Site icon Berita Kota Makassar

Pegawai Paling Rajin dan Paling Was-was Ketika Rapat

MENGGELUTI bagian sound system, Abd Aziz tidak pernah merasa jenuh atau mengeluh. Bahkan sebagai orang satu-satunya yang ditugaskan menangani itu membuatnya banyak memetik pelajaran hidup.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Sosok Pria paruh baya itu sangat dikenal sebagai pegawai yang cekatan dan tidak pernah molor dan malas dalam menjalankan tanggungjawabnya. Itulah kenapa tugas itu hanya diamanahkan untuknya, semata-mata agar dapat menghandel sound system di rapat-rapat besar dewan.
“Saya juga orangnya tepat waktu kalau pagi, mumpung kita kerja, kerja memang mi karena suatu saat pasti akan pensiun. Saya ajarkan ke anak saya, kalau memang lagi kuliah, yah kuliah, jangan sampai bolos karena kita tidak tahu kedepan ini ada apa,” ungkapnya usai ditemui penulis di gedung DPRD Makassar.
Ia juga tidak banyak komplain terhadap tugasnya, apa yang bisa ia jalankan, maka ia akan jalankan. Apa yang tidak bisa ia perbaiki maka ia akan mengkonsultasikannya dengan teman di sekitarnya.
“Kalau mengusulkan untuk diganti bukan saya, tapi memang sekertariat yang melihat bahwa sound sekarang itu sudah tidak cocok lagi,” akunya.
Lanjut Aziz menuturkan, bahwa dirinya jika mendapat kesulitan selalu menikmati hidup, seberat apapun hidup baik lingkungan kerja dan keluarga harus dinikmati saja. Tanpa melepas tanggungjawab atau melarikan diri dari pekerjaan.
“Keadaan memang yang memaksa saya untuk belajar disitu, apalagi sound system saat ini digunakan dewan belum digital. Saya pemikirannya seperti ini dek, kerja itu harus dinikmati. Saya juga selama bekerja tidak pernah libur atau cuti selagi saya masih sehat,” jelasnya.
Di tanya soal jarak rumah dengan kantor, Aziz mengaku cukup jauh sebab ia tinggal di Sungguminasa. Namun itu tidak menjadi penghalang baginya melaksanakan tugas, apalagi dengan cita-citanya sebagai pegawai sudah terwujud, ia sudah mendapat ketenangan.
“Bagi saya tidak ada jarak dalam bekerja. Menjadi pegawai saya merasa mendapat ketenangan. Saya punya prinsip itu, apa yang didapatkan syukuri apa adanya, prinsip hidupku saya begitu, jadi kalau orang bilang kurang, yah terserah karena ini hidup saya,” jelasnya.
Apalagi, ia banyak bercermin dari kehidpuan banyak orang yang hidup tidak tenang karena tidak mengsyukuri pekerjaannya.”Banyak juga yang berlebihan tapi hidupnya tidak tenang, syukuri apa adanya insya Allah berkah. Saya juga bertahan disini karena disinilah nasib saya,” ucapnya.
Sekarang ini sudah tidak banyak lagi harapan atau keinginannya, ia ingin menikmati di masa tua jika ia masih sanggup bekerja, maka Aziz akan menjalankan tanggung jawab itu dengan bersungguh-sungguh dan lebih mengutamakan ibadah kepada sang pencipta.
“Tujuan hidup saya itu kedepan tidak lain dan tidak bukan banyak-banyak beribadah, apalagi anak sudah besar juga. Karena kita ini diperhadapkan cuman dua sisi dek yang pertama pangkat tertinggi itu adalah pensiun dan umur terlama itu adalah meninggal, makanya saya tidak pernah tinggi-tinggi cita-citaku karena itu ji ujungnya,” akunya.
Mengenai pengeluarannya yang besar untuk membiayai kedua anaknya yang sama-sama menempuh strata 1. Aziz berdalih jika, ia adalah sosok bapak yang paling ketat dalam mengeluarkan anggaran, dan paling mendisiplinkan anak-anaknya dalam mengeluarkan uang dengan gaji pas-pas sebagai golongan III.
“Saya adalah orang yang paling disiplin soal anggaran, gunakan uang itu sesuai dengan kebutuhan yang mendesak dan skala prioritas. Keuntungan saya juga adalah bahwa saya ini bukan perokok, karena biaya rokok itu mahal, saya tidak merokok. Saya juga didik anakku, jangan merokok, jangan begadang dan berbohong,” katanya.
Sebagai seorang operator sound system yang menangani peralatan – peralatan baik speaker, microphone, kabel, mixer, equalizer dan power amplifier, Abd Aziz dituntut untuk tetap hadir di kantor wakil rakyat sampai rapat selesai. Mereka setiap saat memeriksa keadaan sound system yang bermasalah.
“Saya harus berada di DPRD pukul 08.00 pagi karena biasanya rapat dimulai pukul 10.00. Sebelumnya saya harus periksa semua sound system, speaker, kabel yang bisa saja putus,” ungkapnya saat ditemui penulis saat merapikan kabel mikrofone di ruang Paripurna DPRD Makassar.
Selain itu, Pria kelahiran Ujung Pandang 10 Juni 1964 ini mengaku sudah bertugas di DPRD Makassar sejak 30 tahun lamanya dan menempati posisi sebagai petugas soundsystem di bawah bidang perlengkapan. Kata Aziz, soundsystem yang digunakan dewan dulu tidak sebagus sekarang, sebab suka dukanya ia harus mengangkat sound system yang begitu besar setiap ada rapat dewan.
“Saya sudah bertugas disini dari tahun 1988, sejak gedung DPRD Makassar ini dipindahkan dari Jalan Ratulangi ke AP Petta Rani. Dulu sound system diangkat-angkat untuk memindahkan ke setiap ruang rapat,” bebernya.
Tetapi pekerjaan inilah yang banyak mendapat perhatian, termasuk jika sound system feedback karena kesalahan teknis lainnya. Apalagi, Aziz sendirilah yang bertugas menjadi operator sound di ruang rapat.
“Saya kendalikan sound system ini sendirian, mulai dari ruang paripurna sampai ruang banggar. Saya juga sudah terangkat PNS dari tahun 1986, dan penempatannya di DPRD Makassar,” ucapnya.
Ditanya soal suka dukanya. Ia mengaku jika dukanya kalau sound system dalam keadaan rusak dan harus dibetulkan sebelum rapat berlangsung. Tetapi jika rapat berlangsung sukses sangatlah jarang diperhatikan sang Operator Sound System ini. Aziz juga bercerita bahwa dirinya akan merasa tenang jika rapat dewan telah selesai, sebab adanya kesalahan microphone atau kerusakan sound system maka dialah yang paling was-was.
“Saya itu paling was-was kalau rapat, dan paling lega kalau rapat itu sudah selesai. Takutnya ada salah-salah karena pasti saya yang ditegur. Suka duka itu pasti ada, tapi enak tidak enaknya itu dienakkin saja kalau ada kritik dari pimpinan atau dewan,” bebernya.
Bapak dua anak ini mengaku jika pekerjaan sebagai petugas Operator Sound System tidaklah mudah, sebab ia harus mempelajari sendiri sound tersebut tanpa bantuan orang. Ia juga harus paham mengenai perangkat sound sytem seperti pengaturan audio baik treble, middle, bass, high gain, middle gain, low gain, surround, dan masih banyak lagi pengaturan yang dapat mempengaruhi baik buruknya kualitas suara yang masuk ke peralatan sound system tersebut.
“Susahnya yang saya hadapi kalau tiba-tiba ada kabel yang putus saat rapat. Saya harus mencari lagi kabel mana yang putus dari ratusan kabel yang ada,” akunya.(*)

Exit mobile version