PENAMPAKAN kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), kemarin tampak bersih dari sampah dan taman yang tertata rapi.Kondisi itu tak lepas dari peran petugas kebersihan yang bertugas disana.Dg Latinro salah satu petugas kebersihan di dalam kampus merah tersebut.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Siang itu, penulis sempat menemui Dg Latinro yang berjalan kaki di muka Gedung Rektorat. Gaya berjalannya santai tapi bungkuk, sambil merapikan baju kaosnya.Ia sudah ingin pulang beristerahat setelah sejak pagi membersihkan.
Sambil memegang sapu ijuk dan menggunakan topi serta sandalnya, ia begitu ramah menyambut penulis.
Menjadi penyapu taman di Universitas Hasanuddin Makassar adalah pekerjaan terbaik menurutnya, daripada menjadi tukang bangunan yang sempat dilakoninya selama bertahun-tahun.
“Kenapa memilih pekerjaan ini, karena lebih baikdaripada menjadi tukang bangunan.Apalagi dulu saya buruh bangunan borongan yang pekerjaannya terbilang berat. Memang disini kecil didapat, tapi ringan pekerjaannya,” ungkapnya saat ditemui di taman Unhas yang duduk bersama penulis di rumput halaman kampus.
Sejatinya, Dg Latinro tak begitu mengerti tentang apa yang terjadi dengan kampus tempatnya mencari rezeki.Dia tahu bagaimana menjalani hidup dengan baik dan memberikan pengabdiannya untuk kampus tempatnya bekerja.
“Saya bekerja disini baru dua tahun, tapi saya bilang ini pekerjaan yang tidak terlalu berat. Dulu saya bisa dapat Rp100 ribu satu hari tapi deh jadi buruh buronan.Tanganku saja sudah ‘kapala’ mi (tebal),” ujarnya.
Keterbatasan fisik bukan hambatan untuk mengabdi sebagai tukang sapu menurut Dg lantinro.Pekerjaan bapak tiga orang anak ini diakui sebagian orang hanya kelas bawah, namun apa yang Dg Latinro berikan dalam rangka menjaga kebersihan kampus sungguh bernilai dan patut diapresiasi.
Kerja yang ia lakukan sehari-hari mulai dari pukul 06.00 hingga pukul 17.00 dengan istirahat pada pukul 11.00. Ketika istirahat, Dg Lantinro pun pulang guna mengisi perutnya berupa nasi dan lauk pauk seadanya. Ia hanya tinggal bersama keluarga dan anaknya disatu atap.
“Dari pagi smpai sore kita kerja, tapi pagi ji sama sore baru kita bersih-bersih lagi. Kalau lapar pulang ka dulu di rumah atau ku bawah memang mi makanan ku kesini. Saya tinggal sama istri dan dua anakku, karena yang satu sudah mi menikah,” ujarnya.
Walaupun ia sudah tua, namun jiwa muda pun begitu berkobar bagi yang mengenalnya, juga bagi teman-teman seperjuangannya di kampus Unhas. Tidak jarang, ia juga sering mendapat rezeki dari beberapa dosen yang ia kenal, berupa uang dan sembako. (*)
