Site icon Berita Kota Makassar

Perginya Sang Budayawan Sederhana

AWAN duka menyelimuti keluarga besar Universitas Hasanuddin, Makassar. Ishak Ngeljaratan yang pernah mengajar di kampus merah itu, telah berpulang. Ia mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Stella Maris, Senin pagi (16/7) pukul 07.00 Wita.

Laporan: Ardhita Anggraeni Nur

DI kompleks Perumahan Dosen Unhas Tamalanrea nomor H2, karangan bunga ucapan duka cita tampak berjejer. Sejak pagi, silih berganti kerabat, teman, handai taulan berdatangan. Mereka menanti kedatangan jenazah Ishak Ngeljaratan.
Pukul 13.07 Wita, jenazah almarhum pun tiba. Sanak keluarga ikut mengiringinya dari mobil ambulance yang mengantar.
Sebuah peti jenazah diturunkan dari atas mobil. Selanjutnya dibawa ke dalam rumah duka untuk disemayamkan.
Almarhum Ishak Ngeljaratan tampak di dalam peti jenazah. Mengenakan stelan jas bercorak Toraja. Berkemeja kuning dan celana panjang warna coklat, serta bersepatu. Pihak keluarga bergantian mendekat untuk mendoakannya.
Putri almarhum, Luna Ngeljaratan yang ditemui di rumah duka bertutur tentang hari-hari terakhir sebelum sang ayah pergi untuk selama-lamanya. Menurutnya, sebulan lalu Ishak berada di negeri Paman Sam Amerika Serikat. Hampir sebulan almarhum berada di sana ditemani anaknya.
Baru seminggu lalu, tepatnya Selasa (10/7), ia kembali ke Indonesia. Selanjutnya, Ishak melakukan perjalanan ke Pulau Bali. Kali ini bersama anak serta cucunya.
Hari Jumat pekan lalu, mereka pulang ke Makassar. Saat itu Ishak merasa kurang enam badan. Dia pun meminta kepada anaknya untuk membawanya ke Rumah Sakit Stella Maris.
Hingga akhirnya kabar duka itu tiba, Senin pagi kemarin. Tokoh lintas etnis dan lintas iman itu telah berpulang.
”Tidak ada tanda-tanda kalau bapak akan pergi. Sebulan lalu dibawa ke Amerika. Setelah itu ke Bali. Dengan catatan harus laporkan kegiatan bapak di sana. Nanti setelah balik ke Makassar baru dibawa periksa, karena kondisi bapak sudah tidak baik,” ucap Luna.
Pihak keluarga, lanjut Luna, belum memutuskan di mana almarhum akan dimakamkan. Termasuk waktu pemakamannya.
”Kita belum putuskan mau dimakamkan di mana. Juga waktu pemakamannya. Kita masih menunggu kedatangan keluarga yang tinggalnya jauh,” sambungnya.
Istri almarhum Nannu Nur tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Mengenakan kerudung hitam, sesekali ia menyeka air mata yang menitik di pipinya.
Ia lalu mengenang hari-hari terakhir almarhum. Menurutnya, saat menjalani perawatan di rumah sakit, Ishak selalu meminta untuk dipulangkan ke kediamannya di perumahn dosen. Namun, karena kesehatannya yang tidak memungkinkan, permintaan itu tak dipenuhi.
”Mungkin waktu itu bapak sudah merasa waktunya untuk pergi, jadi dia minta untuk dipulangkan saja dari rumah sakit. Itu yang saya ingat,” ujar Nannu Nur dengan suara pelan.
Di mata keluarga dan rekannya, Ishak yang lahir di Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat 27 September 1936, dikenal sebagai sosok sederhana. Jika banyak dosen yang mengendarai mobil, tidak demikian dengan Ishak.
Ia lebih memilih menggunakan transportasi umum. Biasa pakai taksi. Tak jarang pula menumpang becak. Termasuk petepete, dimanfaatkannya untuk mendukung aktivitas sehari-harinya.
”Bapak memang tidak suka naik mobil pribadi. Biasanya di depan itu ambil bentor atau naik petepete. Kalau dulunya naik taksi,” kenang Nannu Nur terhadap suaminya yang juga gemar memelihara kucing itu.
Wakil Wali Kota Makassar Syamsul Rizal tampak melayat di rumah duka, kemarin. Ia menyampaikan duka cita yang mendalam atas kepergian sosok bersajaha dan sederhana itu.
“Saya atas nama pribadi dan pemkot turut berduka cita, karena telah kehilangan guru kemajemukan. Semoga apa yang telah ditanamkan olehnya sebagai dasar penghargaan terhadap berbagai perbedaan bisa ditanamkan,” ujarnya.
Dosen Unhas Dr Tammasse Balla, menyebut almarhum sebagai seseorang yang betul-betul guru. Tidak pernah membedakan antara senior dan yunior di kalangan dosen.
”Beliau senang melihat kalau ada junior yang lebih berhasil dari dirinya. Sangat antusias melihat generasi muda yang ingin bertumbuh. Pembawaannya selalu humanistik. Almarhum adalah salah satu dosen yang saya kagumi. Selalu menceritakan pengalaman dan perjalanan hidupnya ketika mengajar. Teorinya mumpuni,” terang Tammasse.
Satu kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh dosen Bahasa Indonesia Unhas ini, kala almarhum menghadiri peluncuran buku putrinya, Iin Tammase di Graha Pena beberapa waktu silam.
”Waktu itu Pak Ishak memberikan sambutannya. Beliau menangis. Padahal, dia mengaku sebagai orang yang susah menangis. Itu artinya, almarhum sangat mendukung anak muda untuk terus maju dan berprestasi,” jelas Tammasse. (*/rus)

Exit mobile version