Site icon Berita Kota Makassar

Tambah Penghasilan, Ojek Anak Pejabat Pemkot

GAMPANG senyum, ramah, dan sabar. Itulah yang tergambar dari sosok Rahmat ketika ditemui penulis di Kantor Balai Kota Makassar, Jalan Ahmad Yani Makassar.

Laporan: ARIF AL QADRY

Pria kelahiran Gowa, 15 Oktober 1985 yang akrab disapa Mamat, adalah salah satu petugas kebersihan (cleaning service) yang setiap hari bertugas mengumpulkan sampah basah dan kering di kantor plat merah. Pekerjaan itu terhitung lama dilakoninya dimulai sejak tahun 2009 hingga sampai sekarang ini, 2018.
Bruaak…bruaakkk…bruaakkkk… suara gaduh itu sempat terdengar di lorong – lorong kantor Balai Kota Makassar di lantai 2 ketika penulis berjalan. Meski tak seribut dari suara pecahan kaca yang jatuh, namum suara tersebut berhasil membuat penulis penasaran akan sosok petugas kebersihan yang begitu serius mengambil satu per satu tempat sampah yang ada di luar ruangan kantor satuan kerja perangkat daerah (SKPD).
Tanpa memperlihatkan rasa jijik, satu per satu isi tempat sampah basah dan kering dipindahkan ke tempat sampah yang ukurannya lebih besar lagi. Sesekali tangan Mamat dimasukkan ke dalam tempat sampah kecil jika isi tak kunjung jatuh keluar ke dalam tempat pemampungan sampahnya.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi bapak satu orang anak itu memindahkan sampah kering dan basah, hanya kurang 1 menit Mamat kemudian melanjutkan langkah kakinya menyusuri setiap lorong kantor Balai Kota dari lantai dasar hingga lantai 11 mengumpulkan sampah-sampah yang ada.
“Saya mulai dari pagi jam 07:30 sampai sore pukul 17:00. Kalau saya memang ditugaskan kumpulkan sampah yang ada di tempat sampah di depan ruangan untuk kemudian dibuang di kontainer sampah yang ada di halaman kantor Balai Kota Makassar,” sebut suami Rina.
Disela kesibukannya memindahkan sampah-sampah yang ada, Mamat bersedia mengisahkan perjalanan hidup dan suka dukanya. Sembari berjalan menyusuri lorong-lorong Mamat berkata, jika menjadi petugas kebersihan memang tak membutuhkan keterampilan khusus. Hanya bermodal semangat mencari nafkah, keinginan dan tentu disertai rasa ikhlas bekerja, semua tugas-tugas bisa diselesaikan dengan baik.
“Memang tidak membutuhkan keterampilan khusus untuk kerja seperti ini. Tapi apa artinya jika kita bekerja tanpa rasa ikhlas. Pasti hasilnya tidak maksimal, bahkan bisa-bisa berantakan. Menjadi tukang bersih itu membantu orang-orang juga untuk menjadi nyaman berada di lokasi dan sekaligus mengejar pahala-pahala,” tambahnya.
Jarak antara tempat tinggal Mamat terbilang jauh dari kantor Balai Kota Makassar. Ia tinggal di Gowa, Desa Tanrara, Kecamatan Bontonompo Selatan. Untuk menghindari terlambat masuk kerja, usai salat subuh ia sudah meninggalkan rumahnya berserta istri dan satu anaknya yang masih berusia tujuh tahun.
“Jadi selesai salat subuh saya sudah jalan meninggalkan rumah. Saya juga sambilan ojek anak sekolah, kebetulan dipercayakan antar jemput anak salah seorang pejabat di Pemkot Makassar ini. Mumpung tambah-tambah penghasilan untuk melanjutkan hidup bersama keluarga,” tuturnya. (arf)

Exit mobile version