GOWA, BKM — Tim Penggerak (TPP) PKK mulai dari kepengurusan kabupaten hingga kelurahan/desa akan turut ambil bagian memarakkan even Beautiful Malino II. Dalam perhelatan wisata bertaraf nasional ini, PKK akan menggelar parade fashion show baju-baju hasil kreasi para anggota PKK yang terbuat dari bahan-bahan tak terpakai. Di antaranya sampah plastik maupun bahan-bahan buangan lainnya seperti kulit jagung.
Ketua TP PKK Gowa, Priska Paramita Adnan kepada Beritakota Makassar, Senin (9/7), mengatakan, dalam program kegiatan karnaval budaya, TP PKK akan mengisi kesempatan itu. Bahkan, pihaknya akan menggelar parade fashion show yang akan diperagakan langsung para ketua PKK kelurahan/desa.
”Iya, PKK akan melakukan parade fashion show daur ulang. Dan itu diperagakan langsung ibu-ibu desa. Kita juga ada lomba nyanyi kader PKK. Pokoknya, nanti kita saksikan bersama aksi mereka yah,” kata Priska sembari mengatakan salut atas kreasi ibu PKK desa memanfaatkan kulit jagung.
”Salutnya saya karena mereka telaten mengerjakan busana daur ulang ini dengan menempel satu persatu kulit jagung yang sudah dipoles. Pembuatan bajunya kurang lebih dua bulan,” tambah Priska.
Disinggung soal Dekranasda, Priska yang juga adalah Ketua Dekranasda Gowa ini mengatakan khusus Dekranasda, akan turut meramaikan parade bunga dalam karnaval budaya.
Sementara itu, Amran Azis sebagai warga Tinggimoncong mengatakan dalam even kedua Beautiful Malino ini, warga di Malino bersatu akan memgangkat kelangkaan bunga Spathodea.
Bunga yang berasal dari Belanda dan dibawa masuk ke Gowa tepatnya di Malino tahun 1930 silam itu, kata Amran yang juga Koorwil Disdik Kecamatan Tinggimoncong, harus dikembangkan selamanya.
”Kami di Malino mencoba mengangkat kelangkaan Spathodea ini lewat tarian kolosal saat Hardiknas lalu. Tarian ini terinspirasi dari pohon Spathodea yang menjadi ikon kota Malino. Spathodea ini indah dengan warna yang sangat mencolok (orange). Tarian ini syarat dengan pesan moral. Karena termasuk pohon langka maka Spathodea perlu dilestarikan dan dijaga. Masih ada segelintir orang yang tidak peduli. Bahkan menebangnya. Padahal, Spathodea adalah bagian dari urat nadi kehidupan kota dingin Malino. Perlu dilindungi kalau bisa harus dibudidayakan,” kata Amran yang juga selaku pengide dan naskah tarian kolosal Spathodea. (sar/mir)
PKK akan Parade Fesyen Daur Ulang Kulit Jagung
