meninggalkan dunia pendidikan karena tertarik hingga disibukkan dengan pekerjaannya sebagai sales promotion girl (SPG). Iapun memutuskan untuk menikah, dan membuka usaha bersama suaminya.
Bahkan bisnis laundry sangat membantu keuangan rumah tangganya.
Di akhir tahun 2017 dirinya dan suaminya memutuskan untuk menyewa sebuah ruko senilai Rp40 juta pertahun, dengan bermodalkan pinjaman dari bank. Uang pinjaman itu ia membeli dua mesin pengering cucian yang bekas, tiga unit mesin cuci, dimana modal awal untuk membuka usaha laundry sendiri Rp25 juta.
“Awalnya sewa-sewa pelataran ruko membuka usaha konter pulsa. Usaha pulsa berjalan baik, saya membuka usaha laundry dengan meminta pemilik ruko untuk saya lanjutkan sewa rukonya. Saya dikasih harga Rp40 juta pertahun,” jelas Fina ibu rumah tangga muda yang saat ini masih berusia 21 tahun.
Fina juga bersyukur, usahanya menunjukkan perkembangan yang baik dalam waktu delapan bulan, dirinya dapat membeli mesin baru sebanyak dua unit.
“Jumlah tenaga kerja awalnya tiga orang, dua mencuci dan satu orang menyetrika. Saya juga turun tangan. Berjalan waktu, sudah kelihatan hasilnya, bisa menambah mesin cuci baru dua unit dan satu unit mesin pengering. Bahkan pegawai saya tambah menjadi empat orang,” tuturnya.
Dari penambahan mesin baru sebanyak dua unit mesin cuci, Fina dapat penghasilan Rp800 ribu hingga Rp1 juta per hari.
“Mesin nambah, karyawan nambah, insentif karyawan lebih dari Rp1 juta/bulan, pemasukan laundry kalau hari Senin bisa sampai Rp1 juta, itu yang saya syukuri. Apalagi,pengeluaran dalam sebulan belanja keperluan laundry kurang lebih Rp3-4 juta, jadi dalam sebulan penghasilan bersih bisa mencapai Rp18-20 juta,” ungkapnya. (*)

Exit mobile version