MAKASSAR, BKM– Dinas Pendidikan (Disdik) Makassar sedang menjalankan program pembangunan Smart Toilet di sekolah-sekolah mulai SD sampai SMPN yang berada di 15 kecamatan di Makassar.
Hanya saja, program smart toilet hanya bersifat edukasi untuk murid dan siswa.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Disdik Makassar, B Linda Deryani menjelaskan, perbedaan smart toilet dan toilet-toilet pada umumnya hanya berada dinilai edukasi saja. Di smart toilet, murid dan siswa utamanya di tingkat SD hanya diberikan pemahaman prilaku menjaga kebersihan toilet.
“Tidak ada perbedaan signifikan, cuma prilaku edukasi.
Perbedaan smart toilet hanya prilakunya. Jadi edukasi bagi anak-anak kalau toilet harus bersih dan kering. Dua sistem spetik tank di Smart Toilet menggunakan biotech. Jadi limbah diolah dan diproses di dalam septik tank lalu dibuang ke saluran,” terang Linda kepada BKM, Jumat (24/8).
Sosialisasi prilaku hidup bersih dengan menjaga kondisi toilet tetap bersih dan kering baru dilakukan di sekolah masing-masing, usai smart toilet rampung dikerjakan.
Adapun gambaran sementara di smart toilet nantinya terdapat kloset duduk dengan sistem penyiraman pakai tombol. Sehingga toilet sekolah tidak lagi menggunakan kloset jongkok.
Ukuran smart toilet pun lebih luas dibandingkan toilet-toilet sekolah yang sudah ada. Ukurannya tergantung luas lahan yang disediakan sekolah untuk pembangunan smart toilet.
“Tipe ukuran smart toilet variatif tergantung luas dari lahan yang disediakan sekolah. Kalau perbedaan lainnya tidak adaji cuma pada smart toilet menggunakan kolset duduk, septik tank dengan sistem biotech, dan ukurannya lebih luas sesuai luas lahan disediakan. Karena smart toilet ini bangun baru,” ucapnya.
Kategori sekolah penerima smart toilet jelas Linda, sekolah yang jumlah muridnya berjumlah minimal 50 orang dan toilet hanya satu unit. Serta harus memiliki lahan kosong yang dapat dibanguni smart toilet dengan septik tank sistem biotech.
“Memang ada sekolah memiliki jumlah murid banyak tapi tidak memiliki ketersediaan lahan untuk dibanguni smart toilet. Jadi harus punya lahan kosong. Terbanyak dibuat di SD,” tambahnya.
Menyikapi data nilai anggaran dan sumber anggaran dari sejumlah anggota DPRD Makassar, Linda membantahnya. Ia menyebut anggaran yang digunakan membuat smart toilet bersumber dari Dana Insentif Daerah (DID) dari pemerintah pusat senilai Rp19 miliar.
“Harus diberikan pencerahaan itu anggota dewan, karena tidak ada pembangunan smart toilet menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK). Karena DAK hanya direhabilitasi, bukan pembangunan baru. Sementara anggaran Smart Toilet dari anggaran hibah atau Dana Insentif Daerah (DID) dari pemerintah pusat,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Sekolah SD Sambung Jawa, Fatmawati mengatakan, jatah yang didapatkan sekolahnya untuk membangun smart toilet sangat membantu siswa-siswanya dalam menggunakan sarana dan prasarana sekolah yang lebih memadai. Terlebih lagi sekolahnya SD Sambung Jawa terkenal dengan sekolah yang ramah anak, tentu yang kelebihannya memberikan fasilitas yang nyaman digunakan anak-anak.
“Saya belum tahu persis seperti apa nanti smart toilet itu, tapi program smart toilet di sekolah kami itu tentu sangat membantu. Kami kan sekolahnya ramah anak, salah satu indikator itu, apakah anak-anak nyaman di sekolah dengan keberadaan, toilet-toilet,” ungkapnya saat dikonfirmasi, kemarin.
Lanjut Fatmawati bahwa kondisi toilet yang ada disekolahnya sudah layak untuk dibautkan penambahan, demi kenyamanan siswanya didalam lingkup sekolah. Takunya dengan kondisi sekolah yang seperti saat ini, siswa mendapatkan penyakit akibat toilet yang tidak memadai.
“Apalagi banyak anak-anak akhirnya diusia berapa kena penyakit, karena pembuangannya kecil dan toiletnya jorok. Memang toilet kami memang lumayan, hanya kami butuh penambahan, karena jumlah siswa kami besar,” ujarnya.
Seperti yang dibeberkan Fatmawati, jumlah toilet disekolahnya hanya berjumlah empat toilet, tidak berbanding lurus dengan jumlah siswa di sekolah tersebut. Makanya dengan adanya smart toilet ini diharapkan siswa tidak lagi merasa tidak nyaman ketika buang air besar ataupun kecil dengan toilet yang digunakan sesuai standar.
“Jumlah siswa kami itu 89 siswa. Harusnya kami putri itu punya empat sementara butuh delapan, kalau berdasarkan standar jumlah siswa, kalau kenyamanan anak-anak beda juga. Anak-anak ini butuh kenyamanan untuk menggunakan toilet, dia tidak ragu-ragu membuang air besar dan kecil disekolah,”jelasnya.
Sementara itu, Kepsek SD Bwakaraeng 1 Makassar, Yahya, juga mengaku sekolahnya tidak mendapatkan jatah untuk pembangunan smart toilet, padahal dengan jumlah siswa sebanyak ratusan dengan jumlah toilet hanya dua tidak mampu mewadahi jumlah siswanya.
“Kemudian smart toilet ini diharapkan bisa menjadi edukasi, pembelajaran bagi siswa, Tapi biar mi kalau tidak dapat yang lain mi dulu,” ucapnya.
Bahkan ia mengakui jika kondisi sekolahnya tidak layak lagi digunakan untuk siswa, baik dari segi kesehatan, kebersiahan dan kelayakan untuk digunakan. Besar harapan Yahya mendapatkan pembangunan mart toilet untuk siswanya gunakan.
“Kita punya 2 toilet untuk siswa dan satu guru dengan jumlah 392 siswa. Sebenarnya tidak memadai mi toiletnya dengan jumlah siswa, nanti pi karena malu-malu tong ki itu kalau toiletnya begitu,” tuturnya. (ita-arf)
Smart Toilet Menggunakan Kloset Duduk
