INGIN memperjuangkan nasib guru honorer. Poin penting itu menjadi salah satu yang akan diperjuangkan Jupriadi jika kelak terpilih sebagai wakil rakyat atau anggota DPRD Kota Makassar.
Dia sangat paham benar suka duka seorang tenaga honorer. Sebab, lelaki yang akrab disapa Jupri ini menjadi bagian dari ribuan tenaga guru honorer yang hingga saat nasibnya belum diperhatikan secara maksimal oleh pemerintah.
Jupri tercatat sebagai guru honorer di SMAN 10 Makassar sejak 2007 silam. Artinya, kurang lebih 11 tahun sudah pengabdiannya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ia nikmati.
Jupri awalnya mengajar bidang studi TIK atau Teknologi Informasi Komputer (TIK). Namun, sejak kurikulum tahun 2013 diberlakukan, mata pelajaran tersebut dihapuskan. Beruntung, dia bisa tetap bertahan di sekolah tersebut. Karena selain menjadi guru honorer, dia juga dipercaya untuk menjadi teknisi yang bertanggung jawab pada dua laboratorium komputer di SMAN 10.
Kembali ke rencananya bertarung pada pemilihan calon legislatif (caleg) yang akan dihelat 2019 mendatang. Jupri bergabung sebagai bakal caleg pada Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Makassar. Alasannya maju melalui PKPI, karena apa yang diperjuangkan partai ini sejalan dengan tujuannya untuk menjadi seorang wakil rakyat. Apalagi, dia mengaku cukup kagum dengan sosok sang Ketua Umum Diaz Hendropriyono yang masih muda, energik, namun sudah bersedia memikirkan nasib bangsa ke depan.
Jupriadi tercatat sebagai caleg PKPI Makassar nomor urut 5. Dengan daerah pemilihan (Dapil) 4, wilayah Kecamatan Panakkukang dan Manggala.
Lelaki kelahiran Antang, 29 tahun silam itu memiliki tujuan mulia. Dengan visi inspirasi tanpa batas, dan misi memperjuangkan ruang inspirasi dan kreatifitas untuk semua lapisan masyarakat, Jupri sangat berharap bisa menjadi bagian dari wakil rakyat yang bisa memperjuangkan kebutuhan masyarakat.
Sebagai guru honorer, dia sangat menyadari jika kondisi keuangannya sangat terbatas. Kalau mengandalkan honor dari profesinya itu, lelaki yang masih hidup sendiri ini tak bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Apalagi, kadang terbayar tiga bulan sekali.
Sementara, Jupri juga menjadi salah satu tumpuan keluarganya. Ayahnya selama beberapa tahun terakhir sudah tidak lagi bekerja. Sementara sang ibu hanya seorang ibu rumah tangga biasa.
Beruntung, Jupri memiliki kerja sambilan lainnya. Anak pertama dari empat bersaudara ini bergabung dalam salah satu manajemen film atau rumah produksi (PH) Sineas Makassar.
“Beruntung karena saya bisa bantu-bantu di Sineas Makasssar. Bagaimanami kodong rekanku sesama guru honorer yang tidak punya pekerjaan sampingan. Karena itu, saya merasa ini harus diperjuangkan,” ungkapnya dalam bincang-bincang santai dengan BKM akhir pekan lalu.
Dia sangat menyadari, untuk maju dalam pencalegan, dirinya tidak didukung oleh budgeting yang memadai. Namun, dia yakin, dengan ketulusan, kerja keras dan sosialisasi secara intens kepada masyarakat, usaha dan niatnya akan diijabah oleh Allah Swt. (rhm/rus)
Kondisi Keuangan Terbatas, Yakin dengan Ketulusan
