Site icon Berita Kota Makassar

Bangun Pusat Logistik Berikat untuk Tekan Biaya

MAKASSAR, BKM — PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) berencana membangun Pusat Logistik Berikat (PLB) di Pelabuhan Makassar, untuk efisiensi biaya logistik bagi para stakeholder.
Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang mengatakan pembangunan PLB di Pelabuhan Makassar akan melibatkan seluruh instansi dan stakeholder terkait.
Dia menuturkan, Pusat Logistik Berikat nantinya dapat mendorong meningkatnya perdagangan Indonesia Timur ke pasar global. Ketiga, akan banyak manfaat yang dapat diperoleh oleh pengguna PLB, di antaranya penangguhan Bea Masuk (BM) dan tidak dipungut Pungutan Lain Dalan Rangka Impor (PDRI), penundaan pembayaran BM-PDRI saat pengeluaran dan lain-lain.
“Dengan berdirinya PLB dapat menekan risiko fluktuasi harga bahan baku dan kepastian tersedianya pasokan bahan baku dalam waktu singkat,” ujarnya, Kamis (27/9).
Dia menyebutkan, untuk membangun Pusat Logistik Berikat, pihaknya melakukan investasi dengan menyiapkan lahan sekitar area Pelabuhan Makassar seluas 3 hingga 4 hektare. Pihaknya berharap, PLB yang akan dibangun nanti akan menjadi hub PLB di Kawasan Indonesia Timur (KTI). “Dan bisa menjadi contoh bagi pelabuhan-pelabuhan yang lain di KTI.”
Farid menekankan bahwa kehadiran PLB akan meringankan beban bagi stakeholder karena bisa mengefisiensi biaya logistik, Apalagi, pihaknya juga akan menerapkan free Bea Masuk (BM) bagi stakeholder pada tiga tahun pertama.
Dia juga menuturkan, pembangunan PLB di Pelabuhan Makassar adalah untuk peningkatan pelayanan yang lebih baik di Indonesia Timur.
Kepala Otoritas Pelabuhan Utama Makassar, Rahmatullah mengatakan melihat nilai ekspor utamanya dari Pelabuhan Makassar yang semakin tinggi, maka ide membangun PLB adalah sesuatu yang akan sangat menguntungkan.
“Tentunya menguntungkan bagi semua pihak, terlebih bagi stakeholder sebagai pengguna jasa kepelabuhanan,” ujarnya.
Sesuai arahan Presiden RI, Joko Widodo, ekspor dan investasi merupakan kunci pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut orang nomor satu di Indonesia ini, potensi pasar non tradisional perlu digali dan dikembangkan. Sehingga, perlu terobosan untuk menggenjot kinerja ekspor ke negara non tradisional.
Di Sulawesi Selatan, menurut data yang ada, tujuh besar komoditas ekspor yang melalui pintu Pelabuhan Makassar terus menunjukkan angka peningkatan yang cukup signifikan beberapa tahun belakangan ini, yaitu rumput laut, marmer, cocoa beans, ikan beku, biji mente, plywood dan marble yang masing-masing peningkatan ekspornya berada diangka 144 persen, 186 persen, 198 persen, 178 persen, 625 persen, 231persen dan 35 persen pada 2017 lalu.
Sekadar perbandingan, untuk ekspor komoditas rumput laut, tahun 2016 lalu hanya mengalami pertumbuhan sebesar 66 persen. Pada 2017, angka pertumbuhannya meningkat jadi 144 persen.
Kemudian ekspor marmer yang berada diangka pertumbuhan sebesar 186 persen pada 2017. Angka itu melesat jauh dari pertumbuhan yang berhasil diraih pada 2016, yaitu hanya 43 persen. (rhm)

Exit mobile version