Site icon Berita Kota Makassar

Maba Jalur Mandiri UNM Ikuti Tes

MAKASSAR, BKM–Penerimaan mahasiswa baru jalur Mandiri Universitas Negeri Makassar (UNM) telah memasuki tahap tes tertulis, Selasa (24/7). Sebanyak 6.200 pelamar mengikuti tes yang diadakan selama dua hari ini.
Ketua Panitia Pelaksana, Prof Muh Yahya mengatakan, Selasa dilakukan ujian tulis TPA untuk semua prodi. Sedangkan pada Rabu (25/7) hari ini akan dilaksanakan tes keterampilah yang hanya dikhususkan bagi pelamar di Fakultas Teknik, Fakultas Seni dan Desain, dan Fakultas Ilmu Keolahragaan.
Rektor UNM, Prof Husain Syam mengatakan, jika dari semua pelamar, hanya akan tersaring menjadi sekitar 3.000 saja pelamar yang akan lolos. Karena menurut Prof Husain, UNM hanya akan memenuhi kouta mahasiswa baru sebanyak 7.000 mahasiswa saja.
“Di jalur mandiri ini kami hanya akan menerima mahasiswa sekitar 3.000 lebih, karena kouta yang lain telah terpenuhi pada jalur sebelumnya, yaitu SNMPTN dan SBMPTN,” kata Prof Husain.
Adapun lima prodi dengan pelamar terbanyak antara lain Prodi Manajemen dengan 495 pelamar, Prodi Psikologi dengan 346 pelamar, Prodi Akuntansi dengan 335 pelamar, Prodi Penjaskesrek dengan 317 pelamar, dan Prodi PTIK dengan 311 pelamar.
Selain melalui tes, ada juga beberapa beberapa pelamar yang menggunakan jalur prestasi. Dimana siswa yang sejak disekolah pernah mendapat prestasi nasional di bidang pendidikan, seni, dan olah raga, bisa mendaftar tanpa tes. Selain itu, ada juga calon pelamar penghafal Al-Qur’an yang masuk kriteria bebas tes. Semua jalur ini dikatakan Prof Husain baru kali pertama dilakukan di UNM.
“Misalnya pernah juara lomba cerdas cermat juara 1, 2, atau 3 tingkat nasional, itu masuk kategori. Begitupun juga yang pernah juara bidang seni dan olahraga di tingkat nasional, juga bisa masuk tanpa tes. Nanti kami periksa piagamnya. Ini kan sebagai penghargaan dan apresiasi anak bangsa yang memiliki prestasi,” jelasnya.
Para penghafal Al-Qur’an yang bisa menghafal minimal 15 juz, juga akan mendapat perlakuan yang sama. Prof Husain berangggapan jika para penghafal ini patut diapresiasi, karena di zaman yang makin banyak aktivitas seperti sekarang, mereka masih bisa menghafal Al-Qur’an.
“Sekarang media sosial dan berbagai informasi ada dimana-mana, asumsi kami, kalau masih ada anak yang bisa menghafal Al-Qur’an, berarti sudah dipastikan anak ini pintar. Ada 22 orang itu yang mendaftar lewat jalur ini, kalau terbukti, maka sudah pasti mereka lulus,” tegas Prof Husain.(nug/war/c)

Exit mobile version