MAKALE, BKM — Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Luwu-Tator membantah tudingan Gerakan Mahasiswa Nasional Indpnesia (GMNI) tidak profesional kepada media gegara memberitakan kasus meninggalnya bocah Herlina (4) beberapa waktu lalu.
Herlina menghembuskan nafas terakhirnya karena diduga akibat terlambat mendapatkan pertolongan medis. Herlina dibawa ke Puskesmas oleh ibunya ditolak tanpa alasan yang jelas.
Koordinator IJTI Luwu-Toraja Jufri Tonapa Rabu (29/8) menjelaskan pemberitaan sejumlah media di Toraja terkait meninggalnya bocah Herlina
karena ditolak Puskesmas Bittuang sudah sesuai prosedur jurnalistik.
”Berita yang dimuat baik di media online, cetak, dan TV hasil invistigasi di lapangan dan terkonfirmasi kepada ibu korban Karmila Ratte,” tegas Jufri.
Herlina bocah mengidap penyakit lemah jantung, saat penyakitnya akut orang tuanya mengantar ke Puskesmas Bittuang untuk mendapatkan perawatan.
Sebelum almarhuma Herlina menemui ajalnya (14/8) lalu, ditolak dirawat pihak Puskesmas Bittuang dengan dalih domisilinya di kecamatan Masanda, inilah bukti buruknya pelayanan Puskesmas Bittuang, pasien sudah sekarat ditolak.
Padahal seharusnya diberikan pertolongan pertama dulu baru dirujuk ke RS. Kejadian memilukan dialami bocah Herlina kasus kemanusiaan pantas diketahui publik, dan tidak terkuak kepermukaan tanpa atensi media.
Jufri menyesalkan tudingan GMNI Tana Toraja media tidak objektif beritakan kasus kematian bocah Herlina. (gus/D).
IJTI Bantah Media tak Profesional
