Site icon Berita Kota Makassar

Meski tak Diupah, Komitmen Tetap Berbuat Kebaikan

BEBERAPA wadah kegiatan sosial yang diminati anak muda mulai tumbuh di Kota Makassar. Mereka terus bekerja untuk kemanusiaan dengan membantu sesama. Begitupun yang dilakoni Nuryanti yang sibuk menjadi anggota Laskar Sedekah (LS) Makassar.

Laporan: JUNI SEWANG

Komitmen yang sangat kuat berperan besar dalam proses mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Begitulah yang tercermin dari komunitas anak muda Makassar ini. Sebuah komunitas yang terealisasi karena sebuah mimpi, komunitas independent yang peduli dan cinta kepada orang-orang yang membutuhkan, dan berkomitmen menyampaikan amanah sedekah 100 persen tanpa potongan operasional.
Mengabdikan diri dengan waktu, pikiran, tenaga, hingga materi yang mereka punya, untuk memaksimalkan kebaikan terhadap sesama dengan penuh keikhlasan, tanggung jawab, dan professional, dengan niat bergerak menyampaikan amanah tanpa mengenal lelah meski tak mendapatkan upah.
Menurut Nuryanti, Laskar Sedekah Makassar mulai terbentuk pada 30 Maret 2012. Lembaga ini tersebar di 18 kota se Indonesia, untuk Makassar beranggotakan 60 orang.
Wanita kelahiran Makassar, 3 Januari 1991, belum lama bergabung di komunitas ini. Kurang lebih 2 tahun, Nuryanti begitu sibuk dan antusias dalam setiap program Laskar Sedekah.”Berdasar suka menolong orang menjadi pendorong saya bergabung di komunitas ini,” jelasnya di depan penulis.
Karyawan di salah satu perusahaan swasta ini mengaku, bergabung di LS membuat dirinya mewujudkan mimpi untuk bisa membantu orang lain. Berbagai kegiatan ia laksanakan bersama teman-teman laskar lainnya.”Sekali sebulan kita menggelar kegiatan yang namanya Tebar Nasi Bungkus (TNB), dua kali sebulan ke Panti Asuhan, Peduli kaum Dhuafa, Peduli korban kebakaran, Peduli pasien yang dirawat di RS kurang mampu,” ungkap Nuryanti.
Saat ditanya dana yang dikumpulkan dari mana saja, Nuryanti menjelaskan LS memiliki donatur tetap hasil dari sosialisasi para tim LS.
“Kami memiliki donatur dari One Day One Thousand (Odot), dan donatur yang tetap juga, dan semua yang masuk 100 persen didonasikan,” jelasnya.
Ditanya soal suka dukanya selama bergabung di LS, Nuryanti menambahkan, selain suka ada duka juga yang dirasakan diantaranya adalah disaat menjalankan kegiatan akan menguras waktu sehingga akan susah untuk bisa membagi waktu, berhadapan dengan masyarakat yang bermacam latar pendidikan dan berpendirian keras kepala.”Saking asyiknya berorganisasi dan terbawa dalam kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat hingga kadang terlambat masuk kantor,” ujarnya. (jun)

Exit mobile version