KETUA Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Pusat Muhammad Ramli tampil blak-blakan di Harian Berita Kota Makassar, Kamis (2/8). Ia hadir dalam sesi diskusi Mempoki ri BKM (Membahas Problematika Kita di BKM). Topik utamanya adalah Dilema Guru Zaman Now.
Dalam pemaparannya, Ramli memaparkan tentang kondisi pendidikan Indonesia di kekinian. Ia menyebut bahwa dari dulu hingga sekarang, permasalahan pendidikan di negara kita masih terus terjadi. Bahkan kemungkinannya akan berlangsung dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Ramli kemudian menyebut salah satu contohnya, yakni tentang kasta sekolah di negeri ini. Ia membaginya dalam tiga kasta. Yakni Brahmana, Ksatria dan Sudra.
Kasta Brahmana, seperti yang dikatakan Ramli, dihuni oleh sekolah-sekolah swasta favorit. Para orangtua yang memiliki ekonomi mapan, cenderung menyekolahkan anaknya di sekolah ini walau dengan biaya yang begitu mahal.
Untuk kasta Ksatria, di dalamnya merupakan sekolah negeri. Namun sekolah negeri ini terbagi lagi. Ada yang favorit, ada juga yang kategori tidak favorit.
Kasta Sudra masih di sekolah swasta. Namun di kasta ini dihuni sekolah swasta yang terbelakang. Artinya, siswa yang ada di sekolah ini adalah mereka yang tak tertampung di sekolah negeri, sehingga mau tak mau memilih sekolah kasta ini.
”Ini adalah fakta yang terjadi di Indonesia. Kondisi ini telah berdampak pada timbulnya kesenjangan yang dari waktu ke waktu kian terasa. Mengapa sebelumnya dikatakan bahwa kemungkinan permasalahan ini akan berlaku jangka panjang, karena kasta-kasta sekolah inilah, yang bahkan sampai sekarang telah membentuk motivasi orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tertentu itu,” terangnya.
Selain itu, permasalahan guru menjadi problem utama. Selain merekrut siswa yang memiliki intelektual baik, beberapa sekolah favorit juga cenderung merekrut guru-guru terbaik untuk diangkut ke sekolah ini. Nah, inilah yang dikatakan Ramli juga merupakan sebuah kesalahan.
“Kalau misalnya ada siswa yang berasal dari sekolah favorit mendapatkan prestasi, para guru ini cenderung bangga. Padahal nyatanya walaupun guru itu tidak mengajar sekalipun, siswa ini bisa saja tetap berprestasi karena daya pikirnya yang bagus. Baca buku saja dia sudah bisa mengerti pelajaran. Harusnya kan para guru yang memiliki kreativitas lebih ini ditempatkan di sekolah-sekolah yang tidak favorit, supaya terjadi pemerataan,” jelas Ramli.
Berangkat dari permasalahan itu, IGI kata Ramli, mendorong diberlakukannya sistem zonasi. Dengan sistem ini memungkinkan para siswa untuk melanjutkan sekolah di zona terdekat dari kediamannya. Tujuannya adalah untuk mangatasi pelajar berburu masuk ke sekolah-sekolah favorit, yang jauh dari tempat dia berdomisili atau keluar dari daerahnya.
“Sistem zonasi ini diharapkan mampu memaksa, mengubah, dan mendorong pemerataan pendidikan,” kata Ramli.
Namun ternyata, sistem ini juga memiliki kekurangan. Yang paling terasa adalah munculnya tingkat stres dari para orang tua dan siswa. Makanya, perlu ada solusi lain untuk mengatasi hal tersebut.
Masih soal guru, ternyata tenaga pendidik di Indonesia juga masih memiliki kekurangan baik dari segi kuantitas, maupun kualitas. Bahkan Ramli menganggap bahwa selama ini pemerintah tak serius dalam penyelesaian masalah ini.
Tidak adanya pengangkatan guru yang begitu timpang dengan kenyataan yang ada. Jumlah guru, disebutkan oleh Ramli sangat kurang saat ini. Bahkan Ramli meramalkan, dalam waktu 10 tahun lagi Indonesia bisa kehabisan guru. Mengapa?
”Di tahun 2017 saja, ada 38.829 guru yang pensiun. Pada 2018, ada 51.458 guru yang pensiun. Dan masuk pada 2019 nanti, ada 62.759 guru yang pensiun. Hingga sampai pada 2021 nanti, ada 295.779 guru yang pensiun. Apalagi jika dihitung lima tahun setelah itu, kemungkinan guru sudah tak ada lagi, jika moratorium penerimaan guru masih diberlakukan,” tandasnya.
Selain masalah kuantitas, kualitas guru saat ini juga masih menjadi problem. Banyaknya kasus kekerasan yang dilakukan maupun yang dialami oleh guru, dikarenakan selama ini guru selalu sibuk mengajarkan siswanya tentang kompetensi profesional.
Padahal beberapa kasus kekerasan yang terjadi, mengindikasikan bahwa siswa bermasalah dalam kompetensi sosial. Kompetensi inilah juga yang harusnya menjadi penekanan para guru saat ini.
Ramli berbicara khusus juga mengenai SMK. Menurut data, lulusan SMK saat ini adalah yang paling banyak menganggur. Hal ini karena lulusan SMK memiliki berbagai permasalahan sendiri.
“Lulusan SMK itu mau lanjut kuliah, tapi persiapan mereka tak sama dengan lulusan SMA. Karena di SMK hanya mempelajari pelajaran yang mengkhusus. Beda sama SMA. Mau lanjut kerja sesuai bidangnya, tapi tak memiliki keahlian yang cukup di industri. Belajar mesin misalnya, tapi tak pernah lihat mesin. Karena industri kita di sini tidak dekat dengan SMK,” jelasnya.
Ramli menegaskan, para lulusan SMK ini memang harus didekatkan dengan industri. Supaya mereka bisa langsung mempraktikkannya dengan nyata dan tak banyak yang kehilangan pekerjaan.
Ramli memiliki solusi atas semua permasalahan pendidikan ini. Menurutnya, Indonesia memang harus memiliki pemerintahan yang kuat dalam menyelesaikan ini. Alih fungsi juga menjadi hal yang perlu. Guru dituntut memiliki keahlian ganda juga merupakan solusi. Di mana satu orang guru bukan hanya bisa mengajarkan satu mata pelajaran saja. Terakhir yang menjadi solusi adalah pengurangan mata pelajaran.
“Kenapa kita membebani siswa dengan banyak mata pelajaran, padahal beberapa mata pelajaran malah tak dibutuhkan siswa dengan keahlian tertentu,” ucap Ramli. (nug/rus/b)
”10 Tahun ke Depan Kita Bisa Kehabisan Guru”
