SEBAGAI mahasiswa, harus dituntut untuk kreatif supaya bisa mandiri dan tidak hanya mengandalkan kiriman dari orang tua. Para mahasiswa pasti ada yang memikirkan bagaimana caranya berbisnis sambil tetap kuliah. Namun Syahadat sudah melakukannya dengan berjualan sepatu.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Berbekal kreativitas, jeli melihat peluang, dan berani mengambil risiko, menjadi kunci bagi Syahadat untuk berbisnis.Apalagi, masa-masa kuliah adalah menjadi saat yang tepat untuk memulai bisnis. Sebab mahasiswa suatu saat akan menghadapi tantangan dunia kerja sehingga akan lebih baik mempersiapkan diri sedari awal.
Menurut Syahadat kepada penulis, bisnis bagi mahasiswa bukan hanya menambah uang saku, tetapi sebagai modal dan pengalaman yang dapat dijadikan pilihan setelah lulus kuliah. Dengan berbisnis, mahasiswa tak lagi dipusingkan dengan urusan keuangan sebelum lulus dan tidak akan pusing mencari-cari pekerjaan setelah lulus.
Apalagi, waktu libur, ujar mahasiswa Pascasarjana Jurusan Perbandingan Mahzab dan Hukum, UIN Alauddin, menghabiskan waktu libur dengan bisnis jual sepatu keliling menggunakan mobil pinjaman orang tua sangat menyenangkan.
Pekerjaan paruh waktu ini dilakukan syahadat sudah sejak lama. Sejak ia memutuskan mencari pekerjaan di Makassar sembari menjadi mahasiswa tahun 2009, Syahadat tidak perlu risau lagi. Sebab dengan pendapatan yang ia peroleh dari jualannya kini sudah mampu membiayai kuliahnya.
“Awalnya menjual malu dan gengsi, karena takut diliat teman-temanku. Tapi pas sudah dapat hasil banyak saya jadi ketagihan dan membuang jauh-jauh rasa malu,” ungkapnya saat ditemui di simpang Jalan Alauddin Makassar.
Syahadat juga menceritakan, jika ia memulai bisnis jualan sepatu keliling dari modal orang tuanya. Ia juga tidak berani meminjam atau mengkredit di bank untuk membuka usahanya.
“Bukan tidak mau, tapi takut jika usaha ini gagal. Kalau pakai modal orang tua kan tidak ada kekhawatiran, paling dimarahi. Tapi sekarang sudah berkali-lipat saya kembalikan modal saya ke ortu,” ucapnya sembari ketawa.
Bahkan laki-laki kelahiran Malang, 18 Juni 1994 ini mengakui mobil yang ia gunakan untuk berjualan merupakan pinjaman dari ayahnya yang ia modifikasi sendiri sehingga menjadi seperti toko sepatu yang memuat bermacam-macam sepatu.Ada kurang lebih 100an jenis dengan berbagai harga mulai Rp150 hingga Rp600 ribuan.Termasuk berbagai macam model tas yang dari harga Rp50 ribu hingga Rp1 Juta.
“Ini dulu mobilnya bapakku yang saya ubah, karena kalau tidak pakai kendaraan untuk menjual agak kesusahan menjual,” katanya.
Selain itu, ia mengaku mendapat sepatu dan tas dari kerjasama dengan temannya sendiri di Malang. Ia mengaku pemilik pabrik sandal kebetulan adalah kenalannya sendiri.
“Barang yang saya jual memang murah jika dibandingkan dengan di toko atau penjual lainnya. Karena saya ambil langsung di pabrik milik teman dekat saya, jadi harganya lebih murah saya ambil,” bebernya.
Anak pertama dari tiga bersaudara ini menjalankan usahanya jika libur kuliah mulai dari pagi sampai jam 10 malam.Lebih sering mangkal di Jalan Hertasning dan Alauddin. Ia mempunyai prinsip hidup.” jalani saja dulu yang ada urusan berhasil itu belakangan,” ujarnya.(ita)
