MAKASSAR, BKM — Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak telah digelar di Sulawesi Selatan. Para pemimpin baru telah terpilih dari pesta demokrasi lima tahunan ini.
Pemilihan gubernur se-Sulsel, serta pilwali dan pilbup pada 12 kabupaten/kota sukses dilaksanakan, Rabu (27/6). Kontestasi inipun melahirkan pasangan gubernur dan wakil gubernur baru versi hitung cepat (quick count). Termasuk pemimpin baru di tingkat kabupaten.
Untuk calon gubernur dan wakil gubernur, pasangan HM Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman meraih perolehan suara tertinggi. Duet yang diusung PDIP, PAN dan PKS ini mengalahkan tiga rivalnya. Masing-masing pasangan HM Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz). Agus Arifin Nu’mang-Tanribali Lamo (Agus-TBL). Dan Ichsan Yasin Limpo-Andi Muzakkar (IYL-Cakka).
Enam lembaga survei melalukan quick count di pilkada Sulsel. Masing-masing Saiful Mujani Research Center (SMRC), Lembaga Survei Indonesia (LSI), Celebes Research Center (CRC), Indeks Politika Indonesia (IPI), Jaringan Suara Indonesia (JSI)) dan PT LSI (Lingkaran Survei Indonesia).
Versi IPI, memastikan jika pasangan NA-ASS telah memenangkan kontestasi. Pasangan nomor urut tiga ini unggul jauh dari tiga rivalnya berdasarkan hasil hitung cepat yang dilakukannya di Swiss Bellinn Hotel, kemarin.
Hasil hitung cepat untuk pasangan NA-ASS sebesar 41,7 persen. Sementara posisi kedua ditempati pasangan Nurdin Halid-Abdul Azis Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz) dengan 28 persen.
Adapun pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) harus puas berada di peringkat ketiga dengan 21,4 persen. Sementara posisi buncit ditempati pasangan Agus Arifin Nu’mang-Tanribali Lamo (Agus-TBL), dengan prediksi perolehan suara hanya 9 persen.
Pada saat persentase raihan suara ini ditulis, jumlah data yang masuk sebanyak 88,9 persen. Dengan margin of error +/- 1 persen.
“Melihat hasil hitung cepat, serta mempertimbangkan selisih suara antarpaslon, maka tanpa bermaksud mendahului Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang akan menggelar real count. IPI memprediksi pasangan NA-ASS menang telak pada pilgub hari ini,” ujar Direktur Eksekutif IPI Suwadi Idris Amir, kemarin.
Menurut Suwadi, hitung cepat adalah salah satu cara memprediksi hasil pemilu dengan menjadikan hasil perhitungan suara di sebagian TPS sebagai sampel, untuk mewakili seluruh populasi TPS di lokasi di mana pemilu dilaksanakan.
Dalam hitung cepat pilkada Sulsel, IPI menggunakan sampel 5.999 TPS (35 persen) dari total 17.140 TPS yang tersebar secara proporsional di 24 kabupaten/kota se-Sulsel.
Lembaga lain, yakni SMRC menempatkan NH-Aziz dengan raihan suara sebesar 28,2 persen, Agus TBL 9,2 persen, NA-ASS 43,6 persen dan IYL-Cakka 19,0 persen. Adapun data yang masuk mencapai 75,67 persen.
Sementara PT LSI menempatkan pasangan NH-Aziz 27,0 persen, Agus-TBL 9,9 persen, NA-ASS 42, 2 persen dan IYL-Cakka sebesar 20,9 persen. Data masuk telah mencapai 85,57 persen.
Lembaga yang dipimpin Herman Heizer, CRC menempatkan pasangan NH-Aziz 30,06 persen, Agus-TBL 9,09 persen, NA-ASS 45,01 persen dan IYL-Cakka 16,09 persen. Persesentase suara masuk sebesar 44 persen.
Forkopimda Pantau Pencoblosan
Penjabat Gubernur Sulsel Sumarsono turun langsung meninjau pencoblosan di sejumlah kabupaten/kota, kemarin. Ia bersama Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen Agus Surya Bakti. Kapolda Sulsel Irjen Pol Umar Septono. Ketua DPRD Sulsel HM Roem.
Ada pula Ketua Bawaslu Sulsel Laode Arumahi. Panglima Komando Operasi TNI AU (Pangkoopsau) II Marsekal Muda (Marsda) TNI Fadjar Prasetyo, Serta Ketua Pemantau Pilkada Kemendagri Yusharto.
Soni Sumarsono bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulsel serta Ketua KPU Sulsel pada pukul 07.50 Wita, melakukan peninjauan di TPS 15 Kelurahan Banta-bantaeng, Kecamatan Rappocini. Di TPS dengan jumlah 374 daftar pemilih tetap (DPT) ini, hadir pula Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto.
Selanjutnya, pada 08.15 Wita, Soni dan rombongan melakukan peninjauan di TPS yang berada di Lapas Kelas 1 Makassar. Di tempat ini terdapat dua TPS dengan jumlah total 924 DPT. Pada TPS 27 dan TPS 28 masing-masing sebanyak 462 orang.
Kemudian pada pukul 09.35 Wita, Sumarsono dan Forkopimda Sulsel take off menggunakan helikopter jenis Super Puma H-3211 terbang ke Kabupaten Sidrap. Di sana, rombongan meninjau pelaksanaan pemungutan suara di TPS 01 Kecamatan Maritanggae pukul 10.00 Wita.
Peninjauan dilanjutkan dengan mengunjungi TPS 01 Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto pada pukul 11.00 Wita.
Usai melakukan peninjauan, Soni menuju ke sekretariat desk pilkada di ruang kerja Penjabat (Pj) Sekretaris Provinsi Tautoto Tana Ranggina. Di sana,Soni melaksanakan video conference dengam tim dari Kementerian Dalam Negeri.
Soni melaporkan, secara umum proses pilkada di Sulsel berjalan lancar. “Alhamdulillah, Pilkada di Sulsel berjalan cukup lancar. Sekitar 90 persen berjalan lancar,” ungkap Soni.
Namun, lanjut dia, ada sejumlah kendala yang dihadapi. Seperti di Kabupaten Bone, ada sejumlah TPS yang tergenang air akibat curah hujan yang cukup deras.Akibatnya, TPS harus dipindahkan.
Sementara di Kabupaten Wajo, ada beberapa TPS di sekitar Danau Tempe juga terendam air hingga setinggi dada. Sehingga diputuskan untuk membuat TPS terapung di daerah tersebut.
Terkait logistik pilkada, seluruhnya bisa tiba dan terdistribusi dengan baik di seluruh lokasi pemilihan. Walaupun ada beberapa lokasi yang agar terlambat karena kondisi yang tidak memungkinkan.
Sementara itu, terkait kisruh yang terjadi di Kabupaten Sinjai, Soni melaporkan jika KPU mendiskualifikasi pasangan nomor urut 2 sehari sebelum pencoblosan karena persoalan administrasi.
Pasangan nomor urut 2, Sabirin Yahya-Andi Mahyanto Masarappi didiskualifikasi karena terlambat lima menit memasukkan laporan pertanggungjawaban dana kampanye.
Namun, Soni menegaskan keputusan yang dikeluarkan KPU Sinjai itu belum inkra. Pemprov, Bawaslu, dan KPU memutuskan memberi waktu selama tiga hari bagi pasangan calon tersebut melakukan banding.
“Kalau dalam waktu tiga hari tidak melakukan banding, baru sifatnya inkra, ” kata Soni.
Direktur Jenderal Otonomi Daerah itu juga sangat menyayangkan kisruh yang terjadi di Sinjai. “Masyarakat diharapkan menyikapi persoalan ini secara bijaksana. Kita sebenarnya mengharapkan demokrasi yang substansinya menang dan kalah di TPS. Bukan karena persoalan substantif, ” jelasnya.
Soni menekankan, dirinya tidak ingin ada perpecahan yang terjadi. “Saya tidak ingin ada setetes daerah mengalir di Sulsel karena pilkada,” tegasnya. (ita-arf-rhm/rus)
