SIDRAP, BKM — Gas elpiji bersubsidi 3 Kilogram (Kg) masih langkah di Kabupaten Sidrap, meski penyalurannya sudah diperketat oleh Pemkab setempat.
Gas melon itu mulai langkah sejak dua pekan terakhir. “Pada saat itu, Pemkab memperketat penyalurannya, namun tidak membuakan hasil,” ujar Jefri warga setempat Senin, (23/7).
Jefri menduga ada permainan yang dilakukan oleh oknum dengan memanfaatkan momen turun sawah oleh petani setempat.
“Buktinya, setiap kali petani turun sawah selalu terjadi kelangkaan. Ini ada apa, yang jelasnya Pemda jangan hanya sekedar memantau saja harus lakukan penindakan,” tegasnya.
Warga Amparita lainnya Salam mengaku, pemakaian gas melon itu selain ke petani juga kebanyakan diperuntuhkan ke pengusaha.
“Pengusaha seperti warung-warung juga banyak yang menggunakan gas elpiji 3 Kg. Jadinya gas yang diperuntuhkan khusus untuk kebutuhan rumah tangga itu tidak cukup dan sering terjadi kelangkaan,” ucapnya.
Hendra mengaku, membelikan istrinya tabung untuk memasak di luar daerah. “Ya karena di daerah kita langkah, kami terpaksa beli tabung di daerah Batu-batu, Kabupaten Soppeng. Itupun harganya juga Rp25 ribu,” kata.
“Dulu enak, ada petugas yang kawal saat mobil truk pengangkut tabung melakukan pembongkaran. Jadinya masyarakat setempat bisa dapat tabung dengan harga normal. Tapi sekarang tidak ada,” tandas Hendra.
Kabag Ekonomi Sidrap, Ambo Ela menegaskan, bahwa akan turun melakukan inspeksi mendadak (Sidak). “Ini tidak boleh dibiarkan terus menerus terjadi kelangkaan. Apalagi menjual diatas HET Rp16 ribu,” katanya.
Dia mengaku sudah banyak menerima informasi terkait kelangkaan gas beraubsidi elpiji 3 Kg di beberapa kecamatan.
“Kuotanya sangat banyak. Kok tiba-tiba ada kelangkaan, makanya kita harus turun mengecek siapa tahu ada oknum yang bermain,” tegasnya. (ady/C)
