NASIB seseorang tak pernah ada yang tahu. Jika sudah menjadi kehendak Tuhan, takdirlah yang akan berbicara. Dari sebelumnya tidak pernah diketahui banyak orang, kini meraih popularitas.
Laporan: H Purmadi
NAMA lengkapnya Abi Rafdi Suardi. Lebih akrab disapa Abi. Lahir di Ponrangngae, Sidrap pada hari Jumat, 3 Desember 1999.
Ia mendadak terkenal di seantero nusantara. Menyusul keberhasilnya menembus tiga besar ajang pencarian bakat penyanyi dangdut di KDI (Kontas Dangdut Indonesia) 2018. Abi kini berjuang untuk sampai ke puncak.
BKM menemui keluarga Abi di Kelurahan Ponrangngae, Lacinrang, Kecamatan Pitu Riawa. Tak ada yang istimewa dari keluarga ini. Hidup penuh kesederhanaan melingkupi mereka.
“Tamaki bolae, ndi (masuk ke rumah). Inilah rumah asli Abi, dilahirkan dan dibesarkan,” ucap Sumarni, ibu kandung Abi saat menyambut kedatangan BKM yang sudah janjian sebelumnya.
Abi Rafdi merupakan putra pasangan Suardi Mustafa dan Sumarni. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak sulungnya seorang perempuan bernama Ikhda Mutia. Sementara yang bungsu bernama Faiz Suardi. Saat ini masih duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar.
Di mata orang tuanya, Abi merupakan anak penurut dan patuh. Sejak dilahirkan, ia tak pernah menyusahkan orang tuas. Bahkan Abi sangat rajin dan disiplin. Ia juga tak pernah lupa kewajibannya sebagai umat muslim, yakni salat lima waktu.
Sejak masih di SD 7 Ponrangngae hingga tamat di SMP Negeri 4 Dua Pitue, Abi selalu membantu meringankan beban kedua orangtuanya. Maklum, keluarga Abi membiayai hidup dari mengurus masjid.
Ayah Abi, Suardi Mustafa dipercaya di lingkungannya sebagai imam Masjid Al Anzar Ponrangae. Sementara ibunya, membantu suaminya mengurus masjid dan membersihkannya. Di setiap usai salat, orang tua Abi saling membantu membersihkannya.
Ketika bersekolah, Abi kecil sudah diberi tugas sebagai muadzin. Bahkan kerap mendapat kepercayaan untuk menjadi imam kedua di Masjid Mina Ponrangae. Masjid tersebut berada tak jauh dari rumahnya.
”Saya sangat bersyukur kepada Tuhan memberikan kami tiga anak, yang semuanya penurut dan patuh pada orangtua. Sejak dikandung hingga lahir, saya tidak pernah ngidam apa-apa hingga Abi lahir tanpa bantuan medis,” ujar Sumarni. Ada air bening menitik dari sudut matanya.
Sejak kecil, Abi selalu ingin membahagiakan orangtua. Ia membantu mencari nafkah dan membiayai sekolahnya dari bekerja semrawutan.
“Apa saja ia kerjakan. Abi punya kelebihan apa saja. Mulai pungut sampah untuk didaur ulang, hingga pernah menjadi kuli bangunan. Semua itu ia lakukan untuk biayai sekolahnya. Dia selalu bilang, mama janganki malu saya kerja begini. Yang penting semua halal,” tuturnya menirukan ucapan Abi. Lagi-lagi dia mencoba menyeka air matanya.
Diakui Sumarni, tak pernah sekali pun Abi menyakiti hati kedua orang tuanya. Tak pernah membantah. Tutur bahasanya selalu lembut jika diajk bicara.
“Saya sangat bangga dan bahagia punya anak seperti dia. Kalau biasa saya tidak punya uang belanja, Abi yang memberikan uang dari hasil jerih payahnya. Dia juga rajin menabung,” kenangnya.
Masa-masa kecil Abi lebih banyak dihabiskan mencari nafkah demi memperbaiki ekonomi keluargnya. Jika dihitung, penghasilan ayah Abi hanya Rp300 ribu per bulan. Biasa ada tambahan rezeki jika tetangga memiliki hajatan.
Sementara ibunya, tidak dipatok besaran upahnya. Terkadang ia mendapatkan Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per bulan dari hasil membersihkan dan mengurus masjid.
“Tidak masalah seberapa besar dan kecilnya rezeki yang kita dapat. Yang penting kami mensyukuri nikmatnya. Dan kami semua ikhlas mengurusi rumah Allah ini,” tutur Sumarni yang diamini Suardi.
Saat ditanya soal keberhasilan anaknya yang lolos ke final kontes dangdut paling bergengsi ini, orang tua Abi kembali mengenang. Mereka mengakui jika Abi memang memiliki bakat tarik suara yang dikembangkannya sendiri secara otodidak.
Keduanya juga tak pernah bermimpi jika suata saat Abi akan menjadi orang dikenal seperti sekarang.
“Sejak kecil dia (Abi) sudah Adzan jika memasuki waktu salat. Banyak warga dan tetangga yang suka kalau dia menjadi muadzin. Bahkan jika memasuki bulan ramadan, Abi selalu dipercaya menjadi imam shalat tarawih dan witir,” lontar Sumarni.
Di hati bunda Abi ini, ada kesan tak pernah ia lupakan. Ketika itu anaknya punya keinginan untuk melanjutkan sekolah di pondok pesantren. Namun karena keterbatasan biaya hidup, niat Abi menjadi penghafal Quran itu urung diwujudkan.
“Dia pernah bilang ke saya, Abi mau masuk pesantren untuk menjadi penghafal Quran. Katanya malu kalau hafalan Jus Amma tidak dihafal secara keseluruhan. Saya hanya jawab ke dia, nantilah kalau kami punya biaya. Karena untuk lanjut ke pesantren itu butuh biaya besar. Jujur, untuk makan sehari-hari saja dulu sangat susah. Terkadang pinjam kiri-kanan ke keluarga. Karena itulah, Abi selalu bertekad ingin membantu memperbaiki ekonomi keluarganya,” cerita Sumarni bernostalgia.
Sebenarnya, Abi punya cita-cita ingin menjadi polisi. Tapi lagi-lagi keterbatasan biaya, niat itu tak kesampaian.
Saat namanya anaknya masuk nominasi 54 peserta yang dinyatakan lolos KDI 2018, Sumarni hanya mampu mengiring doa padanya.
“Saya ingat, waktu ikut seleksi KDI di Makassar, uang saya pegang cuma Rp400 ribu dan itu saya ke dia. Alhamdulillah, Tuhan Maha Pengasih,” ujarnya penuh haru. (*/rus/b)
