Site icon Berita Kota Makassar

Kisah CEO Macora Cenning Abadi; Pernah Disekap Pesaing Bisnis dan Diusir Security

Untuk sukses butuh perjuangan, kerja keras dan doa. Prinsip ini yang dipegang teguh Hj Hardianti. Ia kini mendulang buah kerja kerasnya.

Saat usianya masih relatif muda, Hardianti sukses mengembangkan bisnis online shop. Diawali dari produk kosmetik. Dan kini juga memproduksi busana muslim.

Hanya dalam jangka waktu dua tahun, istri H Andi Singkeru Rukka ini meraih omzet miliaran rupiah per bulan.
Hardianti memulai bisnis online shop sejak September 2016. Mulanya hanya sekadar coba-coba. Termasuk ingin membantu suami mencari nafkah.

Saat pertama terjun ke bisnis ini, Hardianti hanya bermodal Rp1 juta. Uang ini ia gunakan untuk membeli produk kosmetik. Produk kosmetik itu ia jual secara online. Baik melalui Facebook (FB) maupun lewat Whatsapp (WA).

Setelah berkembang, ia lalu ingin membesarkan bisnisnya. Ia pun ingin bekerja sama dengan pabrik kosmetik di Tangerang. Untuk bisa bekerja sama dengan pabrik ini tidak mudah. Hardianti harus memohon. Bahkan, ia sempat diusir security pabrik. Ia juga dicueki marketing pabrik.

“Tapi saya tidak putus asa. Niat saya baik. Saya ingin menjadi seorang pengusaha. Akhirnya setelah sebulan saya mendapat jawaban. Dan mereka siap bekerja sama,” kata Hardianti kepada BKM.

Setelah disetujui pihak pabrik, Hardianti lalu membranding produknya dengan nama Diamond Glowing. Ia juga mengurus izin dari BPOM.

Tapi tantangan kembali datang. Jika biasanya izin dari BPOM diurus hanya 14 hari, tidak demikian dengan produknya. Izin BPOM baru keluar setelah setahun ia memasukkan permohonan.

Namun, di balik kesuksesannya, ada saja orang yang iri. Pihak-pihak yang iri dengan capaian wanita asal Bone ini bahkan melakukan segala cara. Anti, sapaan Hardianti, pun sempat difitnah.

“Fitnah yang datang ke saya saat itu bertubi-tubi. Ada yang bilang produk saya ilegal. Produk yang saya jual tidak punya izin. Tapi saya tetap sabar. Saya anggap itu adalah hal biasa dalam bisnis,” kata Anti.

Tak hanya sampai fitnah. Anti dan suaminya malah pernah disekap. Ia disekap oleh beberapa orang yang iri dengan kesuksesannya berbisnis online. Anti disekap di sebuah rumah di Makassar.

“Saya didatangi lalu disekap mulai jam 8 malam sampai jam 11 malam. Saat saya disekap saya divideokan melalui ponsel. Video itu lalu disebar ke grup FB Makassar Dagang. Setelah itu mereka panggil polisi melaporkan saya,” kata Anti.

Saat polisi datang, Anti lalu menjelaskan duduk perkaranya. Termasuk memperlihatkan surat-surat izinnya.

“Beruntung saat itu polisinya orang Bone, satu kampungka. Jadi dia bantuka,” kata Anti dengan dialek Bone yang kental.

Dari peristiwa ini, Anti tidak lantas terpuruk. Ia ingin bangkit. Jika ia kalah, ia sedih melihat rekan-rekannya yang tidak menjual lagi. Anti lalu berembuk dengan dua rekannya Ira dan Isra yang masih setia dengannya. Mereka memutuskan untuk mengganti nama produk. Ia pun memilih menamai produknya dengan menggunakan bahasa Bugis. Ia memilih Macora yang artinya terang.

Setelah itu Anti kembali mengurus izin BPOM untuk Macora. Sambil mengurus, ia memilih naik haji tahun 2017 lalu. Di Tanah Suci, salah satu doanya adalah meminta agar izin BPOM untuk brand Macora bisa segera terbit.

“Alhamdulillah saat masih saya di Tanah Suci saya ditelepon jika izin BPOM untuk Macora sudah terbit. Saat itu saya langsung sujud syukur. Saya berterima kasih kepada Allah karena telah mengijabah doa saya,” katanya.

Setelah izin Macora terbit, permintaan terus meningkat. Yang awalnya hanya lima ribu paket, terus menjadi 50 ribu, 100 ribu dan saat ini sudah 170-an ribu paket. Satu paket produk Macora terdiri atas empat jenis perawatan wajah. Dengan 170-an ribu paket, jika dihitung, maka omzet Anti setiap bulan bisa mencapai miliaran rupiah.

“Alhamdulillah sudah banyak orang yang ikut menikmati keuntungan dari menjual Macora. Sudah banyak para agen dan distributor yang membeli rumah dan mobil dari bisnis ini,” katanya.

Ia mengaku, bisnis ini ia bangun bukan sekadar untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Tetapi bisnis ini ia bangun dengan prinsip saling berbagi. “Semua harus bisa merasakan. Bukan hanya saya. Saya bahagia sekali kalau ada para reseler yang sukses dengan menjual Macora,” imbuh Anti.

Setelah sukses dengan produk kosmetik Macora, kini Anti telah memproduksi gamis dengan merk Gerai Macora. Penjualan Gerai Macora juga sangat bagus. Bahkan dalam waktu dekat, ia juga akan memulai bisnis kuliner.

Untuk mendukung bisnisnya, Anti telah membangun sebuah perusahaan bernama PT Macora Cenning Abadi. Kantornya berada di Jalan AP Petta Rani. “Dalam berbisnis saya selalu menghadirkan Allah. Selain itu untuk sukses harus rajin sedekah dan berbagi,” kunci Anti. (*)

Exit mobile version