Site icon Berita Kota Makassar

Sulap Sampah Jadi Aneka Barang

Di SEKRETARIAT Yapem terdapat sejumlah display hasil kerajinan tangan dari barang bekas. Tepatnya sampah yang bagi sebagian orang tidak berguna lagi. Beragam tas dari plastik, bekas gelas air mineral, hingga bungkus sabun
dan lainnya terpajang berjejer.

Laporan: RAHMA AMRI

Benda-benda tersebut merupakan produk dari sang isteri, Ummah bersama sejumlah isteri pemulung yang berada di bawah wadah Yapem.
Pada dasarnya, Ummah memiliki keterampilan dalam mengkreasikan barang. Dia juga terampil untuk menjahit. Tidak menyia-nyiakan keterampilan tersebut, diproduksi atau didaur ulang lah berbagai barang kebutuhan sehari-hari dari aneka sampah tersebut.
Hasilnya lumayan. Dalam berbagai pameran, Ummah dan kawan-kawannya kerap mengisi stand-stand pameran.
Bahan baku diambil dari para pemulung. Untuk sampah plastik yang bisa didaur ulang, dia menghargai sebesar Rp3000 per kilogram.
Bersama sang suami, Rahman, aneka produk yang dihasilkan berembel-embel sayang lingkungan. Jadi, kalau yang diproduksi adalah tas, maka disebutlah tas sayang lingkungan.
Ternyata, aktifitas itu mampu memberdayakan isteri pemulung sehingga mereka bisa mengisi waktu dengan kegiatan yang positif.
Hasil produksinya itu masih dipasarkan secara terbatas. Pada saat pameran atau pada orang-orang yang sudah mengetahui hasil olahan limbah tersebut.
Harga yang ditawarkan kepada pembeli untuk setiap kreatifitasnya cukup terjangkau. Tergantung tingkat kerumitan pembuatan dan bahan yang digunakan.
“Untuk tas jinjing yang cantik, harganya berkisar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu, ” ungkapnya.
Bersentuhan dengan pemulung identik dengan sampah. Stigmanya berarti yang kotor-kotor.
Rahman mengaku, stigma itu terlanjur melekat di dirinya. Namun itu dianggap hal biasa. Resiko dari sebuah dedikasi.
Dia hanya berharap, ke depan, pemulung tidak lagi dipandang sebelah mata. Pemerintah bisa merangkul mereka membukakan ruang untuk mencari nafkah secara terbuka dan baik. Tanpa perlu dicibir. Kalaupun ada yang tidak baik, itu hanya perbuatan oknum. Karena apapun profesi seseorang, tetap saja akan ada orang baik dan tidak baik.
Abdul Rachman Nur di depan penulis juga menjelaskan pendirian Yayasan Peduli Pemulung (Yapem) tahun 2005 lalu. Saat ini sudah sekitar 800 pemulung tergabung dalam Yapem. Mereka kebanyakan berasal dari wilayah bagian selatan provinsi ini. Yayasan ini memfasilitasi para pemulung dalam berbagai segi. Termasuk jika ada anggotanya yang terlibat persoalan. Termasuk memfasilitasi mereka untuk memperoleh kepercayaan diri, memberi ruang untuk berkreasi terhadap barang bekas yang diperoleh dari hasil memulung, dan masih banyak lagi
Awalnya, Abdul Rachman memperhatikan aktifitas para pemulung. Mereka kebanyakan adalah orang yang tidak memiliki skill khusus yang terbelenggu oleh kemiskinan. Dan untuk melanjutkan hidup, mereka terpaksa harus memulung.
Abdul Rachman sangat yakin, mereka sebenarnya orang-orang semangat yang ingin merubah hidup. Namun kondisi tidak memungkinkan untuk itu.
“Jadi saya berpikir bagaimana saya bisa melakukan sesuatu untuk mereka. Agar timbul kepercayaan diri, mereka bisa memulung dengan benar. Kemudian, ada nilai tambah yang bisa dihasilkan dari barang yang mereka dapat dari tempat sampah, serta tujuan positif lainnya, ” ungkap Abdul Rachman saat ditemui di bengkel kerja yang juga menjadi Sekretariat Yapem di Jalan Batua Raya XIV Nomor 12, Makassar, belum lama ini.
Dia bercerita, terkadang dirinya harus membantu seorang pemulung yang terjerat persoalan hukum. Sebenarnya, kata dia, dari beberapa persoalan yang terjadi, tanpa melakukan pembelaan terhadap para pemulung, berawal dari ketidaktahuan. Misalnya, saat mencari barang bekas, di dekat tempat pembuangan misalnya, ada besi tua yang dianggap tak bertuan, diambil untuk dijual. Ternyata sang pemulung dianggap mencurinya, padahal sebenarnya tidak. Namun dia mengakui ada juga beberapa oknum yang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan hal-hal kurang terpuji.
“Yah, itulah suka duka yang kami hadapi, ” ungkapnya.
Seharusnya, kata dia, masyarakat tidak perlu memandang negatif terhadap pemulung. Abdul Rachman menganggap mereka adalah orang-orang yang istimewa. Bayangkan saja, para pemulung itu mampu menahan aroma tak sedap dari sampah yang dihadapi setiap hari. Mereka tidak risih untuk makan di lokasi yang bagi sebagian besar orang dianggap sangat tidak higienis. Tapi toh, mereka tetap sehat, fisiknya bugar. Hidungnya sudah beradaptasi dengan aroma-aroma bau busuk dari sampah.
“Itulah mengapa saya sebut mereka itu istimewa, ” katanya. (*)

Exit mobile version