MAKASSAR, BKM — Gubernur Sulsel, Prof Nurdin Abdullah (NA) dan Wakil Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman (ASS) mulai merancang berbagai program, terutama yang masuk dalam program 100 hari.
Salah satu yang menjadi perhatian NA-ASS dalam 100 hari pertama bekerja adalah bagaimana meningkatkan kinerja ASN dalam memaksilkan layanan publik.
Termasuk bagaimana memudahkan layanan perijinan.
“Pokoknya program 100 hari kita ke depan, pangkas semua yang memberatkan. Termasuk yang memberatkan dunia investasi. Harus ada kepastian berusaha,” ungkapnya, Minggu (16/9) usai menghadiri Peresmian Masjis Nurul Amal di Makassar.
Dia melanjutkan, pada Sabtu pekan lalu, saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Bulukumba, dia menemukan keluhan terkait pengurusan ijin Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang berbelit-belit.
“Sudah tiga minggu tidak turun izinnya. Kasihan kan. Padahal anggarannya sudah siap. Tapi prosedurnya tidak jelas kapan terbit. Tertunda terus,” ungkapnya.
Mendapat laporan itu, lelaki yang juga akrab disapa Prof Andalan itu menginstruksikan kepada semua OPD agar segera melakukan penyederhanaan dan berikan kepastian soal layanan.
Dia juga menekankan, ke depan, ASN harus lebih inovatif memberi layanan. Jangan hanya terfokus pada persoalan kenaikan pangkat. Dia memerintah BKD dan bagian kepegawaian di setiap OPD yang mengurus hal itu. Alasannya, karena menyita waktu ASN yang seharusnya memberikan pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, dipastikan akan ada biaya yang dikeluarkan ASN untuk mempercepat pengurusan kenaikan pangkat. Itu menjadi celah bagi orang untuk menyogok atau melakukan pungutan liar (pungli).
“Jadi ke depan, jangan lagi ada ASN yang mengurus sendiri kenaikan pangkatnya. Serahkan saja kepada BKD. Supaya bisa fokus kerja melayani masyarakat,” ungkap Nurdin.
Orang nomor satu Sulsel itu menyampaikan, sebagai gubernur, dia harus mendukung terciptanya iklim kondusif bagi dunia usaha dan industri.
Selain melakukan efisiensi terhadap birokrasi, Nurdin juga fokus pada pembangunan koneksitas di daerah pariwisata. Seperti Bulukumba, Tana Toraja, dan Selayar. Seperti yang ditunjukkannya saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Bulukumba dalam rangka menutup ajang tahunan Festival Phinisi di Pantai Bira.
Dia berjanji akan secepatnya membangun bandara di Bira agar askes wisatawan untuk ke sana bisa lebih muda.
Selain itu, jalan darat menuju ke lokasi pariwisata harus dibenahi. Menurut dia, dibandingkan Bali, kunjungan wisatawan yang ke Sulsel jumlahnya jauh lebih sedikit. Wisatawan ke Bali 4,5 juta, sedangkan Sulsel hanya 0,4 persen dari jumlah tersebut.
“Ini karena ke Bali, semuanya kemana-mana mudah, makanya Bulukumba harus diperjuangkan,” ujarnya.
Ia berjanji diera kepemimpinannya, akan menyelesaikan infrastruktur di Bira, menghadirkan pasar seni, tempat parkir yang besar, jalan bagus dan juga bandara yang akan dihadirkan.
“Inshaallah bersama Pak Bupati akan berjuang menghadirkan bandara Bira. Jadi beri kesempatan Pak Gubernur dan Pak Bupati, kami akan all out, kalau bukan 2019, ya tahun 2020, ini karena Bira sudah menjadi aset dunia,” kata Nurdin Abdullah.
Fokusnya juga mengembangkan lokasi pembuatan kapal pinisi. Dimana dapat menjadi alternatif wisata yang berkunjung ke Sulsel.
Senada dengan gubernur, Wakil Gubernur Andi Sudirman Sulaiman juga memberi perhatian khusus bagi kepariwisataan di Sulsel.
Dia mengajak masyarkat untuk mengunjungi Tana Toraja, Kabupaten Kepulauan Selayar, hingga Luwu Timur. Toraja terkenal dengan wisata budaya dan keindahan alamnya, Selayar dengan wisata maritim, dan Danau Matano yang merupakan danau terdalam ada di Luwu Timur.
“Selain Toraja, kami punya Kepulauan Selayar yang luar biasa. Kita bisa kasi makan ikan hiu secara langsung. Disana ada destinasi yang indah. Garis pantainya sangat panjang. Disana ada bandara, bisa naik pesawat kesana. Dan bisa agendakan untuk bersepeda disana,” ujarnya saat mengikuti kegiatan bersepeda dengan komunitas sepeda lipat pada Sabtu pekan lalu.
Ia mengungkapkan, pemerintah provinsi dibawah kepemimpinan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, akan mengembangkan sektor pariwisata. Namun, ada beberapa kendala yang dihadapi. Mulai dari akses transportasi, akomodasi, hingga informasi.
“Inilah yang harus kita fasilitasi. Ke depan, kita akan buat wisata yang terkoneksi untuk memudahkan para wisatawan,” ungkapnya. (rhm)
Pangkas Birokasi Panjang dan Mahal
