MAKASSAR, BKM — Sebanyak 25 orang mahasiswa jenjang sarjana, magister, dan doktor terpilih dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (Prodi PBIng) di Universitas Negeri Makassar (UNM) memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan merumuskan ‘research gap’ pada Agustus 2018.
Kegiatan yang merupakan realisasi Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan oleh Prof. Dr. Baso Jabu, M.Hum. dan Chairil Anwar Korompot, S.Pd., M.A., Ph.D., dengan dukungan pendanaan dari Program Pascasarjana UNM.
PKM ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas penelitian dan karya tulis ilmiah (KTI) mahasiswa UNM, khususnya mereka yang menekuni bidang Pendidikan Bahasa Inggris.
Ketua Pelaksana PKM ini, Prof. Dr. Baso Jabu, M.Hum., menuturkan bahwa meskipun mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris secara umum sudah dibekali pengetahuan dan keterampilan meneliti dan menulis KTI, serta telah diwajibkan melaksanakan penelitian untuk penyelesaian studi mereka, di antara mereka masih banyak sekali yang kurang atau tidak memahami salah satu prinsip dasar dalam penelitian dan penulisan KTI.
“Prinsip dasar itu biasa disebut dalam dunia penelitian dan publikasi internasional sebagai research gap atau celah penelitian,” urai guru besar UNM bidang language testing yang biasa disapa Prof. Baso ini.
Sementara itu, Chairil Anwar Korompot, S.Pd., M.A., Ph.D. selaku anggota pelaksana mengungkapkan bahwa berdasarkan pengalaman para dosen menjadi pembimbing atau penguji skripsi, tesis, dan disertasi mahasiswa selama ini, tampak bahwa sebagian besar mahasiswa belum mengenal dan memahami konsep celah atau gap dalam penelitian atau KTI ini.
“Kurangnya pemahaman itu mengakibatkan sejumlah kelemahan, terutama kelemahan dalam argumen tentang topik penelitian yang telah dipilih, alasan untuk melakukan penelitian, rumusan permasalahan penelitian, rumusan tujuan penelitian, signifikansi penelitian, ruang lingkup penelitian, pengembangan kajian kepustakaan, metodologi penelitian, penyajian temuan penelitian dan pembahasannya, implikasi penelitian, dan lain-lain,” kata Dr Korompot.
Dr. Korompot menegaskan, kelemahan-kelemahan tersebut menyebabkan rendahnya mutu dan daya saing KTI yang dihasilkan sehingga tidak cukup alasan bagi penilai atau reviewer untuk menerima atau meloloskan KTI tersebut dalam jurnal bereputasi atau prosiding pertemuan ilmiah tingkat internasional.
Penentuan mahasiswa peserta PKM ini dilakukan melalui rekrutmen terbuka melalui penyebaran link formulir pendaftaran di Google Forms kepada seluruh mahasiswa Prodi PBIng di UNM, baik pada jenjang S1, S2, maupun S3.
Ada sekitar 50 orang mahasiswa dari ketiga jenjang studi tersebut yang mendaftar secara daring (online) dan beberapa mahasiswa yang mendaftar secara langsung melalui telefon dan pesan melalui SMS, WhatsApp, dan e-mail.
Dari seluruh peminat, hanya 25 orang yang kemudian dinyatakan lolos seleksi sebagai peserta. Namun karena tingginya minat mahasiswa untuk mengikuti PKM ini, pelaksana mengizinkan 5 orang peserta tambahan di luar daftar resmi untuk berpartisipasi.
Para peserta sangat mengapresiasi kesempatan mengikuti pelatihan ini. Hanum, seorang mahasiswi S1 tahun pertama, mengakui pelatihan ini membuka mata saya sebagai mahasiswa tahun pertama tentang bagaimana memulai suatu penelitian dengan cara yang benar. “Dan saya senang karena pelatihannya gratis,” ujarnya.
Sementara itu, Febriansah, mahasiswa S2, merasa sangat bersyukur terpilih mengikuti acara ini dan sangat tercerahkan tentang pentingnya menentukan celah penelitian sebagai justifikasi untuk meneliti.
Eni, mahasiswa S3, menyatakan sudah sering mengikuti seminar, workshop, dan kuliah tentang penelitian, tapi baru kali ini benar-benar paham betapa pentingnya research gap dalam penelitian dan bagaimana merumuskannya dalam proposal atau laporan penelitian.
Prof. Baso dan Dr. Korompot sebagai pelaksana berterima kasih kepada para mahasiswa atas partisipasi dan respons positif mereka.
“Saya harap dan yakin bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari pelatihan ini dapat terwujud dalam proposal dan laporan penelitian para mahasiswa ini pada saatnya nanti,” kata Prof. Baso, yang diamini Dr. Korompot.
Mereka berharap pelatihan ini menjadi inspirasi untuk melaksanakan kegiatan PKM atau penelitian dengan topik-topik serupa di UNM atau kampus-kampus lain pada masa mendatang. (rls)
