Site icon Berita Kota Makassar

Jokowi Janji Buat Tanggul di Danau Tempe

WAJO, BKM — Hari kedua berada di Sulsel, Selasa (3/7), Presiden Joko Widodo meninjau proyek pembangunan Bendungan Passelorang, serta pelaksanaan padat karya tunai di Kabupaten Wajo. Jokowi didampingi ibu negara Iriana Joko Widodo dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono, dan Bupati Wajo Andi Burhanuddin Unru.
Bendungan Passelorang yang terletak di Desa Arajang, Kecamatan Gilireng, Kabupaten Wajo, merupakan salah satu dari proyek strategis nasional (PSN) yang diprogramkan pemerintahan Jokowi-JK di Sulsel. Dua bendungan lain yang masuk PSN di Sulsel adalah Bendungan Karalloe di Kabupaten Gowa, dan Bendungan Pamukkulu, Kabupaten Takalar.
Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR Imam Santoso, menjelaskan pembangunan Bendungan Passelorang dimulai sejak 23 Juni 2015. Target selesai lebih cepat empat bulan dari jadwal kontrak pada Juli 2019 menjadi akhir Februari 2019.
Kapasitas tampung maksimal bendungan yakni 138 juta m3. Nilai kontrak pembangunan bendungan sebesar Rp701 miliar dan dikerjakan oleh PT Wijaya Karya dan PT Bumi Karsa. Sedangkan jika termasuk konsultan, anggarannya menjadi Rp736 miliar.
“Diharapkan dapat mengairi irigasi seluas 7.000 hektare, serta air baku 305 liter per detik. Selain sebagai konservasi sumber daya air, juga untuk mengurangi banjir di Wajo dan sebagai pengendalian banjir Sungai Gilireng (1.002 m3/detik),” jelas Imam Santoso.
Bendungan ini ke depan juga dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata. Dengan potensi listrik 2,5 megawatt (MW).
Adapun daya tampung maksimal sebesar 138 M3 dan luas genangan 169 km2. Progres per hari ini ini 73,29 persen.
Luas lahan yang dibutuhkan 1.849,88 hektare. Sudah dibebaskan 681,98 hektare (36,87 persen). Sisanya dalam proses penyelesaian pembayaran bertahap untuk area genangan.
Presiden Jokowi menjelaskan terkait pembebasan lahan, dari laporan yang diterimanya, akan dituntaskan Oktober mendatang.
“Ini adalah salah satu dari 49 bendungan baru yang dibangun. Untuk meningkatkan suplai air irigasi di Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai salah satu sentra pangan nasional,” kata Jokowi.
Dia melanjutkan, pembangunan bendungan ini sebagai salah satu upaya untuk mendukung program swasembada pangan. Penambahan produksi beras nasional. Meningkatakan pendapatan dan standar hidup petani, dan menyediakan sistem irigasi sepanjang tahun.
“Arahnya ke sana, swasembada pangan. Ada 49 bendungan kita bangun guna menyiapkan air untuk irigasi pertanian. Larinya nanti ke swasembada pangan kita,” kata Jokowi.
Dia melanjutkan, Passelorang adalah bendungan yang sangat besar karena ada 365 hektare dari tanah milik negara yang digunakan. Ditambah pembebasan lahan kurang lebih 1.800 hektare milik masyarakat.
“Kita harapkan bendungan ini juga bisa dijadikan air baku bagi masyarakat sekitar. Termasuk untuk pembangkit listrik,” papar Jokowi.
Sebelum meninjau bendungan, presiden terlebih dahulu melihat langsung pelaksanaan program padat karya tunai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di Kelurahan Mappadaelo, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo.
Program padat karya yang dikunjungi Jokowi merupakan pengerjaan saluran dalam rangka peningkatan tata guna air irigasi tersebut. Menggunakan anggaran sebesar Rp225 juta yang berasal dari program padat karya tunai Kementerian PU dan PR
“Ini adalah bagian dari program percepatan untuk tata guna air, sehingga kita harapkan nanti di 2018 ini ada kurang lebih 5 ribu titik yang berjalan di 2.881 desa,” ujar presiden selepas peninjauan.
Saluran irigasi tersebut masuk ke dalam daerah irigasi Bendungan Bila (Kabupaten Sidrap), yang mencakup lahan seluas 6.517 hektare dan daerah irigasi Bendungan Kalola (Kabupaten Wajo) dengan luas lahan 3.230 hektare. Adapun yang ditinjau presiden ialah pembangunan saluran sepanjang 300 meter.
Untuk diketahui, program padat karya tunai di Kabupaten Wajo ini menyerap tenaga kerja lokal sebanyak 60 orang dengan waktu pelaksanaan selama 60 hari. Tenaga kerja yang diserap dalam proyek ini diberikan upah sebesar Rp80 ribu per harinya untuk pekerja, dan Rp120 ribu per harinya untuk tukang.
Pembangunan itu diharapkan dapat menyalurkan air dari bendungan di sekitar untuk membantu mengairi sawah milik masyarakat. Menurut pengamatan presiden, persawahan di sekitar wilayah itu memang terhampar luas dan produktif.
“Saya lihat di sini memang untuk produksi padinya sangat bagus. Hamparan sawahnya juga sangat luas,” tuturnya.
Selain itu, tahun depan, pemerintah juga akan melakukan pembangunan tanggul di Danau Tempe yang terletak di bagian Barat Kabupaten Wajo. Dari tanggul tersebut nantinya diharapkan mampu mengairi sawah masyarakat seluas kurang lebih 18.000 hektare.
“Tahun depan akan dimulai lagi untuk membuat tanggul di Danau Tempe. Airnya dipompa (didorong) ke atas dan disalurkan lagi sebagai air untuk mengairi kurang lebih 18.000 hektare. Kita harapkan yang sebelumnya panen sekali bisa jadi dua kali, yang dua kali jadi tiga kali. Arahnya ke sana, sehingga betul-betul air itu menjadi produktif,” ucap Presiden. (rhm/rus)

Exit mobile version