MBEEE… mbee…. mbeee… suara hewan mamalia jenis kambing begitu menyambut penulis ketika masuk di Jalan Lamuru, Kecamatan Bontoala, pada Rabu 25 Juli 2018.
Laporan: ARIF AL QADRY
Suara-suara kambing seakan memanggil tiap orang yang melintas untuk singgah. Jejeran kandang kayu balok dan bambu menghiasi tepi jalan lorong itu. Ada puluhan ekor kambing jantan dan betina disana sedang sibuk makan daun, rumput dan kulit pisang.
Nampak pria berbadan bongsor mengejar hewan kambing dan digiring masuk ke dalam kandang. Adalah Muh Yusuf, pemilik dan penjual kambing di Jalan Lamuru.
Saat penulis berhenti tepat di depan kandang kambing miliknya, Yusuf yang akrab disapa telihat sedang sibuk membersihkan kandang kambingnya. Rumput dan kulit pisang yang berserakan di lantai kandang, diambil dan kemudian dikumpulkan. Kotoran kambing dalam kandang yang panjangnya 5 meter dengan lebar 3 meter disapu.
“Saya punya 80 ekor kambing disini. Campur ada betina dan ada jantan. saya datangkan di berbagai daerah seperti NTT, Jeneponto dan Pangkep,” ujar Muh Yusuf menyambut penulis.
Di depan kandang kambingnya, terdapat sebuah pos dan lengkap dengan kursi kayu dan plastiknya. Disitulah pria kelahiran Ujung Pandang, 15 Agustus 1988 bercerita awal mula dirinya menjual puluhan ekor kambing.
Sudah 30 tahun lebih, bapak tiga orang anak dari istrinya Sahera berjualan di Jalan Lamuru. Tak jauh dari tempat dia tinggal bersama keluarganya di Jalan Masjid Raya.
Keberhasilannya memiliki puluhan ekor kambing disebut tidak lepas dari dorongan orang tuanya. Di mana mulai dari nenek sampai bapaknya dulu adalah penjual kambing hingga diteruskan kepadanya dan saudara – saudaranya sampai sekarang ini.
“Dari usia 7 tahun saya sudah diajak ke kandang kambing tempat jualan bapak yang sekarang ini saya lanjutkan. Pulang sekolah, saya baru datang bantu kasi makanan kambing dan bersihkan kandang,” katanya.
Fokusnya melanjutkan bisnis bapaknya menjual kambing berjalan di 2001 lalu. Waktu itu dirinya masih duduk kelas 1 SMP. Sebagai pemula, dia diberikan satu ekor kambing oleh bapaknya. Kambing jantan miliknya dirawat sampai usianya cukup tua, besar dan kemudian dijual.
Hanya dua hari menitip kambing di kandang bapaknya, satu ekor kambingnya laku terjual. Uang hasil penjualan kambing disimpan sebagai modal untuk membeli kambing dan sisanya ditabung untuk modal membeli kambing lagi.
“Setelah dua tahun putar-putar uang, alhamdulillah bisa tambah – tambah beli kambing lebih banyak sampai 80 ekor sampai sekarang ini,” tambahnya. (arf)
