MAKASSAR, BKM–Pemilihan calon anggota legislatif April 2019 mendatang harus menjadi momentum politik bagi kaum perempuan untuk ikut tampil dalam kontestasi demokrasi lokal dan nasional.
Sesuai Daftar Calon Sementara (DCS) untuk dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi selatan, untuk Pemilu 17 April 2019, bakal calon anggota legislatif (Bacaleg) yang menempati nomor urut satu kebanyakan diisi politisi perempuan. Terdapat 37 Bacaleg perempuan yang mendapat nomor urut teratas atau nomor urut 1. Untuk itu, para Bacaleg perempuan yang mendapat kehormatan ditempatkan pada nomor urut 1 harus menyiapkan strategi khusus agar tidak ditumbangkan oleh Bacaleg yang mendapat nomor urut dibawah
Partai Nasdem yang paling banyak menempatkan bacaleg perempuan pada nomor urut 1 masing-masing Andi Rachmatika Dewi di Dapil I Sulsel, Indira Mulyasari Paramastuti di Dapil II Sulsel, Na’ma Abbas di Dapil IV Sulsel serta Desi Susanti Sutomo di Dapil VIII. Adapun tujuh Parpol menempatkan tiga Bacaleg perempuannya pada nomor urut 1 yakni Partai Gerindra, Golkar, Berkarya, PSI, PAN, Demokrat dan PBB. Sementara empat Parpol menempatkan dua Baceleg perempuannya di nomor urut 1 yakni PKS, Perindo, PPP dan PKPI. Empat Parpol lainnya masing-masing PKB, PDIP, Garuda dan Hanura masing-masing hanya menempatkan satu Bacaleg perempuan pada nomor urut 1.
Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nasdem Sulsel Syaharuddin Alrif mengakui bila penempatan empat politisi perepuan dinomor urut 1 sudah sesuai berbagai pertimbangan. Selain elektoral juga karena posisinya di partai. “Kita yakni kader Garnita Malahayati Nasdem meraih dukungan yang bagus di Pileg nanti,”ujar Syaharuddin Alrif, Jumat (24/8). Dosen politik Unibos Makassar, Dr Arief Wicaksono. Arief mengatakan hadirnya perempuan di kanca perpolitikan memberikan leluasa kepada publik bahwa kesetaraan gender sudah benar terwujud. “Menurut saya, sudah bagus sekali itu, dan sudah banyak para perempuan yang maju dan bahkan menang dalam kontestasi demokrasi seperti pilkada,” katanya.
Oleh karena itu, lanjut dia. Isu gender memang kerapkali menjadi isu yang seksi, sekaligus sensitif, bagi para perempuan yang maju di pilkada. Tapi, substansi yang sebenarnya adalah persamaan hak dalam berpolitik.”Isu gender itu substansinya kesetaraan, persamaan hak. Isu itu dapat menjawab situasi dan kondisi perpolitikan kita yang dari dulu sangat dominan maskulinitasnya,”ucapnya.
Pengamat politik dari UIN Alaudin Makassar, Dr Firdaus Muhammad menambahkan bahwa bargaining politik perempuan cukup tinggi ditandai majunya sejumlah elite politik perempuan di Pilkada serentak 2018. “Di Makassar head to head dua politisi perempuan dalam posisi calon wakil wali kota cukup bersaing. Begitu juga di beberapa daerah di Sulsel, tentu. sangat berpeluang,” ujarnya.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan dan Gender (P3KG) Unhas Makassar, Dr. Rabina Yunus, M.Si menyatakan, sebagai sesama kalangan perempuan. Dirinya dan lembaga yang dipimpin mendorong perempuan di Sulsel untuk maju bertarung di kursi legislatif 2019. “Momentum pileg harus bisa dimanfaatkan untuk membuka jalan lebih lebar bagi peran perempuan dalam kehidupan politik,”ujar Dr Rabinah Yunus, Rabu (22/8).
Seperti diketahui, dalam draf DCS yang telah diumumkan KPU Sulsel disejumlah media cetak dan elektronik sedikitnya 35 persen perempuan masuk yang tersebar di sebelas daerah pemilihan (Dapil). Oleh sebab itu, akademisi Unhas Makassar ini menilai. Hak tersebut merupakan langkah maju bagi generasi perempuan untuk bersaing dengan politisi pria.
Rabina menyebutkan, hadirnya perempuan di panggung politik caleg bukan hanya memenuhi kuota 30 persen, akan tetapi lebih dari itu. Yakni, punya strategi yang matang untuk meyakinkan masyarakat melalui visi-misi. “Jadi perempuan masuk caleg jangan hanya penuhi kuota 30 persen. Tapi harus punya strategi, visi-misi serta punya program haldal,” tuturnya.
Dia menambahakan, untuk merebut kursi parlemen di tinngkat lokal tak hanya mengandalakan satu daerah. Akan tetapi persaingan ketat sesama perempuan juga laki-laki. “Sehingga butuh strategi juga kemampuan untuk bersaing,”jelasnya. (rif)
Adu Strategi Srikandi Parpol di Pileg
