Site icon Berita Kota Makassar

Keuntungan Bisa mencapai Puluhan Juta Perbulan

TERPENUHINYA kebutuhan sehari-hari termasuk dapat menabung untuk biaya pulang kampung, membuat Sunaryo sudah merasa puas. Ia tidak terlalu bermimpi jauh untuk bisa besar dari apa yang ia dapat sekarang.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

“Terpenting sekarang itu, bagaimana mendapatkan ongkos pulang kampung, bisa hidup di tanah orang dengan layak dan tidak bikin susah orang lain sudah cukup mba,” ucapnya.
Terlebih lagi, pekerjaan yang ia kerjakan saat ini sudah lebih dari cukup, daripada pekerjaan sebagai tukang batu yang lumayan berat dan tenaganya terkuras habis.
Apalagi saat ini untung yang diperoleh dari hasil jualan es dawetnya lumayan besar. Dalam sehari ia bisa menjual 60 gelas lebih dalam seharinya, per gelas Sunaryo menjualnya dengan harga Rp5 ribu.
“Biasanya dapat Rp250-300 ribu lebih dalam sehari untuk satu gerobak. Ada tujuh gerobak yang saya buat sendiri sama ponakan dan anak. Ini mendingan mba, untungnya lumayan dan kerjanya tidak terlalu berat, kalau mau beli bahannya pun itu cukup Rp250 ribu sudah bisa untuk 7 gerobak. Keuntungannya kami bagi hasil setiap harinya,” bebernya.
Jika dihitung penghasilannya dalam sebulan, Sunaryo bisa mengantongi Rp9-10 juta per gerobak. Jam kerjanyapun, mulai dari pukul 10 pagi hingga pukul 06.00 sore.
“Lumayan juga mba dapatnya, itu semua saya kumpulkan untuk pulang ke kampung 3-6 bulan sekali. Malu mba pulang ke kampung tidak bawah apa-apa untuk keluarga di Banjar. Jadi harus kerja keras,” ujarnya.
Menurut Sunaryo di depan penulis, hidup manusia di dunia ini memiliki peran yang berbeda-beda, namun satu hal yang tidak boleh kita lupakan, pekerjaan apapun itu adalah untuk mencari rezeki Allah. Hal itulah yang meringankan hatinya jika musibah datang menghampiri.
“Seringkali ada orang yang beli namun tidak bayar. Saya menunggu sampai lama ternyata orangnya tidak membayar. Ya tidak apa-apa. Kan sudah diminum juga. Sah kok itu untuk dia,” ucapnya.
Terlebih lagi saat ini, banyaknya saingan yang harus iaterima dengan lapang dada. Beda ketika awal 2009 lalu saat ia menjual di Makassar, untung ia dapatkan bisa lebih dari itu, bahkan pulangnya pun sangat cepat pukul 11.00 siang setelah dagangannya sudah habis.
“Dulunya cepat pulangnya. Sekarang sudah banyak saingan mba, namanya saja persaingan hidup, jadi mau-tidak mau harus bersyukur saja, kita juga punya rezeki sendiri nanti,” katanya.
Pria berasal dari daerah Banjarnegara, Jawa Tengah ini sempat menceritakan nama Es Dawet Ayu. Layaknya minuman lain berbahan cendol dan gula merah, Sunaryo menceritakan jika resep turunan es dawet buatannya itu sudah sejak 21 tahun lamanya dan menjadi resep turun temurun sanak keluarganya.
“Namanya Es Dawet 97, itu artinya saya sudah berjualan sejak lama mba. Dulunya di Jawa berusaha, dan berlanjut ke Makassar,” ucapnya saat ditemui penulis disela-sela beristerahat usai berkeliling.
Tidak hanya itu, resep es dawet buatannya, dikatakannya secara umum berbeda. Walaupun bisa dikatakan bahannya terbuat dari santan kelapa, cendol, dan gula merah, namun rasa khas yang dimilikinya menjadikan es dawet berbeda dengan kuliner minuman dingin di Makassar, itulah yang menjadi daya tarik tersendiri untuk warga Kota Makassar mencicipi es dawet buatannya.
“Beda mba, rasanya saja beda dengan es-es disini, yang apanya namanya es cendol karena bedanya akan ketahuan saat lidah mba mencicipinya,” ceritanya sambil senyum.
Apalagi, pada awalnya ia berjualan di Makassar belum menggunakan gerobak melainkan pikulan. Bahkan sejak dulu dirinya sudah berjualan di pinggir jalan di Banjarnegara. Namun karena harus mengadu nasib di perantauan dirinya harus banting tulang mencukupi kebutuhannya.
Terlebih dirinya harus menghidupi istri dan ketiga anaknya, ditambah lagi ada empat orang keponakan yang juga ikut dengannya merantau mengadu nasib di Makassar. Awalnya Sunaryo tidak tahu menahu harus kerja apa, selain harus menjadi tukang bangunan, sebab tujuan awalnya ia merantau untuk hal tersebut.
“Belum jualan ini dulu, saya dulunya hanya tukang bangunan, tapi berat mba. Nanti 10 tahun ini saya putuskan jual ini (Es Dawet) baru ikut dua anak saya, keponakan saya. Kalau istri tidak ikut kesini, di kampung saja,” katanya.
Lanjutnya, hingga saat ini sudah banyak penjual es dawet dari Banjarnegara. Variasi rasanya juga sudah berkembang sesuai dengan selerah. Dan umumnya pasti disukai oleh banyak orang, namun pengemar rasa buatan Es Dawet 97 Sunaryo tidak pernah pudar.
“Banyak langganan saya, setiap lewat tahu saya berjualan dan mereka singgah beli. Kuncinya kita ramah itu, pembeli itu sudah pasti senang beli es kita,” ujarnya.
Selain itu, selama Suanryo mengais rezeki di Makassar, ia harus tinggal mengkontrak. Pertahunnya ia membayar sebesar Rp3,5 juta, ia patungan dengan tujuh orang. Belum lagi, setiap 3-6 bulan sekali ia harus mengunjungi istrinya di Banjarnegara.(*)

Exit mobile version