AGUSTUS tahun ini merupakan momen singkat bagi pedagang musiman tepi jalan mengumpulkan pundi – pundi rupiah. Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 73 Kemerdekaan Indonesia tetap dimanfaatkan untuk mengais rezeki dengan jualan kain bendera merah putih, dan menjual bambu sebagai tiang bendera. Seperti yang dilakoni Burhanuddin.
Laporan: ARIF QADRY
Fenomena seperti itu cukup mudah disaksikan dan hampir di seluruh penjuru kota. Seperti hal di Jalan Yusuf Daeng Ngawing Kelurahan Tidung, Kecamatan Rappocini. Disana penjual bambu mulai sibuk melayani setiap calon pembeli yang datang. Hampir tiada hentinya penjual bergantian melayani setiap calon pembeli yang datang menanyakan harga dan memeriksa batang-batang bambu berkualitas baik.
Jenis bambu yang dijual Burhanuddin di Jalan Yusuf DG Ngawing adalah jenis Bambu Tali. Bambu yang memiliki warna hijau dengan panjang maksimal 5 meter memang dijual khusus digunakan sebagai tiang bendera. Karena memiliki diameter tidak besar maka cocok dipancangkan di halamam depan rumah atau perkantoran.
Ada dua varian warna bambu dijualnya mulai warna yang masih natural berwarna hijau dan warna silver dari hasil pengecatan. Tentu harga bambu dari dua varian warna dipasarkan berbeda yaitu, Rp25.000 untuk bambu warna silver dan Rp15.000 bambu natural (belum cat).
“Lebih banyak masyarakat mengambil bambu yang belum di cat karena mungkin lebih murah apalagi kalau belinya dengan jumlah banyak. Biasanya bambu sudah dicat itu setiap orang beli cuma satu batang saja paling banyak dua batang,” sebut Burhan kepada penulis.
Pendapatan dari hasil jualan bambu untuk tiang bendera aku pria kelahiran Jeneponto, 17 Juli 1986 tidak menentu. Kadang bisa dalam sehari bisa menjual 20 batang bambu ataukah hanya 10 batang per hari saja. Keuntungan dari hasil jualan bambu dikatakan tidak besar hanya Rp8.000 per batang. Sementara risiko kerugian membayangi jika bambu tiang benderanya sedikit laku terjual lewat dari momen perayaan 17 Agustus.
Olehnya itu, bapak empat orang anak dari istri bernama Daeng Neni mulai memesan bambu tiang benderanya di pertengahan bulan Juli sekaligus mulai menjualnya. Jadi sedikit kemungkinan banyaknya batang bambu tinggal selesai perayaan 17 Agustus.
“Pertengahan Juli sudah banyak mi orang datang cari-cari bambu tiang bendera. Pembeli sudah mulai sepih satu hari sebelum perayaan 17 Agustus. Lewat itu pasti sepih sekali mi lagi paling bambu untuk bangunan yang dicari,” sebutnya. (arf)
