MAMUJU, BKM — Hasil survei harga konsumen di 82 kota Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Juni 2018 menunjukkan kalau semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tarakan sebesar 2,71 persen.
Sementara yang terjadi di Mamuju pada Juni 2018 dikarenakan adanya peningkatan harga yang ditunjukkan peningkatan indeks harga pada lima kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan inflasi 2,34 persen, di antaranya pada kelompok makanan, rokok, dan tembakau inflasi 0,45 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar.
Sedangkan pada sektor komoditas, pemberi sumbangan inflasi adalah cakalang dan katamba sebesar 0,22 persen. Sedangkan yang menyumbang deflasi antara lain bawang merah 0,03 persen dan cabe merah 0,03.
Untuk transpor, komunikasi dan jasa keuangan dibulan Juni 2018 telah mengalami inflasi sebesar 1,11 persen dengan IHK 121,31 persen. Ini menunjukkan terjadi peningkatan indeks dibanding Mei 2018 dengan IHK 119,98 persen.
Kepala Bidang Statistik pada kantor BPS Sulbar, Fredy Takaya, kepada wartawan di kantornya, Senin (2/7), mengemukakan, jika dibandingkan 11 kota yang terdapat di Pulau Sulawesi, menunjukkan, semua kota mengalami inflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di Kendari sebesar 2,01 persen dan terendah di Gorontalo dengan inflasi 0,37 persen. Sedangkan Mamuju sendiri menempati peringkat ketujuh dengan besaran inflasi 0,87 persen.
Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni 2018 di Provinsi Sulbar sebesar 112,17 atau turun 1,02 persen jika dibandingkan NTP bulan Mei 2018. Subsektor tanaman pangan (NTP-P) 98,85, subsektor holtikultura (NTP-H) 113,69, subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-R) 124,83, subsektor peternakan (NTP-T) 105,71, dan subsektor perikanan (NTP-N) 106,62.
Untuk tingkat hunian kamar hotel di Sulsel periode Mei 2018 sebesar 47,40 persen. Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 5,85 persen dibandingkan periode April 2018 yang tercatat sebesar 41,55 persen. (ala/mir/c)
Bawang dan Cabe Penyumbang Deflasi Sulbar
