HIDUP mengais rezeki di kota orang bukanlah menjadi beban bagi Sunaryo. Pria umur 68 tahun si pemilik usaha es dawet yang sering mangkal di depan Taman Makam Pahlawan, Makassar mengaku Kota Makassar adalah tantangan tersendiri dalam berusaha.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Meski berasal dari daerah Banjarnegara, Jawa Tengah, nama Es Dawet Ayu sendiri memiliki cerita sejarah, bagi sosok Sunaryo.
Layaknya minuman lain berbahan cendol dan gula merah, Sunaryo menceritakan jika resep turunan es dawet buatannya itu sudah sejak 21 tahun lamanya dan menjadi resep turun temurun sanak keluarganya.
“Namanya Es Dawet 97, itu artinya saya sudah berjualan sejak lama mba. Dulunya di Jawa berusaha, dan berlanjut ke Makassar,” ucapnya saat ditemui penulis disela-sela beristerahat usai berkeliling.
Tidak hanya itu, resep es dawet buatannya, dikatakannya secara umum berbeda. Walaupun bisa dikatakan bahannya terbuat dari santan kelapa, cendol, dan gula merah, namun rasa khas yang dimilikinya menjadikan es dawet berbeda dengan kuliner minuman dingin di Makassar, itulah yang menjadi daya tarik tersendiri untuk warga Kota Makassar mencicipi es dawet buatannya.
“Beda mba, rasanya saja beda dengan es-es disini, yang apanya namanya es cendol karena bedanya akan ketahuan saat lidah mba mencicipinya,” ceritanya sambil senyum.
Apalagi, pada awalnya ia berjualan di Makassar belum menggunakan gerobak melainkan pikulan. Bahkan sejak dulu dirinya sudah berjualan di pinggir jalan di Banjarnegara. Namun karena harus mengadu nasib di perantauan dirinya harus banting tulang mencukupi kebutuhannya.
Terlebih dirinya harus menghidupi istri dan ketiga anaknya, ditambah lagi ada empat orang keponakan yang juga ikut dengannya merantau mengadu nasib di Makassar. Awalnya Sunaryo tidak tahu menahu harus kerja apa, selain harus menjadi tukang bangunan, sebab tujuan awalnya ia merantau untuk hal tersebut.
“Belum jualan ini dulu, saya dulunya hanya tukang bangunan, tapi berat mba. Nanti 10 tahun ini saya putuskan jual ini (Es Dawet) baru ikut dua anak saya, keponakan saya. Kalau istri tidak ikut kesini, di kampung saja,” katanya.
Lanjutnya, hingga saat ini sudah banyak penjual es dawet dari Banjarnegara. Variasi rasanya juga sudah berkembang sesuai dengan selerah. Dan umumnya pasti disukai oleh banyak orang, namun pengemar rasa buatan Es Dawet 97 Sunaryo tidak pernah pudar.
“Banyak langganan saya, setiap lewat tahu saya berjualan dan mereka singgah beli. Kuncinya kita ramah itu, pembeli itu sudah pasti senang beli es kita,” ujarnya.
Selain itu, selama Suanryo mengais rezeki di Makassar, ia harus tinggal mengkontrak. Pertahunnya ia membayar sebesar Rp3,5 juta, ia patungan dengan tujuh orang. Belum lagi, setiap 3-6 bulan sekali ia harus mengunjungi istrinya di Banjarnegara.
“Anak larang ambil rumah katanya mahal, ribet. Saya juga rutin pulang jeguk istri, pergi naik pesawat, balik kesini naik kapal, ongkos pulang baliknya itu mati Rp3 juta mba,” tuturnya. (*)
