HARI ITU tepat pukul 12:00, di SMPN 10 Kota Makassar, penulis mendengar cerita dan pengisahan dari Benyamin Bunga di kantin sekolah, samping ruang kelas. Namun tiba-tiba nada bel terdengar menandakan waktu istirahat siswa siswi berakhir.
Laporan: ARIF AL QADRY
Satu per-satu siswa membubarkan diri dari kantin menuju masuk ke dalam ruang kelas. Kantin yang tadinya ramai dikerumuni siswa, secara perlahan sepih berganti suara-suara siswa dari kelas yang diskusi dan menyahut soal dari guru kelas.
Sebenarnya bagi bapak dua anak itu, anak-anak di sekolah membantu mengobati rasa lelahnya usai bekerja membersihkan dari pagi. Candaan anak-anak saat jam istirahat membuat dirinya merasa terhibur. Seakan sarat bahwa pekerjaanya dan tugas masih sangat dinikmati.
“Saya tidak pernah bosan karena banyak adik-adik selalu menghibur dengan candaan waktu istirahat. Kalau masalah buang sampah sembarangan, saya lihat mereka sudah sadar semua jaga kebersihan yang bukan hanya di lingkungan sekolah, tetapi di manapun,” ucap Benyamin.
Menjadi petugas keamanan dan tukang bersih di sekolah buat Benyamin sudah menjadi pilihannya. Tinggal dalam sekolah juga sudah ia mulai tahun 2006 lalu bersama pamannya. Satu tahun setelah tamat Sekolah Menengah Pertama (SMA) Toraja, pada tahun 2004.
Semenjak tinggal dalam sekolah di SMPN 10 Kota Makassar mengikuti tawaran keluarganya (paman) yang 30 tahun dipercaya menjadi penjaga sekolah, dia banyak ikut membantu membersihkan setiap ruangan sekolah sesuai apa yang menjadi tugas pamannya. Dari situ pula namanya dikenal warga dalam sekolah (guru-guru dan siswa) dan warga-warga di luar sekolah.
Empat tahun berada di Makassar ikut membantu pamannya membersihkan sekolah, keluarga dari kampungnya di Toraja menelepon. Neneknya di kampung memintanya ikut sekolah pelayaran di Barombong dengan biaya ditanggung neneknya.
Cukup lama waktu dibuang Benyamin berpikir dan memberikan kata iya kepada nenek dan keluarga-keluarganya. Setelah merasakan semakin banyak paksaan-paksaan masuk, dengan sangat terpaksa dan berat hati menerima permintaan keluarganya masuk sekolah pelayaran ikuti jejak keluarganya yang sudah banyak berlayar.
Pendaftaran di sekolah pelayaran dilakukan sama pamannya. Dan setelah dinyatakan lulus, akhirnya mengikuti proses pendidikan dan pelatihan. Salah satu yang diikuti yaitu Basic Safety Training (BST). Hingga semua proses pendidikan dan pelatihan berhasil dilalui, izin berlayar diberikan padanya.
“Tahun 2011 pengalaman pertama saya berlayar, tapi masih di Indonesia. Selama delapan bulan saya di kapal keliling pulau. Dari satu pulau ke pulau lain, seperti Serang. Kapal saya dulu muatan kayu ke pulau pulau, perusahaannya PT Jayanti Group. Itu pelayaran perdana dan terakhir saya. Selesai dari pelayaran perdana itu, kontrak habis, saya tidak mau lagi cari kapal. Saya pilih saja bekerja di darat saja,” akunya.
Tidak betah di laut jadi alasan untuk hengkang dari pekerjaannya sebagai anggota di kapal dan memilih mencari pekerjaan di daratan. Gaji bekerja di kapal digunakan untuk memenuhi keperluan hari-harinya apalagi dia masih tinggal bersama sama pamannya di sekolah dan membantunya.
“Saya ketemu dengan istri saya sewaktu saya bekerja di tempat makanan di Jalan Irian. Kebetulan tempat kerja istri saya berhadapan dan akhirnya saya menikah. Tapi sebelumnya saya masuk muslim sesuai agama diyakini istri saya. Jadi saya ini mualaf ikut dengan istri yang muslim dan asli Makassar,” tambahnya.
Memasuki tahun 2013, dia kemudian mengajukan surat permohonan menjadi tukang bersih di sekolah dan ikut bersama pamannya. Kemungkinan pihak sekolah sudah mempercayai pamannya Benyamin, hingga kemudian menerima untuk dipekerjakan. Sementara istrinya tinggal bersama orang tuanya di Kabupaten Gowa.
“Januari 2018 bukan lagi jadi tukang bersih, saya dapat kepercayaan menjadi security gantikan om saya yang meninggal. Untungnya kamar atau tempat tinggal di sekolah gratis, listrik dan air. Sehingga gaji saya bisa digunakan makan dan tabungan anak-anak,” ujarnya. Benyamin Bunga, dia sudah sekitar enam tahun menekuni pekerjaannya sebagai penjaga keamanan (Security) dan tukang bersih sekolah di SMP Negeri 10 Kota Makassar, Jalan Andi Tadde, Kecamatan Bontoala. Melihat pengalaman kerjanya tidak singkat, dimulai sejak 2013.
Pria kelahiran Toraja, 12 April 1979 nampak lincah dan semangat bekerja mengumpulkan sampah-sampah plastik, kertas dan jenis sampah lainnya.
Tanpa kecuali, semua jenis sampah baik itu kertas, plastik bekas minuman dan makanan dikumpul di tempat sampah yang telah tersedia depan masing-masing ruangan kelas. Warna tempat sampahnya seragam yakni hijau.
Usai menyapu lorong depan ruangan kelas, tugasnya masih berlanjut. Sampah yang ada di penampungan kemudian di pilah sesuai jenisnya. Hanya sampah-sampah jenis tertentu saja di ambil seperti sampah plastik bekas minuman, alumunium dan karton jika ada. Sedangkan sampah bukan daur ulang dibuang.
Hasil pengumpulan dan pemilahan sampah-sampah plastik dapat timbang di bank-bank sampah. Uang yang didapatkan menambah-nambah penghasilan gaji bulanan yang di terima sebesar Rp1,7 juta tiap bulan untuk dua devisi yakni, pengamanan sekolah (security) dan tukang bersih bersih sekolah yang di bayar setiap triwulan. Tergantung kondisi keuangan kas di sekolah.
Untung saja, baik gaji sebagai security sebesar Rp1,2 juta maupun gajinya tukang bersih sekolah sebesar Rp500 ribu tidak pernah telat terbayar. Jadi semua kebutuhan keluarga khususnya biaya sekolah anak-anaknya tetap baik. Begitu juga dengan kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya. Apalagi satu orang anaknya sudah duduk Taman Kanak-kanak (TK) di Kabupaten Gowa.
“Dari 2013 saya resmi di terima kerja di sini (SMPN 10 Makassar) tapi gaji dulunya masih Rp225 ribu dan cuma jadi tukang bersih sekolah, belum nyambi di security. Tahun 2018 ini gaji saya mulai naik dan dapat kepercayaan menjadi security. Alhamdulillah saya bisa nafkahi keluarga dan sekolahkan anak saya,” ucap Benyamin.
Masih di tempat yang sama, samping ruang kelas di kantin sekolah, dia kemudian menunjukkan tempat tinggalnya. Sebuah ruangan tidak begitu luas yang hanya 2,5 meter lebar dan 3 meter panjang menjadi kamarnya. Lokasinya masih berada dalam sekolah. (arf)
