HJ NURHAEDA sudah berprofesi menjual batu nisan sejak tahun 1979 ini. Awalnya ia hanya ikut membantu ayahnya sebelum meninggal, dan dirinyalah yang meneruskan usaha ayahnya.
Laporan: JUNI SEWANG
“Dulu waktu almarhum bapak saya masih hidup, beliau yang pertama jualan disini. Dari 12 bersaudara, saya anak ke tujuh dan hanya saya yang meneruskan usaha ini,” ungkap Hj Nurhaeda.
Wanita parubaya, berasal dari Cikoang, Kabupaten Takalar ini juga menerima titip jual kerajinan dari tanah liat dari Pattalassang, Kabupaten Takalar.
“Saat ini bukan hanya prasasti dan nisan saja yang saya jual. Saya juga jual tungku, dan semua jenis kerajinan dari tanah liat. Nah yang bikin laku sekarang program desa, dimana kepala desa meminta dibuatkan prasasti sebagai bukti program, serta untuk peresmian. Banyak orang dari daerah yang memesan,” katanya.
Untuk usahanya, Hj Nurhaeda memesan prasasti bahan granitnya dari orang keturunan atau orang Cina yang ada di Makassar, dikarenakan bahannnya bukan bahan lokal, sedangkan parasasti yang biasa dirinya memesan dari Takalar dan Pangkep.
Selama ini Hj Nurhaeda juga selalu optimis berburu rezeki dengan harapan ada orang yang meninggal dunia atau ada makam yang ingin direnovasi dan dibangun.
Kepada penulis ia mengatakan, bisnis batu nisan tak selalu bisa diprediksi ada yang beli ataupun tidak dalam setiap hari. Hal itu disebabkan, ada atau tidaknya orang yang meninggal.
Wanita kelahiran tahun 1960 ini sampai saat ini mampu menghidupi satu orang anak dan dua orang cucu yang tinggal bersamanya di BTN Paropo Makassar. Hj Nurhaeda adalah janda yang ditinggal mati suaminya. Setiap hari ia berada di tempat jualannya di Jalan Urip Sumoharjo samping Gedung Graha Pena).
Dalam setiap hari, ia tak dapat menjamin akan ada pelanggan yang datang ke tempatnya untuk memesan nisan. Akan tetapi ada beberapa waktu di mana para penjual batu nisan bisa mendapatkan keutungan dua kali lipat. Momen itu terjadi saat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Saat itu keluarga dari orang yang meninggal biasanya akan mengganti nisan ataupun membangun makam agar terlihat lebih rapi.
“Kalau menjelang lebaran biasanya ramai, jadi papan atau makam yang belum dikeramik biasanya mereka ganti biar lebih bagus,” jelas Hj Nurhaeda.
Bahkan bisa saja dia menolak pesanan baru jika pesanan yang sebelumnya masih banyak atau belum selesai pengerjaanya.
“Tahun lalu kayak Muharram, juga banyak yang pesan, tapi kalau masih banyak pesanan, biasa juga menolak,” lanjutnya.
Untuk biaya batu nisan berbentuk papan, Hj Nurhaeda mematok harga berkisar antara Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Sedangkan nisan yang terbuat dari marmer dihargai Rp 1 juta, hingga Rp 2 juta. (jun)
