MAKASSAR, BKM–Tak mau berlama-lama pascadilantik, Kepala Kecamatan Tamalanrea, Muhammad Rheza langsung tancap gas. Sejumlah program mulai dia laksanakan seperti meluncurkan program pelatihan mengaji untuk para staf keluarahan dan kecamatan.
Sejak menjadi Sekertaris Kecamatan Tamalanrea, gagasan ini sudah dijalankannya, dengan alasan ingin mendekatkan para stafnya kearah spiritual dan keagamaan. Jika program lain menurutnya sudah biasa, dan sudah menjadi tanggung jawab pegawainya melayani masyarakat.
“Sekarang yang saya lagi garap program pendekatan spiritual, utamanya kepada para pegawai di keluarahan dan Kecamatan Tamalanrea. Kalau yang lain seperti pelayanan dan melaksanakan program kota tidak ada ji berubah dan rutin semua berjalannya,” ungkapnya saat ditemui di ruangannya di kantor Kecamatan Tamalanrea Makassar, Selasa (25/9).
Hanya saja, saat ini, ia lebih konsen memperbaiki lagi akidah dan akhlak pegawainya dari segi pendalaman agama. Apalagi menurutnya, banyak pegawai kecamatan dan kelurahan yang sudah tidak bisa membaca Al-quran dan lupa baca tajwid. Olehnya itu, ia mewajibkan stafnya mengikuti pelatihan tersebut.
“Tidak ada ji program baru, yang baru itu hanya membuka ruang belajar untuk para pegawai belajar mengaji. Ini saya buka untuk staf kecamatan dan kelurahan juga. Sudah ada 12 perempuan dan 16 laki-laki, intinya sekarang ini banyak mi yang buta huruf baca Al-Quran,” katanya.
Jika ia memperbaiki sistem kerja di kelurahan dan kecamatan terlebih dahulu memperbaiki sikap dan akhlak staf dari dalam terlebih dulu.
“Saya fokus di situ dulu. Percuma baik di luar tapi di dalam rusak. Saya mulai lakukan gerakan pelatihan mengaji ini sejak desember. Apalagi semenjak saya jadi sekcam sampai jadi camat pelayanan sudah alhamdulliah bagus mi, dan sudah berlakukan,” tambahnya.
Dilain pihak tugasnya mengabdi kepada negara dan melayani masyarakat, tentu banyak menguras tenaga dan waktu. Khususnya waktu kepada keluarga, dimana tidak ada lagi ruang untuk menikmati kumpul keluarga lagi.
“Kalau ditanya soal waktu sama keluarga, jelas tersita apalagi kalau ketemu sama anak hanya di pagi saja sebelum mereka ke sekolah. Kalau malam saya pulang mereka sudah tidur. Sabtu minggu biasanya saya ke mall atau ke rumah neneknya saja,” bebernya.
Maka tak jarang ia sering mendapatkan protes dari anggota keluarganya, khususnya ketiga anaknya, yang sering mempertanyakan waktu ayahnya yang jarang kumpul lagi bersamanya.”Protes anak itu sering karena jarang ketemu dan jarang dibawah jalan-jalan lagi dibanding sebelumnya,” ucapnya.(ita)
Buka Pelatihan Mengaji Bagi Staf Camat dan Lurah
