Site icon Berita Kota Makassar

DPPPA Pangkep Bina Puluhan Perempuan Disabilitas

PANGKEP, BKM — Sekitar 50-an perempuan disabilitas utusan dua kecamatan diberikan pembinaan oleh pihak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Pangkep, baru-baru ini. Pelaksanaan pembinaan didua kecamatan ini dikhususkan kepada kalangan perempuan berkebutuhan khusus atau disabilitas.
Kepala Bidang Kesetaraan Gender DPPPA Pangkep, Endang Wahyuni, menjelaskan di Pangkajene, akhir pekan lalu, pihaknya telah melaksanakan kegiatan beberapa waktu lalu sebagai proyek perubahan Latpim III.
Saat ini, masih banyak perempuan disabilitas yang membutuhkan pembinaan. Terutama untuk meningkatkan keterampilan mereka agar dapat hidup mandiri dan tidak banyak tergantung kepada orang di sekitarnya.
Sekarang dua kecamatan yakni Pangkajene dan Labakkang yang menjadi fokus. Untuk tahap pertama ini, beberapa peserta sangat antusias. Pihaknya bersama unsur terkait seperti guru SMK, instruktur BLK, dinas kesehatan, dinas sosial, dan dinas perdagangan, melakukan pelatihan pembuatan brownis bandeng dan kerupuk bayam untuk perempuan disabilitas.
Ditambahkan, kegiatan ini menyertakan pendamping dan keluarga para disabilitas. Peserta yang cacat fisik tidak terlalu rumit saat pelatihan. Berbeda yang tunanetra. Ia masih banyak kesulitan. Makanya membutuhkan pendamping dari keluarga.
Kepala Dinas DPPPA Pangkep, Hj Hartini Djafar yang dikonfirmasi secara terpisah membenarkan kegiatan tersebut. Ia berharap juga agar kegiatan ini dapat menjadi perhatian untuk program pemberdayaan perempuan.
Hartini juga menjelaskan, selama ini program pemberdayaan perempuan khusus disabilitas terus dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pihak termasuk LSM dan pihak swasta.
”Program tersebut dilaksanakan untuk peningkatan keterampilan para perempuan disabilitas. Hanya saja perlu dipahami jika proses pembinaan ini membutuhkan waktu lama. Berbeda dengan perempuan normal. Saat ini warga disabilitas di Pangkep mencapai 1.000 orang lebih. Beberapa dari penyandang disabilitas sudah berusia lanjut,” jelas Hartini.
Menurut Hartini, program pembinaan yang diberikan berupa peningkatan keterampilan pembuatan kue dan makanan tradisional. ”Kegiatan ini sangat praktis dan menjanjikan untuk dijadikan bahan jualan.Tentu upaya ini merupakan bentuk upaya peningkatan kesejahteraan dari para perempuan disabilitas,” terangnya. (udi/mir/c)

Exit mobile version