COBAAN demi cobaan dilalui Dg Siku dalam menjajakan dagangannya. Saat ia berjalan jauh menyusuri jalan dan setapak malam hari tak jarang pula ada orang-orang tertentu yang sering mengambil kacang tanpa membayar. Namun hal itu tak membuatnya kesal.
Laporan: JUNI SEWANG
“Itu tidak seberapa, saya masih ada untungnya, walaupun sedikit, saya tetap ikhlas,” ujarnya.
Ia juga mengaku pernah mengalami kecelakaan ditabrak sepeda motor, akibatnya sepeda yang ia pakai mengalami kerusakan cukup parah.
“Pernah ditabrak sama motor, bengkok stir sama pelek sepedaku, berhamburan jualanku, ada yang rusak ada yang masih bisa saya jual. Syukurnya orang yang tabrak antar saya pulang ke Bontonompo menggunakan mobil bak terbuka dan dia kasi uang Rp40 ribu untuk berobat,” kata Dg Siku.
Dg Siku telah memiliki lima orang anak, dan semua sudah berkeluarga, tiga anak perempuan dan dua anak laki laki.
“Anak saya yang laki laki putus sekolah dan bekerja serabutan dan adapula yang berjualan beroncong. Alhamdulillah ada juga anak perempuan saya sudah lulus sekolah keperawatan. Mau masuk pegawai harus bayar, kalau tidak ada keluarga ta tidak bisa, kalau tidak ada uang tidak bisa jadi pegawai, itupun harus ada keluarga ta di dalam,” tutupnya.
Dari rumahnya di Bontonompo, Kabupaten Gowa, ia mengendarai sepeda motornya hingga di tempat mangkalnya Jalan poros Antang Raya (pasar Antang). Hal itu dilakoni pria 60 tahun tersebut demi menafkahi keluarga, yang tak ada kata lelah dalam pikirannya.
Sudah kurang lebih 40 tahun ia menjalaninya. Dari usaha itu Dg Situ berhasil menyekolahkan lima orang anaknya, hingga ada yang lulus dari Akademi Perawat. Setiap hari ia membawa 35 liter kacang. Per liter kacang rebus ia hargai Rp 15ribu. Jika semua laku terjual, ia bisa pulang membawa untung Rp150 ribu. Tapi tak jarang pula tak semua dagangannya habis terjual, kadang tersisa dalam jumlah banyak. Pekerjaannya itu sudah dimulai pada siang hari.
“Pukul 11.00, kacang direbus sampai dengan sekitar dua jam, kemudilan disortir mana yang muda dan kempes dibuang. Itu memakan waktu sekitar satu jam lebih,” ujarnya.
Setelah melewati tahapan tersebut, sekitar pukul 15.30 mulailah Dg Situ, menyusuri jalan bersama jualannya. Tak sedikit orang yang membeli di jalan. Selama 40 tahun melakoni pekerjaan itu, banyak pengalaman yang ia alami, duka maupun suka. Sukanya saat semua kacang rebus habis. Dia sangat bersyukur.
“Saat itu juga dengan hati senang saya awalnya menjual dengan cara dipikul pada usia belasan tahun, dimana dari Rp1/liter, minyak tanah harga 1 ringgit. 1 bulan 3 hari hanya menghasilkan Rp1.000, saya lakoni sampai saat ini, dikarenakan ini ji yang saya tau,” ungkap Dg Situ, saat dikunjungi saat berjualan.
Tak seperti awalnya ini lebih ringan,” ungkapnya. Dari jualan dipikul, berjualan menggunaan sepeda gayuh, hingga berjualan menggunakan motor, Ia pulang pada pukul 01.00, wita. (jun)
