Site icon Berita Kota Makassar

30 Tahun Bertugas Mengangkat Sound System Setiap Rapat

TERLAKSANANYA rapat-rapat di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar tidak terlepas dari peran Abd Aziz, sebagai pegawai yang bertugas menangani sound system di gedung DPRD Makassar. Sebelum acara atau rapat dewan seperti paripurna sudah dipastikan ada Abd Aziz yang menghandel persoalan microphone.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Sebagai seorang operator sound system yang menangani peralatan – peralatan baik speaker, microphone, kabel, mixer, equalizer dan power amplifier, Abd Aziz dituntut untuk tetap hadir di kantor wakil rakyat sampai rapat selesai. Mereka setiap saat memeriksa keadaan sound system yang bermasalah.
“Saya harus berada di DPRD pukul 08.00 pagi karena biasanya rapat dimulai pukul 10.00. Sebelumnya saya harus periksa semua sound system, speaker, kabel yang bisa saja putus,” ungkapnya saat ditemui penulis saat merapikan kabel mikrofone di ruang Paripurna DPRD Makassar.
Selain itu, Pria kelahiran Ujung Pandang 10 Juni 1964 ini mengaku sudah bertugas di DPRD Makassar sejak 30 tahun lamanya dan menempati posisi sebagai petugas soundsystem di bawah bidang perlengkapan. Kata Aziz, soundsystem yang digunakan dewan dulu tidak sebagus sekarang, sebab suka dukanya ia harus mengangkat sound system yang begitu besar setiap ada rapat dewan.
“Saya sudah bertugas disini dari tahun 1988, sejak gedung DPRD Makassar ini dipindahkan dari Jalan Ratulangi ke AP Petta Rani. Dulu sound system diangkat-angkat untuk memindahkan ke setiap ruang rapat,” bebernya.
Tetapi pekerjaan inilah yang banyak mendapat perhatian, termasuk jika sound system feedback karena kesalahan teknis lainnya. Apalagi, Aziz sendirilah yang bertugas menjadi operator sound di ruang rapat.
“Saya kendalikan sound system ini sendirian, mulai dari ruang paripurna sampai ruang banggar. Saya juga sudah terangkat PNS dari tahun 1986, dan penempatannya di DPRD Makassar,” ucapnya.
Ditanya soal suka dukanya. Ia mengaku jika dukanya kalau sound system dalam keadaan rusak dan harus dibetulkan sebelum rapat berlangsung. Tetapi jika rapat berlangsung sukses sangatlah jarang diperhatikan sang Operator Sound System ini. Aziz juga bercerita bahwa dirinya akan merasa tenang jika rapat dewan telah selesai, sebab adanya kesalahan microphone atau kerusakan sound system maka dialah yang paling was-was.
“Saya itu paling was-was kalau rapat, dan paling lega kalau rapat itu sudah selesai. Takutnya ada salah-salah karena pasti saya yang ditegur. Suka duka itu pasti ada, tapi enak tidak enaknya itu dienakkin saja kalau ada kritik dari pimpinan atau dewan,” bebernya.
Bapak dua anak ini mengaku jika pekerjaan sebagai petugas Operator Sound System tidaklah mudah, sebab ia harus mempelajari sendiri sound tersebut tanpa bantuan orang. Ia juga harus paham mengenai perangkat sound sytem seperti pengaturan audio baik treble, middle, bass, high gain, middle gain, low gain, surround, dan masih banyak lagi pengaturan yang dapat mempengaruhi baik buruknya kualitas suara yang masuk ke peralatan sound system tersebut.
“Susahnya yang saya hadapi kalau tiba-tiba ada kabel yang putus saat rapat. Saya harus mencari lagi kabel mana yang putus dari ratusan kabel yang ada,” akunya.(*)

Exit mobile version