MAKASSAR, BKM — Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap pelaku pungutan liar (pungli) di kawasan Gelanggang Olah Raga (GOR) Sudiang, terus dikembangkan. Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sulsel menelusuri aliran duit hasil pungli yang diduga ikut dinikmati sejumlah oknum pejabat.
Dari hasil pemeriksaan 21 orang yang terjaring OTT oleh tim Sapu Bersih (Saber) Pungli Polda Sulsel, terungkap adanya indikasi uang setoran mengalir kepada oknum pejabat. Dengan dalih setoran itulah, aktivitas mereka melakukan praktik pungli pada setiap akhir pekan, bisa berlangsung langgeng.
Direktur Ditreskrimum Polda Sulsel Kombes Pol Andi Indra, kemarin mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap 21 orang yang diamankan dari OTT di GOR Sudiang.
”Dari hasil pemeriksaan itu, penyidik kemudian melakukan pengembangan serta menelusuri aliran uang hasil pungli tersebut,” kata Kombes Andi Indra yang dihubungi, Senin (23/7).
Sejumlah barang bukti diamankan dalam operasi yang berlangsung Minggu (22/7). Di antaranya uang serta kupon karcis parkir liar.
”Kemungkinannya ada oknum pejabat pemerintah yang ikut terlibat. Ini yang masih sementara kita telusuri dan sedang dalami,” tegasnya.
Menurut Andi Indra, tidak mungkin para pelaku berani melakukan aktivitas punglinya jika tidak ada yang memberikan peluang dan kesempatan.
”Ini jelas ada indikasi pembiaran dari instansi terkait. Termasuk pengelola. Untuk keterangan dan hasil pemeriksaan para tersangka belum bisa kita sampaikan. Karena masih dilakukan pendalaman lagi dalam kasus ini,” tandasnya.
Direktur Anti Corruption Committe (ACC) Sulawesi Abdul Muthalib, mendukung upaya pihak kepolisian yang telah berhasil mengungkap praktik pungli di GOR Sudiang. Namun, kata dia, pencapaian itu belum final.
“Penyidik harus cari otak di balik terjadinya pungli tersebut. Tidak mungkin pelaku berani melakukan pungutan secara terang terangan seperti itu kalau tidak ada yang membekingi,” ujar Muthalib, kemarin.
Ia mendesak pihak polda untuk segera membongkar adanya dugaan suap menyuap dan gratifikasi dalam kasus ini, “Kejahatan seperti ini harus dibongkar. Karena sangat merugikan negara. Apalagi sudah berlangsung lama,” tandasnya.
Muthalib menegaskan, siapapun oknum pejabat yang membekingi praktik pungli di GOR Sudiang, harus bertanggungjawab dan mesti dijadikan tersangka pula.
Tak Sampai Hati
Terpisah, Sri Endang Sukarsih selaku Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Sulsel yang membawahi GOR Sudiang, berdalih bahwa OTT yang dilakukan polisi itu terjadi di luar kawasan GOR Sudiang. Karena itu, kata Sri Endang, berarti bukan menjadi kewenangannya.
Dia mengaku dirinya belum mengetahui secara jelas duduk persoalannya. Namun berdasarkan informasi yang diterima, bahwa yang tertangkap itu adalah masyarakat yang melakukan pungutan parkir di luar area atau kawasan GOR Sudiang.
“Informasi yang saya terima, mereka yang tertangkap adalah yang punya inisiatif melakukan pungutan parkir secara ilegal. Dan itu terjadi di luar GOR, bukan dalam kawasan, ” ungkapnya, Senin (23/7).
Menurutnya, untuk dalam kawasan GOR Sudiang, sangat jelas aturan main terkait tarif retribusi yang dikenakan, baik untuk parkir kendaraan maupun untuk tarif sewa lahan bagi para pemilik lapak.
“Pengelolaan sarana dan prasarana di dalam itu sudah ada aturan mainnya. Sudah ada Peraturan Gubernur terkait retribusi. Jadi tidak boleh sembarang pada pungutannya. Berbeda dengan yang terjadi di luar kawasan GOR, ” ungkapnya.
Sebenarnya, kata Sri Endang, pihaknya cukup dilematis dalam menghadapi para pemilik lapak yang ada di kawasan GOR Sudiang. Di satu sisi, pihaknya kerap mendapat sorotan terkait kehadiran mereka yang dinilai membuat kawasan GOR Sudiang menjadi semrawut.
Sementara untuk menertibkannya dinilai cukup sulit, karena kehadiran mereka sudah bertahun-tahun di sana. Apalagi, lapak-lapak tersebut memberikan retribusi bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sulsel yang hampir setiap tahun dinaikkan targetnya.
“Saya malah sempat berpikir bagaimana kalau GOR Sudiang itu dikembalikan ke fungsinya, murni sebagai kawasan olah raga. Tapi kita dalam posisi yang tidak sampai hati melihat mereka,” jelasnya. (mat-rhm/rus)
