PANGKEP, BKM– Seorang bocah bernama Rifki (4) asal pulau Balang Lompo, Kelurahan Mattiro Sompe, Kecamatan Tupabbiring, Kabupaten Pangkep, Jum’at (24/8) meninggal dunia setelah empat hari dirawat di RSUD Pangkep. Sebelum meninggal, bocah ini sempat diimunisasi Measles Rubella (MR) di sekolahnya di Taman Kanak- Kanak di Pulau Balanglompo. Namun Dinas Kesehatan membantah jika Rifki meninggal karena Vaksin MR. Berdasarkan hasil diagnosis balita ini terserang Virus Vemfigus Vulgaris ( Penyakit kulit langka).
Pihak Dinas Kesehatan dan RSUD Pangkep bersama dokter ahli kulit dan anak menggelar jumpa pers di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep, Sabtu (25/8). Dalam press release tersebut, Kadis Kesehatan Pangkep, dr Indriati Latief membantah jika Rifki meninggal akibat Vaksin MR.
“Hal ini penting untuk dijelaskan kepada media dan selanjutnya diinformasikan kepada masyarakat bahwa Bocah ini meninggal karena mengalami penyakit kulit langka. Rifki didiagnosa terserang Virus Vemfigus Vulgaris saat tubuhnya mengalami auto imun yakni penyakit kulit langka yang belum diketahui apa penyebabnya, ” pungkas Indriati.
Kadis Kesehatan Pangkep ini meminta masyarakat tidak ragu untuk mengimunisasi anaknya. Program Nasional ini sudah dibolehkan pihak Majelis Ulama Indonesia ( MUI). Memang sebelum dibawa ke RSUD Pangkep, korban diimunisasi vaksin MR di sekolahnya pada 3 Agustus 2018 dan merupakan pasien rujukan dari Puskesmas Balanglompo dengan diagnosa awal DBD. Tetapi setelah dirawat di RSUD Pangkep selama empat hari, kondisi daya tahan tubuhnya terus menurun hingga nyawa Rifki tidak dapat diselamatkan karena terserang penyakit kulit langka. Beberapa bagian tubuhnya dipenuhi gelembung, menghitam dan berlubang
Seperti dijelaskan Direktur RSUD Pangkep, dr Annas Ahmad bahwa apa yang dialami anak ini tidak sama dengan MR. Meski munculnya penyakit yang dialami muncul setelah imunisasi vaksin MR.
“Kondisi korban ini perlu dijelaskan secara medis kalau didiagnosis vemfigus vulgaris. Penyebab munculnya penyakit kulit langka ini tidak diketahui, dan siapa saja bisa terserang . Tetapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan vaksin MR. Reaksi vaksin bisa diketahui hasilnya dalam waktu 24 jam dan paling lama 7 hari. Tetapi kasus Rifki muncul pasca 13 hari setelah diimunisasi. Jadi publik perlu mengetahui bahwa kesimpulan dari diagnosis korban adalah Vemfigus Vulgaris ,” kata dr Annas.
Ditempat yang sama, dokter spesialis anak RSUD Pangkep, Erlin Djamaluddin, mengatakan bahwa gejala yang ada di tubuh Rifki tidak sama dengan kasus rubela maupun campak.
“Pada saat bocah ini dibawa ke RSUD Pangkep , sudah ada ruam dekat mulut dan paha, kemudian berkembang menjadi banyak dan bergelembung. Bahkan gelembungnya semakin luas. Tetapi gejala yang dialami tidak sama dengan campak ataupun rubela,” ujar Erlin.
Tetapi terungkap fakta Lain, dari apa yang dirasakan Balita Rifki, sehari setelah divaksin MR. Anak keempat dari pasangan suami istri, Sanir dan Yanti ini merasakan sakit disekujur tubuhnya.
Seperti diungkapkan ayah dari balita Rifki. Sanir saat dihubungi secara terpisah Sabtu menyatakan bahwa anaknya itu, pasca diimunisasi vaksin MR di sekolah TKnya di waktu pagi . Pada malam harinya, anaknya mengeluh tubuhnya kesakitan.
“Pada tanggal 6 Agustus 2018 malam anak saya mengeluh tubuhnya kesakitan, itu selama tiga hari berturut-turut setiap malam. Dua hari mengeluh tubuhnya kesakitan, muncul benjolan berupa cacar di bawah hidungnya. Setelah itu, 3 hari berikutnya anak saya demam. Ketika itu kami tidak berfikir kalau ini dampak imunisasi, hanya memperkirakan mungkin anak saya kelelahan karena memang anak ini juga baru belajar naik sepeda, makanya mengeluh tubuhnya kesakitan. Namun, ketika demam selama 3 hari itu, saya bawa ke Puskesmas Balanglompo , sempat dirawat selama 2 hari, katanya gejala demam berdarah,” jelas Sanir.
Lanjut Sanir. Sebelum anaknya diberi imunisasi vaksin MR disekolahnya, tiga hari sebelum itu, almarhum balita Rifki sempat sakit demam dan tidak masuk sekolah. “Anak saya sebelum diimunisasi memang mengalami demam selama 3 hari tidak masuk sekolah. Setelah agak sembuh masuk sekolah langsung diberi imunisasi vaksin MR,” tandasnya. (udi)
