ADA yang unik dari beberapa tempat pencucian kendaraan di Jalan Abdul Kadir Makassar. Sebagian dari petugas cuci kendaraan disana adalah wanita. Seperti Hapsa, salah satu wanita yang bertugas mecuci kendaraan.
Laporan: NUGROHO
Walaupun saat penulis ke lokasi itu, terlihat beberapa petugas cuci kendaraan adalah pria, namun tak sedikit juga para wanita melayani pencucian. Bahkan sampai malam hari.
Hapsa adalah salah satunya. Ia mengatakan, sebenarnya ia bertugas dari pagi hingga sore hari, namun biasanya juga kalau tempatnya sedang ramai, ia bisa sampai malam hari.
Sudah sejak lima tahun lalu wanita 23 tahun ini melakukan pekerjaan mencuci mobil maupun motor para pelanggan. Sejak ia awal masuk kuliah, sampai ia menyelesaikan studinya kini.
Hapsa adalah wanita asal Maros yang menetap di Makassar karena ingin kuliah. Namun karena ia harus menghidupi dirinya sendiri, makanya ia sejak dulu bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliah serta hidupnya selama di Makassar.
Untung saja “Cuci Mobil Sinar Tanralili” yang ia tempati adalah milik tantenya sendiri. Sehingga hal ini cukup membantu dirinya dalam mencari nafkah.
Ayahnya adalah seorang petani. Ia kini merupakan alumni dari STIEM Bongaya Makassar, Jurusan Akuntansi. Selama ini ia tinggal di tempat cuci mobil itu. Sembari kuliah, ia mengumpulkan uang dari hasil mencuci mobil dan motor.
Kuliah sambil bekerja tentu bukanlah hal yang mudah. Fokus pekerjaan pasti akan terbagi. Namun selama ini ternyata Hapsa terus fokus hingga akhirnya bisa menyelesaikan studinya.
Sebagai seorang mahasiswa yang nyambi pekerjaan sebagai tukang cuci kendaraan, rasa gengsi tentu ada di benak Hapsa. Namun itu dikatakan Hapsa hanya pada saat awal-awal ia mulai bekerja sebagai tukang cuci.
Seiring berjaannya waktu, kedewasaanpun mulai tumbuh di pikiran Hapsa. Ia mulai tak mempedulikan soal gengsi itu. Semangatnya untuk membiayai kuliahnya ternyata lebih besar dari gengsinya. Iapun tak pantang menyerah.
“Awalnya pasti gengsi, ada mahasiswa jadi tukang cuci mobil. Tapi lama-lama dewasa ji ki. Daripada harus merepotkan orang tua, saya nikmati saja pekerjaanku,” kata Hapsa.
Bahkan dikatakannya, teman-teman kampusnya pun iri terhadapnya. Iri karena Hapsa bisa mengurus dirinya sendiri, termasuk biaya pendidikannya. Tanpa bantuan siapapun.
Dibalik itu, ia juga memiliki harapan besar akan dirinya. Ia tak mau menyia-nyiakan sarjana akuntansi yang telah diraihnya. Saat ini, ia juga sedang menunggu untuk bisa diterima di salah satu Bank yang ada di Makassar.
“Saya mau jadi pengusaha, pengusaha apapun itu. Termasuk juga pegawai bank. Sekarang lagi tuggu panggilan, semoga perjuanganku selama ini ndak sia-sia,” harapnya.(nug/war/b)
