MAKASSAR, BKM– Ada banyak alasan yang digunakan bagi para pak ogah atau pemandu kendaraan yang hadir dan berdiri di bukaan median jalan. Mulai dari usaha untuk mencari uang makan, sampai pada mengais rezeki untuk bisa melanjutkan sekolah.
Seperti disampaikan Muhammad Asri. Ia beroperasi di Jalan Aroepala, perbatasan Makassar-Gowa.
BKM menemui Asri, Jumat siang (3/8). Dari mulutnya, meluncur pengakuan bahwa ia sudah lebih dua tahun lamanya menjadi Pak Ogah. Pekerjaan tersebut dia dilakukan bersama sembilan orang temannya.
“Dari kelas 2 SMP ka jadi Pak Ogah. Tidak pernahji ada yang tegurka Satpol PP Makassar atau Dishub Makassar. Justru biasa saya sama-sama duduk di pos jaga,” aku Asri, warga Gowa di Jalan Abdul Thalib Dg Barang.
Menurut Asri, menjadi Pak Ogah adalah pilihannya saat ini untuk mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan hari-harinya, khususnya makan. Setiap pagi mulai pukul 10.00 sampai 16.00 Wita berdiri memandu kendaraan yang ingin memutar di bukaan median jalan.
“Setiap hari saya turun. Tidak ada libur. Dari pagi sampai sore saya arahkan kendaraan yang mutar di kapsul jalan ini. Tidak banyakji saya dapat. Paling banyak Rp80 ribu dan saya tabung,” tambahnya.
Hal senada juga dikatakan Saldi. Warga Minasa Upa blok N ini mengaku sudah dua tahun menjadi Pak Ogah di persimpangan jalan antara Aroepala dan Minasa Upa, dekat perbatasan Makassar-Gowa. Setiap hari ia memandu kendaraan dari pukul 10.00 sampai pukul 17.00 Wita.
“Sudah satu bulanmi tidak ada petugas Dishub Makassar jaga-jaga di persimpangan jalan ini. Tidak pernahji ada yang larangki. Kalaupun ada petugas, kita dizinkanji juga,” akunya.
Berbeda dengan Asri, Saldi mengaku setiap hari mampu membawa pulang uang Rp60 ribu di hari biasa. Di malam minggu sering mendapatkan Rp100 ribu. Uang dari beroperasi sebagai Pak Ogah ia gunakan membantu orang tuanya untuk memenuhi biaya kebutuhan hari-hari. Sebagiannya lagi ditabung.
“Kita memang banyak kalau turun. Hampir di sepanjang Jalan Aorepala itu teman-temanji semua. Siapa yang dikasi uang, itumi yang punya. Tidak ada yang dibagi. Jadi masing-masing yang kerja itu yang ambil uangnya,” terangnya.
Kasat Lantas Polrestabes Makassar Kompol Masaluddin, yang dihubungi mengatakan, hampir setiap hari pihaknya mengambil langkah-langkah agar Pak Ogah ini tidak menutup akses jalan dan memicu kemacetan.
Namun semua itu, kata Masaluddin, merupakan tugas utama dan wewenang dari Dinas Sosial dan pemerintah kota. “Harusnya kan pemerintah daerah yang memberilkan tindakan tegas terhadap Pak Ogah,” tandasnya. (mat/rus)
Petugas tak Ada, Pak Ogah pun Beraksi
