SIDRAP, BKM — Kondisi banjir di Kabupaten Sidrap sangat meprihatinkan. Hingga kemarin, banjir semakin parah dan meluas ke empat kecamatan di kabupaten ini.
Banjir yang merendam ratusan rumah warga hingga ketinggian 4 meter akibat luapan dua danau terbesar di Sulawesi Selatan yakni Danau Sidenreng dan Danau Tempe.
Banjir terjadi di Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng, Lawatedong, Kecamatan Maritenggae, Teteaji, Kecamatan Tellu Limpoe, dan Wette’e Kecamatan Panca Lautang.
Banjir terparah sejak dua bulan terakhir sejak Mei hingga saat ini terjadi di Desa Teteaji dan Kelurahan Wette’e. Ketinggian banjir daerah ini tiga meter lebih dan sudah masuk ke dalam rumah panggung warga.
Dari pantauan BKM, Minggu, (1/6), sebagian besar rumah-rumah warga dalam keadaan kosong dan ditinggal oleh penghuninya. Mereka mencari tempat mengungsi untuk menyelamatkan diri dari ancaman banjir tersebut.
Sebagian pula warga memilih tinggal di rumah masing-masing dengan perlengkapan seadanya seperti membuat langkeang atau panggung dari anyaman bambu kemudian dipasang di dalam rumah untuk ditempati tidur, masak dan tempat barang.
Aktivitas warga lumpuh total, hanya beberapa warga saja yang beraktivitas mencari ikan, sebagian pula berharap bantuan dari pemerintah untuk keperluan sehari-hari seperti makanan. Sebab ratusan hektrar lahan pertanian terendam banjir. Bagi sebagian beras warga yang mata pencariannya petani sangat butuh bantuan dari pemerintah.
“Saat ini pak kami harap dari pemerintah untuk segera menyalurkan bantuan berupa bambu, obat-obatan dan makanan,” kata Labodding, warga Wette’e.
Warga mengaku belum ada bantuan dari pemerintah. Padahal banjir ini sudah sangat memprihantinkan bahkan ancaman bisa saja datang sewaktu-waktu seperti serangan eceng gondok, gatal-gatal dan lainnya.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sidrap, Hasanuddin mengaku sudah turun memantau kondisi banjir. Dia sudah berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk menyalurkan bantuan bambu.
“Saya sudah turun memantau. Memang banjir di Sidrap makin parah bahkan sebagian besar warga sudah pada mengungsi ketempat yang lebih aman,” ucapnya.
Hasanuddin mengaku, secepatnya akan menyalurkan sedikitnya 250 bambu khususnya ke Desa Teteaji untuk menghalau ecebg gondok. Kondati demikian pihaknya juga akan akomodir permintaan warga dari Kelurahan Wette’e.
“Baru Desa Teteaji yang sudah masuk laporan permintaan bambunya. Untuk Wette’e sementara melakukan pendataan dan peninjauan lokasi dan titik rawan ancaman ecenf gondok,” tandasnya. (ady/b)
Banjir Makin Parah, Warga Mulai Mengungsi
