GOWA, BKM — Tim pelaksana Program Kemitraan Masyarakat (PKM) telah menggelar penyuluhan kepada kelompok ternak unggas di Desa Tanah Karaeng dan MoncongloE Kecamatan Manuju, Kabupaten 28 Juli hingga 5 Agustus 2018 lalu.
Tim Pelaksana yang diketuai Dr. Sri Purwanti, S.Pt., M.Si dengan anggota tim Dr. Syahriani dan Dr. Jumriah Langkong ini memberikan penyuluhan pakan antara lain pembuatan pakan alternatif sumber protein (amoniasi dedak), silase limbah pertanian, dan mengolah hasil pertanian.
Kegiatan PKM dengan hibah pendanaan dari Kemenristek DIKTI tahun anggaran 2018 ini dihadiri kelompok mitra dari Kelompok Tani Tanah Adat yang diketuai Hj Ramlah dan Ngangang Baku yang diketuai Muh Ilyas.
Aggota kelompok tani ini memelihara ternak unggas disamping menanam tanaman palawija.
Ketua Tim Pelaksana PKM, Dr Sri Purwanti dalam rilisnya, Minggu (26/8) mengatakan, permasalahan yang dihadapi oleh mitra adalah rendahnya produksi dikarenakan masalah ketersediaan pakan dengan kualitas yang sesuai dengan kebutuhan ternak tidak tercukupi.
Mitra, kata Sri, belum mampu memanfaatkan sumber daya alam lokal sebagai bahan penyusun pakan unggas, dan belum mengetahui teknologi.
Selain itu, lanjut dosen Fakultas Peternakan Unhas ini, sistem pemeliharaan masih secara ekstensif.
“Selain sebagai peternak mitra juga bercocok tanam sebagai kegiatan sampingan sehingga kendala dalam mengatasi hama penyakit tanaman menjadi masalah utama mitra. Solusi yang ditawarkan antara lain adalah terpenuhinya kebutuhan nutrisi ternak khususnya ternak unggas dengan memanfaatkan sumber daya lokal melalui introduksi teknologi pengolahan pakan sederhana sehingga peternak dapat membuat pakan sendiri dan tidak tergantung pada pakan konsentrat ataupun hanya menggunakan pakan tanpa proses pengolahan,” jelas Sri.
Selain itu, kata Sri lagi, masalah hama penyakit tanaman palawija dan bau kandang yang menyengat dapat tertangani oleh petani.
“Melalui kegiatan ini diharapkan petani dan penyuluh pertanian bersinergi untuk belajar memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia menjadi pakan yang kaya nutrisi dengan cara memproduksi sendiri sehingga mengurangi biaya pemeliharaan ternak,” kata Sri.
Metode pelaksanaan kegiatan yang akan dilakukan adalah sosialisasi kegiatan pada kelompok ternak, pelatihan dan demonstrasi untuk anggota kelompok tani serta pendampingan untuk memantau perkembangan dan produktivitas ternak pasca kegiatan.
Pada pertemuan ini, kelompok peternak menginginkan pembimbingan secara berkelanjutan, mengingat pengetahuan peternak dan introduksi teknologi masih kurang.
“Secara keseluruhan hasil yang diperoleh adalah respon yang sangat positif serta partisipasi aktif dari anggota kelompok ternak,” ungkap Sri. (rls)
